Masih seperti hari kemarin, menantimu hadir di sini
Walau tak pernah kau sadari
Tak mungkin aku yang terlebih dulu menyapa
Lidahku terlalu kelu untuk sekedar menyebut nama
Dan kau terlalu tinggi untuk kujaga
Namun tetap saja, terima kasih pernah ada
Walau tak pernah menyadari, aku pun ada
Aku meletakkan note book ketika kau akhirnya datang, berlari-lari kecil
menyusuri jalanan di antara peluk pepohonan taman. Aku tetap mengamati, duduk
bersanggahkan kursi besi, beberapa meter dari tubuh tegapmu yang kini melakukan
stretching di seberang. Masih dengan setumpuk harapan yang sama dari hari ke
hari, agar kau bisa menoleh dan sadar akan hadirku.
Setiap hari, bahkan ketika embun masih menguasai mulut dedaunan, aku
selalu di sini. Tak usah menanyakan sejak kapan, bahkan angka-angka yang
berbaris pada penanggalan tak mampu menjabarkan. Dan kau, alasan keberadaanku
tak sedikit pun menyadarinya. Tak apa, asal sosokmu bisa kunikmati saja.
Kubuka lagi lembar demi lembar pada buku catatan mini yang menjadi objek
segala curahan hati selama ini, yang hanya kutulis tanpa bisa
kuungkapkan—sampai kapan jua. Pada lembar pertama, ada setitik noda yang
membuat satu kata di sana menjadi buram. Noda bekas air mata yang kulepas untuk
seseorang yang bahkan tak kutahu namanya.
Sebelumnya, aku tak pernah berani untuk jatuh cinta
Untuk apa membiarkan diri jatuh, sementara tak ada yang
menyambut?
Sia-sia
Aku terlalu takut jika ada yang menyadari perasaanku
nanti
Takut ia akan menanyakan sesuatu tentang hati
Bagaimana aku bisa menjawab pada akhirnya?
Bagaimana jika ia menyadari aku bahkan tak bisa untuk
sekedar melafalkan namaku sendiri?
Bagaimana jika ia tak beda dengan lelaki lain, pergi
begitu saja?
Karena itu, aku tak pernah berani untuk jatuh cinta
Karena itu juga, tak apa jika kau tak pernah menyadari
hadir
Agar aku tak susah-susah meladenimu nanti
Dengan bibir yang tak akan menyapa—bahkan tak bisa
sekedar mengucap nama
Bahagiaku cukup duduk di sini, menanti. Menikmati. Tanpa
minta disadari.
Sebuah bingkisan dari @kopdarfiksi Makassar bersama Bernard Batubara
Senyum Raina spontan menyambutku ketika lonceng di atas pintu Woody Moody berdenting singkat kala kusingkap. Aku menghampirinya yang setia berdiri di balik meja, lengkap dengan segaris senyum dan macbook di pelukan.
"Segelas ice moccacino lagi?" sapa perempuan berseragam krem tersebut.
Kuanggukkan kepala satu kali. "Oh, iya. Ada sumbangan buku lagi hari ini?"
"Iya, bukan pasar malam-nya Pram. Harta karun yang kaucari selama ini," jawab Raina seraya mengerling singkat ke rak mini di sudut ruangan.
"Lalu..." Aku menaikkan sebelah alis, membiarkannya menebak ujung kalimatku. Kalimat yang --aku tahu-- sudah bosan ia dengar setiap hari, tepat jam tujuh pagi.
"Tunggu," Raina langsung menghilang ke balik pintu berbahan kayu di belakangnya. "Ini, small pizza dengan kecap, sarapan ajaibmu. Sudah kusiapkan sebelum kau datang."
"Kau memang yang terbaik. Andai ada lelaki sepertimu, pagiku pasti akan lebih indah. Pusat hidupku bertambah."
"Bukankah kau bilang hanya butuh segelas moccacino dingin, buku, dan pizza berkecap agar harimu bahagia?"
Aku kembali mengangguk, lebih semangat dari awal tadi. Kedua sudut bibirku pun membentuk lengkung sempurna. "Yah, kau benar. Aku tak butuh laki-laki ternyata."
Tiara melirik
jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya, entah untuk yang keberapa kali.
Di luar rumah, tetesan air masih mengguyur dengan ramainya. Ia tidak pernah
membenci hujan jika saja tak datang untuk menghalangi perjalanan pentingnya,
seperti saat ini.
Handphone di
genggamannya pun tak henti-hentinya bernyanyi. Ia tahu, Dika pasti sama
paniknya dengan dirinya sekarang. Pesawat yang akan membawa lelaki itu ke
Jogjakarta akan lepas landas pukul enam petang, dan ia masih dihadang hujan
sementara kini jarum jam sudah hampir mengenai angka lima. Belum lagi
perjalanan ke bandara yang bisa memakan waktu satu jam atau lebih jika macet
ingin turut campur dengan harinya. Tanpa sadar, Tiara sudah menggigit handphone
berwarna putih di tangan kanannya tersebut—menahan amarah.
Lo
naik angkot ke depan kompleksnya Riri, ya.
Gue
gak bawa mantel, di sini masih deras.
Oh, bahkan
sahabat yang ia harapkan akan memperlancar perjalanannya pun turut berkonspirasi
untuk memakan waktu lama. Baru saja akan menelepon Rega—sahabat yang baru saja
mengiriminya pesan singkat itu—handphone miliknya kembali berdering. Dika calling...
Belum sempat
mengucapkan salam pembuka, lelaki itu sudah menyerangnya dengan rentetan
kalimat yang diredam suara hujan. Tiara mendengus pelan, mengapa lelaki yang
sudah menjadi kekasihnya hampir tiga tahun ini tak bisa menunggu dengan sabar?
“Iya, iya. Aku
naik angkot ke rumahnya Riri, pacar Rega. Habis itu baru diantar ke bandara.
Tunggu aja, aku pasti datang.”
***
Terima
kasih pada Rega yang seharusnya menjadi pembalap moto gp saja daripada
mahasiswa teknik, dia lebih ahli dalam menaklukkan jalanan raya daripada
perangkat-perangkat lunak komputer. Buktinya hanya dalam waktu setengah jam,
Tiara sudah melangkah menghampiri keluarga besar Dika yang duduk bersisian di
beranda depan bandara Sultan Hasanuddin.
“Kok lama, Ra?”
sapa Mbak Lia, kakak ipar Dika sembari bertukar ciuman pipi dengan Tiara.
“Iya, tadi di
rumah hujannya deras banget, Mbak.” Perempuan berjilbab dengan tubuh mungil itu
pun duduk di antara keluarga besar kekasihnya, membaur layaknya keluarga
sendiri. Yah, dirinya memang sudah dekat dengan keluarga tersebut sejak awal
masa pacarannya bersama Dika.
Sosok Dika
muncul tak lama kemudian, langsung mengambil tempat di sebelah kanan tubuh
mungil Tiara. Tiara menghela napas panjang, mencuri aroma parfum lelaki itu
agar tetap tinggal di indra penciumnya selama raga tersebut menetap di
Jogjakarta nanti. Ah, ia membenci dirinya yang berubah melankolis akhir-akhir
ini. Ini sudah kali kedua ia melepas kepergian Dika di bandara, namun mengapa
kini ada perasaan tak rela yang menyusup diam-diam? Bukankah pada akhirnya dia
juga akan kembali ke dalam pelukannya lagi?
“Daripada kalian
lihat-lihatan begitu, kenapa gak pelukan aja, sih? Mumpung pesawatnya belum
berangkat,” tegur Mas Fian, sepupu Dika.
Tiara kontan
menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Sementara Dika
langsung mengelus puncak kepala yang tertutup jilbab polos berwarna kuning
tersebut. “Gak boleh, Kak. Kan lagi puasa.”
***
Makassar,
17 Juli 2013
Thanks
Tari J
Sms
yang baru saja masuk ke dalam kotak pesan pada handphone Tiara barusan sempat
membuatnya sulit bernapas untuk beberapa saat. Tari? Ia membenci nama itu.
Tidak ada yang salah memang, hanya saja tak ada perempuan lain bernama Tari di
kehidupan Dika selain sahabat semasa SMA lelaki itu. Sahabat yang juga
merupakan sahabat dari mantan kekasih Dika sebelum Tiara. Lalu mengapa
sekarang...
Sorry,
sayang. Tadi salah kirim.
Ini
sudah kali kedua Dika mengirimkan pesan berisi nama Tari ke handphone-nya.
Sesering itukah keduanya saling mengirimkan pesan singkat? Bukankah dirinya
sudah berulang kali melarang Dika berhubungan dengan perempuan itu? Yah,
silakan sebut ia egois. Ia hanya tak ingin ada perempuan lain yang menikmati
perhatian dari pacarnya sendiri. Ia tak ingin ada perempuan lain yang merasa
diistimewakan selain dirinya, tidak pula untuk kategori ‘hanya sahabat’ yang
selama ini dijadikan Dika sebagai tameng antara dia dan Tari-Tari ini.
Tidak,
Tiara tak pernah sekali pun menyangsikan cinta Dika padanya. Bagaimana ia bisa
ragu jika seluruh keluarga besar keduanya sudah merestui hubungan mereka?
Bagaimana ia bisa ragu jika Dika selalu membanggakannya di depan sahabat-sahabatnya?
Bagaimana ia bisa ragu jika Dika selalu mencurahkan semua perhatian dan kasih
sayang hanya pada dirinya? Dika menghabiskan waktu-waktu yang seharusnya ia
gunakan untuk beristirahat dari rutinitas kerja dengan bertukar kabar maupun
saling mengucap rindu melalui sambungan telepon atau internet, lalu bagian mana
yang ingin ia ragukan?
Ya, sebut ini
sebagai perasaannya saja. Tak mungkin Dika menyiakan kepercayaan darinya, dari
keluarganya, dari janji menghabiskan usia mereka sejak hampir tiga tahun yang
lalu. Persetan dengan ungkapan ‘insting perempuan tak pernah salah’, ia hanya
ingin memercayai Dika. Hanya Dika pusat rotasinya saat ini.
***
Makassar,
2 Agustus 2013
Tiara
pikir, kepulangan Dika ke Makassar adalah momen bahagianya setelah dipisah
jarak selama hampir satu bulan. Tak bertemu sehari saja dengan orang yang
dicintai serasa mencekik hingga nyaris memutus urat nadi. Ia benci perasaan
rindu yang menggebu-gebu, dan tak bisa bertemu untuk membunuh rindu itu. Namun
jika kembali bertemu, yang ia kira bisa melepas rindu tersebut berubah menjadi
ajang adu emosi, sepertinya sia-sia saja sabar menunggu.
Sepulang dari
acara buka puasa bersama dengan keluarga Dika, Tiara dan lelaki itu melanjutkan
pertengkaran mereka di rumah Tiara yang sepi.
“Pokoknya aku
gak akan pernah suka kalo kamu masih suka jalan bareng Rega, ya.”
“Rega itu
sahabatku dari SMP, Dik. Lagian
aku perginya rame-rame sama sahabatku yang lain, dia udah punya pacar. Bukannya
kalian juga udah kenal, kan?”
“Tetap aja aku
gak suka, dia kan cowok.”
“Terus apa
bedanya dia sama Tari? Dia juga cewek, dan kamu selalu bilang ‘kami cuma
sahabat’ kalo aku ngomongin dia. Seharusnya kamu juga mikir gitu kalo mau nuduh
aku sembarangan!”
Dika mendengus
pelan menanggapi rentetan kalimat Tiara yang disertai teriakan penuh emosi
barusan. Ini bukan kali pertama mereka beradu urat selama berpacaran. Tak
heran, putus pun selalu menjadi jalan akhir. Bukan mengakhiri cinta sebenarnya,
namun lebih untuk menahan ego sementara waktu. “Jadi, kamu lebih pilih Rega... atau
aku?” tandasnya kemudian.
“Dika, stop
berpikiran kekanak-kanakan, deh! Kamu juga mau, kalo aku suruh pilih Tari atau
aku? Hah?”
“Aku sekarang
minta kamu memilih, bukannya malah balik nanya.”
Tiara menatap
Dika dengan kedua mata menyipit, bahu naik-turun, dan napas yang mulai tak
beraturan. Ia membenci Dika yang berubah egois seperti ini, berubah egois
ketika dirinya sendiri juga tak mau mengalah.
“Oke, karena
kamu diam, aku rasa aku udah tahu jawabannya...” lelaki berkaus polo itu
bangkit dari sofa ruang tamu rumah Tiara yang biasanya menjadi saksi hari-hari
penuh cinta mereka. “Aku pergi, berhenti berhubungan sama keluargaku. Semoga
kamu bahagia sama pilihanmu.”
Tiara menatap
punggung yang menghilang di balik pintu rumahnya tersebut dengan nanar. Ia ikut
bangkit, berniat menyusul sosok Dika dan menjelaskan perasaannya. Namun
alih-alih melangkah, ia malah meluruh, bersatu dengan lantai marmer ruang tamu.
Tak bisakah
mereka menjalani hubungan seperti orang-orang berpikiran dewasa lain? Tak
bisakah Dika menyadari perasaannya yang tak tertandingi oleh apapun lagi? Tak
bisakah mereka berhenti saling menghakimi hal-hal yang sudah jelas dalam
hubungan mereka selama ini?
Perempuan itu
tak menyadari isakan yang sudah keluar dari bibir mungilnya, sementara ia
memeluk tubuhnya sendiri. Di antara wajahnya yang tersembunyi di balik kedua
lutut, ia berharap Dika datang lagi. Meminta maaf, dan menyalurkan hangat dari
rengkuhan kedua tangannya. Ia tak kuat memeluk dirinya sendiri saat ini. Ia
mencintai Dika dengan seluruh hidupnya, ia membutuhkannya.
***
Makassar, 10 September 2013
Tiara
membenci dirinya yang dengan mudah memberi maaf pada Dika. Ia membenci dirinya
yang tak bisa bertahan lama tanpa sosok lelaki itu. Ia membenci dirinya yang
terlalu percaya, terlalu menyayangi lelaki yang belum genap tiga tahun
dikenalnya. Ia membenci dirinya yang kini semakin lama, semakin sadar bahwa ia
tak bisa hidup tanpa kebiasaan-kebiasaannya selama menjalin hubungan dengan
Dika.
Dan di sinilah
ia sekarang, sebuah restoran fast food bersama Dika yang baru semalam
dimintanya kembali. Dengan menurunkan segala ego, harga diri, atau apapun yang
orang lain sebut, ia memang yang pertama kali meminta Dika kembali menjadi
kekasihnya. Sudah lewat sebulan dari perpisahan mereka, di malam anniversary
mereka yang ke-34 bulan, dan menunggu Dika yang menghubunginya duluan sama saja
dengan sia-sia.
“Kamu udah gak
sayang sama aku, kan? Makanya sampai sekarang kamu gak minta balikan kalo bukan
aku yang minta,” ujar Tiara sambil menggigit potongan kentang goreng di antara
telunjuk dan ibu jari tangan kanannya.
“Siapa bilang?
Kamu jangan bikin selera makanku hilang, deh.”
“Terus kenapa
kamu gak minta balikan duluan? Dulu-dulu kan biasanya begitu.”
“Masa hal kayak
begini harus kita debatkan lagi, sih? Capek, Ra.”
“Aku cuma nanya.
Aku gak mau bikin asumsi sendiri, karena aku gak mau sakit hati lagi sama
pikiranku yang macam-macam tentang perasaan kamu.”
Dika menyesap
cangkir yang masih mengepul di hadapannya. Kemudian menumpukan kedua sikunya ke
atas meja sembari menumpahkan seluruh perhatiannya pada Tiara. “Aku cuma mau
ngasih kamu sedikit pelajaran. Lagian aku tahu gimana kamu yangn gak bisa
jauh-jauh dari aku. Jadi cepat atau lambat, kamu yang ngehubungin aku duluan.
Iya, kan?”
Tiara menepis
jemari Dika yang berjalan di puncak kepalanya yang siang ini dihalangi jilbab
merah muda. “Oh, jadi karena kamu tahu aku gak bisa jauh dari kamu, makanya
kamu manfaatkan momennya, begitu? Aku jadi heran, jangan-jangan... kamu udah
gak sayang sama aku, ya?”
Lelaki berkemeja
biru dongker tersebut meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring dalam
keadaan menelungkup. “Tiara, stop this topic, please. Udah, deh. Aku mau ke
kamar kecil dulu.”
Perempuan
berjilbab itu menatap punggung bidang yang menjauh tersebut hingga hilang di
bagian dalam restoran. Ia menghela napas panjang, memikirkan dirinya yang
terasa menyedihkan. Apa benar hanya dirinya yang bertahan? Apa lelaki itu sudah
lama berhenti memperjuangkan?
Bunyi singkat
dari smartphone di atas meja membuyarkan lamunan Tiara. Ia pun meraih gadget
milik Dika, lalu melihat notifikasi yang masuk; hanya broadcast tidak penting.
Jemarinya kini menari di atas touch-screen, melihat nama-nama yang berada di
daftar percakapan lelaki itu. Entah naluri dari mana, pandangannya langsung terpaku
pada satu nama di sana. Utari Ramadhani.
Utari
Ramadhani:
Oh,
jadi hubungan kita selama ini kamu anggap apa? Aku kecewa sama kamu, Dik.
Andika
Saputra:
Sorry,
Tar. Aku beneran gak ngerti juga, aku harap kamu ngerti sama keadaanku. Kita
lihat ke depannya gimana aja, ya.
“Kamu
ngapain?” tegur Dika sambil merebut paksa smartphone miliknya dari genggaman
Tiara yang balik menatapnya dengan mata yang mengerjap beberapa kali.
“Kamu... chat...
aku...” Tiara menelan ludah seraya bangkit dari duduknya. Ia harus berpegangan
pada meja saat menyampirkan tasnya, takut lututnya tak sanggup lagi menopang
tubuh. “Thanks, Dik.” Ia buru-buru berlalu sebelum butiran bening itu meluruh
dan membanjiri pipinya. Ia perempuan yang kuat, ia tak boleh membuat Dika
semakin bangga atas kelemahannya. Bukan perempuan namanya kalau tidak menangis
untuk meluapkan kekecewaan, ia membatin seraya terus melangkah ke tepi jalan
raya.
“Tiara! Stop act
like a kid, please!” Dika sudah mencekal lengannya, menyejajarkan langkah tepat
di sisi tubuh mungil perempuan itu.
“Lepas, Dika.
Jangan bikin aku sama kamu malu di tengah jalan begini.” Tiara membenci kata
kita untuk kalimatnya barusan.
“Kamu lihat apa
di handphone-ku? Chat sama Tari? Oh, God..., itu udah lama. Sejak aku masih di
Jogja. Sekarang kami udah gak ada apa-apa lagi.”
“Jadi dulu
kalian ada apa-apa, begitu?” Tiara memilih berhenti, memasang ekspresi yang
sukar dibaca, dengan suara pelan. Ia tak mau orang lain mencuri dengar, apalagi
di tengah keramaian seperti ini.
Dika melepaskan genggamannya pada lengan tirus
Tiara setelah yakin perempuan itu tak akan lari lagi. “Enggak sama sekali. Aku
sama dia cuma sahabat, dan seterusnya begitu. Kamu jangan mikir macem-macem,
deh.”
***
Makassar,
11 September 2013
Tiara
menatap kalimat demi kalimat yang memamerkan diri di layar handphone-nya dengan
sendu. Ia ingin menangis, sungguh. Tak ada obat paling manjur untuk meredakan
kekesalan, kekecewaan, atau amarah melebihi air mata. Namun mengapa sekarang
kelenjar di ujung bola matanya ini seakan sedang absen bekerja? Kemana perginya
ia saat dibutuhkan? Sebagai ganti, ia pun memilih meninju dan menginjak boneka
tanpa dosa di lantai kamarnya. Boneka dari orang yang ia pikir masih, atau
mungkin pernah mencintainya. Cinta-kah selama? Ah, ia juga sangsi.
Perempuan itu
tak pernah mengira akan berkirim pesan singkat dengan perempuan yang beberapa
menit lalu pun masih ia benci. Perempuan itu tak pernah mengira bahwa yang
seharusnya ia benci adalah orang yang selama ini ia cintai.
Aku kira kalian udah putus, Ra. Dia
sendiri yang ngaku udah jomblo, makanya aku juga ngasih respon. Sumpah ya,
Ra..., dia yang pertama ngehubungin aku. Kalo aku tahu dia seberengsek ini,
mana mau aku dekat lebih dari sahabat sama dia.
***
Jogjakarta,
17 Juli 2013
Dika
dengan cekatan membalas pesan singkat dari Tari yang baru saja menyapa
smartphone miliknya. Ada pesan dari Tiara yang lebih dulu masuk, namun ia
memilih mendahulukan pesan Tari untuk dibalasnya. Yah, bukan hidup namanya jika
tak ada lebih dari satu pilihan.
Kamu
doain aku aja semoga sukses sama pekerjaan di sini.
Kalo
aku udah beneran mapan nanti, kan kamu juga yang seneng.
Aku
tinggal langsung lamar kamu, gak perlu pacaran ngabisin waktu gak jelas.
Sending...
sent to: Utari Ramadhani.
From
: Utari Ramadhani
Iya,
aku selalu berdoa buat kamu kok.
Janjinya
aku pegang, ya. Cepetan balik J
Benda
yang masih setia berada di genggaman Dika itu kembali berbunyi. Tiara kembali
mengiriminya pesan, mungkin heran mengapa pesan sebelumnya belum dibalas juga.
Thanks
Tari J
Sending...
sent to: Tiara Pratiwi.
***
Makassar,
28 Oktober 2013
Tiara
sudah merasa dirinya membaik, lebih baik dari terakhir kali ia menatap dirinya
di cermin. Yah, ia bermusuhan dengan cermin dua bulan ini. Tak ingin bertukar
pandang dengan dirinya sendiri lewat media kaca tersebut. Tak ingin menyadari
bintik-bintik merah yang memenuhi wajah dan lingkaran hitam yang menguasai area
matanya, juga tulang pipi yang semakin kentara. Ah, ia membenci masa-masa
menyedihkannya itu.
Hampir semua
manusia—termasuk Tiara di dalamnya—memang membutuhkan tamparan untuk
disadarkan. Bertahun-tahun mempertahankan hanya karena hitungan hari yang sudah
kepalang banyak, merupakan hal paling bodoh yang pernah ia lakukan. Entah sudah
berapa kali Tuhan menegurnya dengan cara halus untuk berhenti berjuang
sendirian, hingga akhirnya ditampar dengan kenyataan. Perih memang, namun
setidaknya ia akhirnya bisa membuka mata dan melapangkan dada.
Mungkin salah
Tiara karena terlalu percaya pada Dika, walau hal itu adalah poin penting dalam
setiap hubungan. Tapi setiap saat, kepercayaan bisa menjadi bumerang paling
menyakitkan yang akan berbalik pada diri sendiri. Seberapa besarnya kepercayaan
dan komunikasi, Tuhan selalu punya cara untuk menunjukkan sela yang mungkin tak
dapat kita temukan seorang diri.
Jangan
sebut-sebut nama Dika lagi padanya, ia sedang dalam tahap meng-amnesia-kan diri
sendiri. Walau ia tahu bahwa berusaha kuat untuk melupakan tak ada bedanya
dengan terus mengingat.
Cinta memang
tetap menjadi rahasia. Tapi menurut Tiara, kata ‘saling cinta’ hanya untuk
orang-orang yang beruntung saja. Menurut Tiara, terserah dengan pikiranmu.
Aku menyusuri trotoar yang
menghubungkan antara jalan raya dan taman kota di samping Fort Rotterdam. Lampu
jalan menyala temaram, memberi kesan romantis di dalam sini. Namun tidak di
dalam hatiku.
Seorang
lelaki tinggi dengan tubuh tegap dan rambut ikal berjalan menghampiriku. Di
tangannya sudah terdapat dua gelas dengan air berwarna merah muda dan coklat.
“Kita
duduk di sini aja, yuk!” ajaknya. Ia duduk duluan di salah satu bangku taman,
di bawah lampu dan beberapa tanaman hias di sekitar.
Aku
ikut duduk di sebelahnya. Yah, di samping lelaki bernama Putra yang telah
menjadi kekasihku dua tahun belakangan ini. Lelaki paling sempurna yang telah
menemaniku sekian lama, setelah Ayah tentunya. Lelaki yang telah menorehkan
segala macam warna di hidupku selama ini. Warna yang kini semakin lama semakin
buram, berganti putih, hitam, dan abu-abu. Iya, sedatar itu.
“Kok
es kelapa mudanya gak diminum? Bukannya kamu suka yang rasa gula merah?”
Suaranya menyentakku, memaksa untuk keluar dari alam khayalan.
“Oh,
iya...” Hanya itu balasanku seraya meraih gelas besar berisi es kelapa muda
tersebut. Salahkah jika aku sudah bosan menikmati es kelapa muda dari trotoar
di depan taman kota ini? Salahkah jika indra pengecapku menolak es kelapa muda
yang hampir setiap malam kucicipi? Salahkah jika hal-hal yang dulunya kucintai,
malah berbalik menjadi hal yang aku benci? Salahkah?
Tiba-tiba,
dering handphone milikku memecah
keheningan. Nada sms masuk. Aku segera membacanya setelah melihat nama yang
tertera di sana. Arya.
Kamu
lagi dimana?
Besok
jadi kan snorkling di Samalona?
Tanpa diperintah, jemariku dengan
spontan mengetik balasan untuknya.
Jadi kok
Jemput
jam 7 pagi aja
Sent.
“Siapa?” tanya Putra.
“Temen kuliah,” jawabku. “Oh, iya.
Besok aku mau ke rumah temen. Banyak tugas kampus yang harus dikerjain bareng.
Mungkin dari pagi sampe malem. Kalo aku gak bales sms atau telepon kamu,
artinya aku lagi sibuk kerja tugas, ya!”
***
“Udah siap?”
Aku
mengangguk mantap. Sampai lelaki itu meraih tanganku ke dalam genggaman
hangatnya pun, senyumku tak pernah luntur.
Lelaki
bernama Arya, mantan kekasihku yang saat ini sedang menghabiskan liburan di
Makassar dari aktivitasnya sebagai polisi di Jakarta itu pun membantuku menaiki
sebuah kapal yang tidak terlalu besar untuk mengantar kami ke Pulau Samalona.
Aku
tidak akan pernah bosan ke pulau dengan panorama indah tersebut. Walaupun nyawa
taruhannya, karena harus menyeberangi lautan luas untuk sampai ke sana. Namun
di situlah sensasinya, terombang-ambing di atas gulungan ombak dengan angin
yang bertiup kencang. Aku sampai harus terbentur beberapa kali ke dada Arya
yang bidang setiap kapal dengan dua puluhan penumpang itu miring karena
hantaman ombak.
“Mual,
gak?” tanyanya di tengan perjalanan.
Aku
menggeleng pelan. “Aku kan udah sering ke sini, udah biasa.”
“Bagus,
deh.” Ia mengusap kepalaku. Membuat rambut panjangku semakin berantakan.
Aku
tersenyum lagi. Nyaman selalu memenuhi hatiku setiap berada di sisinya. Tidak
ada rasa bosan, karena dia selalu tahu apa yang aku mau. Dari dulu, hanya dia
yang paling mengerti aku. Dia tahu kesukaanku pada traveling, bahkan selalu menemaniku melewatinya. Sedangkan Putra?
Dia terlalu mengkhawatirkanku. Dia tidak pernah memikirkan kepuasan yang ku
dapat setelah mendapatkan apa yang aku mau dari penyaluran hobi itu.
Kenapa
aku malah membedakan kekasih dan mantan kekasihku ini? Bukankah mereka memang
dua orang yang berbeda?
“Kamu
terakhir kali snorkeling kapan?”
tanya Arya. Memecah lamunan panjangku.
Aku
berpikir sejenak. “Tahun baru kemaren deh kayaknya. Waktu kamu ngambil libur
akhir tahun dan kita ke Pantai Bira.”
“Itu
kan udah hampir satu tahun yang lalu. Masa kamu gak pernah ke pantai abis itu?”
“Ke
pantai sih sering. Tapi kalo buat diving
atau snorkeling, enggak pernah lagi.
Putra ngelarang aku. Katanya takut tenggelam atau keseret ombak.” Aku tertawa
getir di ujung kalimat.
Arya
ikut tertawa. “Kayaknya Putra sayang banget sama kamu. Sampe gak mikir kalo diving sama snorkeling itu pasti ada pengamannya.”
Aku
mendengus sesaat. Membenci perbicangan ini. Yah, aku selalu benci membicarakan
hal lain setiap bersama mantan kekasihku yang satu ini. Maafkan aku, Putra.
***
Aku melepas masker dan snorkel yang
masih melekat di wajahku saat Arya datang.
“Gimana?
Seru, gak?” tanyanya. Ia masih mengenakan kaki katak di atas hamparan pasir
putih milik Pulau Samalona ini.
“Banget!
Gak kalah sama yang di Bira waktu itu. Aku speechless,
nih. Intinya, ikannya lucu-lucu. Bintang laut sama kerangnya juga banyak,
cantik-cantik lagi.”
Ia
ikut melepaskan alat-alat snorkeling
yang ia gunakan. “Mau langsung pulang atau nginep aja, nih? Ntar sore lanjut diving lagi, yuk!” ajaknya.
“Enggak,
ah. Aku kan gak suka diving. Terlalu
ngeri buat orang yang nyalinya gak gede kayak aku,” balasku diiringi tawa. Yah,
aku lebih memilih snorkeling daripada
diving yang harus menyelam sampai
kedalaman bermeter-meter hanya dengan bantuan sebuah tabung berat yang harus
dipikul di punggung. Oh, tidak.
“Trus
kita kemana, dong?”
“Gimana
kalo wisata kuliner? Aku udah lama gak makan pisang epe’. Kamu juga, kan?”
“Oke,
setuju!”
***
Kami berdua kembali ke Makassar sore
harinya. Ia terpaksa diving di siang
hari yang terik karena aku memaksa pulang hari ini juga. Hasilnya? Kulitnya
yang kecoklatan harus menerima kenyataan untuk semakin coklat.
Masih
dengan ransel di punggung masing-masing, kami berjalan menyusuri pinggiran
Jalan Penghibur. Motor ninja milik Arya diparkir di pelataran pantai Losari.
Jalanan terlalu macet untuk naik kendaraan ke gerobak penjual pisang epe’
langgananku yang tidak terlalu jauh dari situ. Hanya perlu berjalan lima menit,
dan kami pun sampai di sebuah gerobak yang lumayan ramai di pertigaan jalan.
“Ada
kursi kosong ta’ daeng?” tanyaku, lengkap dengan logat Makassar.
Laki-laki
yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu menoleh dan menatapku. Dahinya
berkerut sejenak, lalu tersenyum lebar. “Astaga, lamanya mo ndak ke sini ki
dek. Mauki makan pisang epe’? Di situ meki duduk eh, masih ada dua kursi
kosong.” Ia menyapa dengan hebohnya sambil memperlihatkan satu tempat yang masih
kosong di pinggiran trotoar tersebut.
Aku
ikut tersenyum senang. Ia masih mengingatku di antara banyaknya pelanggan yang
datang dan pergi di sini. “Iye’. Pisang epe’ coklat keju ta pade dua porsi nah.
Sama sekalian pesankan ka’ sarabba’ dua gelas dule,” balasku. Memesan dua porsi
pisang epe coklat keju dan sarabba’. Kemudian berjalan menuju sepasang kursi
plastik dan sebuah meja di dekat gerobaknya.
Pisang
epe adalah pisang kepok putih yang dipipihkan, kemudian dibakar dan dilumuri
gula merah, coklat, keju, atau rasa lain sesuai pesanan pelanggan. Sedangkan
sarabba’ adalah minuman khas Makassar yang berisi campuran jahe dan
rempah-rempah sejenis. Makanannya menciptakan sensasi manis, sedangkan
minumannya mengalirkan kehangatan di sepanjang kerongkongan.
Sekelompok
pengamen mendatangi meja kami saat pesanan belum juga datang. Lagu salah satu
boyband Indonesia melantun dari bibir sang vokalis perempuan. Ini adalah salah
satu pemandangan yang lumrah di sekitar sini. Kadang, kita hanya makan kacang
rebus di anjungan losari pun, ongkos untuk pengamen yang berdatangan bisa lebih
banyak dari makanan yang kita nikmati.
“Ini
kak pesanan ta,” ujar seorang anak kecil sambil membawa senampan berisi dua
piring kecil pisang epe’ dan dua gelas sarabba’ yang asapnya masih mengepul.
Aku
buru-buru meraih dan menikmatinya. Ah, betapa aku merindukan rasa ini. Betapa
lelahnya aku mengecap rasa yang sama terus-menerus, es kelapa muda di depan
taman kota.
“Kamu
kenapa? Kok kayak kelaparan gitu?” heran Arya sambil meletakkan gelas sarabba’
yang baru saja disesapnya.
“Gak
pa-pa, kok. Pisang epe’ ini enak banget.”
“Bukannya
kamu tinggal di Makassar? Aku aja yang lama di Jakarta gak selahap kamu
makannya.”
Aku
tertawa pelan. “Gimana, ya? Aku udah lama gak makan pisang epe’. Jadi sekarang
pengen bener-bener dinikmati.”
“Kasian
banget kamu,” balasnya sambil mengusap kepalaku. “Trus, besok kamu mau kemana?
Biar aku temenin.”
“Serius?”
Mataku kontan saja berbinar-binar.
Arya
mengangguk sambil tersenyum tulus.
“Aku
mau liat sunset di anjungan losari. Trus makan pisang ijo sama jalangkote di
Jalan Andalas.”
***
“Kamu mau kemana?”
Deg!
Aku bisa merasakan jantungku berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar suara
itu. Suara yang tidak terlalu berat untuk ukuran laki-laki, namun terdengar
menenangkan. Walaupun saat ini aku mendengar versi menakutkannya.
“Loh,
kok... kamu ada di sini?”
“Emangnya
kenapa?” Putra balik bertanya.
“Enggak,
maksud aku... Maksud aku, kok tumben kamu gak ngabarin dulu?” Sepertinya ia
sudah membaca gelagatku yang aneh ini, dari dahinya yang agak berkerut sambil
menatapku.
“Gimana
mau ngasih kabar kalo teleponku gak pernah kamu angkat?”
“Ke
rumah temen. Ngerjain tugas.” Padahal rencananya aku akan bertemu dengan Arya
di Rumah Makan Bravo untuk menikmati pisang ijo dan jalangkote. Semoga
kekasihku ini tidak menggagalkan rencanaku untuk pergi bersama mantan
kekasihku.
“Ya
udah. Sini aku temenin.”
Sial!
***
“Sorry,
ya! Aku lagi nemenin Putra makan konro, nih. Besok aja, gak pa-pa? Iya, aku
janji nemenin kamu wisata kuliner sampe puas. Okay, bye!”
“Nelepon
siapa, sih?” tanya Putra. Ia baru saja kembali dari toilet sebelum aku
mencuri-curi kesempatan untuk menelepon Arya dan membatalkan acara kami.
“Temen
kampus.”
Tidak
berapa lama kemudian, seorang pelayan membawakan kami senampan mangkuk berisi
konro, nasi, dan jus jeruk. Aroma sup iga dengan bumbu yang khas menguasai
indra penciuman. Asapnya yang mengepul seakan melambai-lambai, memaksa untuk
cepat-cepat menghabiskannya.
Aku
langsung menuangkan kecap dan sambal tumis ke dalam mangkuk di depanku, serta
perasan jeruk nipis. Diwarnai suara kendaraan yang ramai berlalu-lalang di
sekitar lapangan karebosi, aku pun mulai mencicipi konro tersebut. Hm, rasanya
pas.
“Abis
ini kamu mau kemana?” tanya Putra sambil mengunyah tulang renyah itu.
“Pulang
aja, ah.”
“Loh,
kenapa? Gak mau jalan dulu?”
“Kemana?”
“Taman
kota di samping Benteng Rotterdam. Minum es kelapa muda.”
“Enggak.”
***
Cahaya jingga menyilaukan pandangan
mataku. Yah, seperti itulah suasana sore di sini. Di tempat yang lapang dengan
rangkaian huruf besar berwarna putih bertuliskan Pantai Losari. Pedagang
asongan turut meramaikan di sana-sini. Aku selalu suka suasana sore di Losari,
ramai dan menghangatkan hati.
“Aku
suka banget kalo liat kamu senyum kayak gitu. Hatiku jadi ikut damai,” ucap
Arya. Kami berdua duduk berdampingan di salah satu bangku semen anjungan,
menghadap ke laut di depan sana.
Aku
hanya tersenyum tipis. Lelaki itu selalu tahu cara membuatku bahagia. Ia sangat
pintar menentramkan hatiku. Namun tidak untuk merebut cintaku. Yah, harus ku
akui, cintaku sepenuhnya masih milik Putra.
“Kamu
lagi mikirin apa, sih? Kok daritadi ngelamun aja?” Suaranya kembali
menyentakku.
“Hm?”
Kedua alisku terangkat sambil menatapnya.
“Lagi
mikirin Putra, ya?” Bahkan saat menyebut nama kekasihku pun, ia masih bisa
tersenyum.
Mau
tidak mau, aku mengangguk. Pandanganku kembali menyapu laut di depan kami.
“Kamu
ngerasa bersalah karena kita jalan bareng tanpa sepengetahuannya?”
Aku
menghela nafas sejenak. “Kalo masalah ngerasa bersalah, ya jelaslah. Tapi mau
gimana lagi? Kayaknya aku lagi butuh hal-hal baru.”
“Maksudnya?”
“Iya,
something new. Gak tau kenapa, aku ngerasa
bosan akhir-akhir ini. Mungkin karena kami udah pacaran dua tahunan kali, ya?”
balasku. “Gitu deh pokoknya. Semuanya jadi hambar. Rasanya hubungan kita udah
sampe ke titik paling jenuh.”
Arya
terdiam. Mungkin ia sedang meresapi setiap kalimatku.
“Kalo
kamu jadi aku, pasti kamu tau gimana rasanya setiap malam dihabiskan di taman
kota samping Fort Rotterdam sana sambil minum es kelapa muda pake gula merah.
Atau cuma makan konro di dekat lapangan karebosi pas siangnya. Ituuu terus.
Bosen, kan?” sungutku.
“Trus,
kenapa kamu gak omongin langsung sama dia?”
Iya,
ya? Kenapa aku gak ngeluh langsung sama Putra?
“Kok
diem?”
“Aku...
Aku gak enak. Aku gak mau bikin dia kecewa. Aku gak mau nyakitin dia, Ar.
Aku... sayang banget sama Putra.”
Aku
merasa Arya menghela nafas panjang di sebelahku. Entah mengapa.
“Bukannya
kunci utama hubungan adalah komunikasi?”
“Tapi
menurutku, diam adalah segalanya. Aku mau semuanya berjalan dengan baik. Aku
benci pedebatan panjang, apalagi pertengkaran tidak jelas.”
“Bagaimana
kamu tau dia bakal marah kalo kamu belum nyoba bicarain semuanya?”
“Aku
udah lama kenal Putra.”
“Tapi
kenapa dia gak bisa kenal kamu dengan baik?”
Deg!
Pertanyaan Arya itu seakan mencambukku.
“Kalian
emang udah kenal cukup lama. Kalo ibarat bayi, kalian udah jago ngasih
komentar. Kenapa kamu sama Putra yang udah dewasa gak punya keberanian buat
ngungkapin isi hati masing-masing? Apa susahnya sih ngomong ‘aku bosen makan di
sini’ atau ‘aku bosen nongkrong di sini terus’. Gampang, kan?”
Aku
mendengus kesal. Kenapa polisi muda dan ganteng ini selalu mengucapkan
kata-kata yang masuk akal untukku?
“Trus,
aku mesti gimana?” tanyaku, entah untuk Arya atau diriku sendiri. Terdengar
putus asa.
“Ya
ngobrol. Kalian kalo lagi berdua ngomongin apa aja, sih? Masa buat ngomongin
masalah hati masing-masing aja mesti mikir dulu?”
“Ya
udah, sih. Gak usah pake ngomel!” Aku jadi gemas juga lama-lama diceramahi
begitu.
Ia
malah tertawa sambil menatap wajahku. Membuat bibir tipisku semakin manyun.
Aku
ikut mengangguk. “Di mesjid depan pintu masuk metro tanjung bunga aja. Tau,
kan?”
“Mesjid
terapung itu, ya?”
“Iya.
Mesjid Amirul Mukminin namanya.”
“Iya,
aku udah liat foto-fotonya di google.
Keren, deh.”
“Jelas
dooong,” balasku bangga.
Ia
mengusap kepalaku sambil tersenyum. Kami lalu berjalan berdampingan, menuju
pelataran parkir pantai losari. Layaknya sepasang kakak-beradik.
“Emangnya
kamu mau pindah tempat nongkrong kemana, sih” tanya Arya sambil berusaha
mengeluarkan motornya dari area parkir yang lumayan sesak sore ini.
Aku
berpikir sejenak. “Ke Samalona kan udah. Makan pisang epe’ sama sarabba’ juga.
Trus kemarin kita udah makan es pisang ijo sama jalangkote. Liatin sunset di
Losari kelar. Ke mesjid terapung juga udah mau pergi. Hm, kemana lagi, ya?”
Arya
melirikku dari spion kiri motor ninja miliknya.
“Aha!
Aku tau!” Entah kenapa, aku langsung menjentikkan jari tangan kananku dengan
wajah sumringah.
“Apa?”
“Aku
mau ke Benteng Somba Opu di perbatasan Makassar-Gowa sana.”
“Hah?
Ngapain?”
“Pengen
liat rumah-rumah adat dari semua daerah di Sulawesi Selatan sini. Sekalian
hunting foto.” Aku cengengesan di ujung kalimatku.