Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Desember 2013

Diam

Kau pasti tak tahu apa yang kulakukan kini
Ketika mentari pun masih lelap dalam mimpi
Masih seperti hari kemarin, menantimu hadir di sini
Walau tak pernah kau sadari

Tak mungkin aku yang terlebih dulu menyapa
Lidahku terlalu kelu untuk sekedar menyebut nama
Dan kau terlalu tinggi untuk kujaga
Namun tetap saja, terima kasih pernah ada
Walau tak pernah menyadari, aku pun ada

Aku meletakkan note book ketika kau akhirnya datang, berlari-lari kecil menyusuri jalanan di antara peluk pepohonan taman. Aku tetap mengamati, duduk bersanggahkan kursi besi, beberapa meter dari tubuh tegapmu yang kini melakukan stretching di seberang. Masih dengan setumpuk harapan yang sama dari hari ke hari, agar kau bisa menoleh dan sadar akan hadirku.
Setiap hari, bahkan ketika embun masih menguasai mulut dedaunan, aku selalu di sini. Tak usah menanyakan sejak kapan, bahkan angka-angka yang berbaris pada penanggalan tak mampu menjabarkan. Dan kau, alasan keberadaanku tak sedikit pun menyadarinya. Tak apa, asal sosokmu bisa kunikmati saja.
Kubuka lagi lembar demi lembar pada buku catatan mini yang menjadi objek segala curahan hati selama ini, yang hanya kutulis tanpa bisa kuungkapkan—sampai kapan jua. Pada lembar pertama, ada setitik noda yang membuat satu kata di sana menjadi buram. Noda bekas air mata yang kulepas untuk seseorang yang bahkan tak kutahu namanya.

Sebelumnya, aku tak pernah berani untuk jatuh cinta
Untuk apa membiarkan diri jatuh, sementara tak ada yang menyambut?
Sia-sia
Aku terlalu takut jika ada yang menyadari perasaanku nanti
Takut ia akan menanyakan sesuatu tentang hati

Bagaimana aku bisa menjawab pada akhirnya?
Bagaimana jika ia menyadari aku bahkan tak bisa untuk sekedar melafalkan namaku sendiri?
Bagaimana jika ia tak beda dengan lelaki lain, pergi begitu saja?

Karena itu, aku tak pernah berani untuk jatuh cinta
Karena itu juga, tak apa jika kau tak pernah menyadari hadir
Agar aku tak susah-susah meladenimu nanti
Dengan bibir yang tak akan menyapa—bahkan tak bisa sekedar mengucap nama
Bahagiaku cukup duduk di sini, menanti. Menikmati. Tanpa minta disadari.

Senin, 25 November 2013

My Perfect Morning

Gelas, Buku, dan Kecap
Sebuah bingkisan dari @kopdarfiksi Makassar bersama Bernard Batubara





Senyum Raina spontan menyambutku ketika lonceng di atas pintu Woody

Moody berdenting singkat kala kusingkap. Aku menghampirinya yang setia
berdiri di balik meja, lengkap dengan segaris senyum dan macbook di
pelukan.

"Segelas ice moccacino lagi?" sapa perempuan berseragam krem tersebut.

Kuanggukkan kepala satu kali. "Oh, iya. Ada sumbangan buku lagi hari ini?"

"Iya, bukan pasar malam-nya Pram. Harta karun yang kaucari selama
ini," jawab Raina seraya mengerling singkat ke rak mini di sudut
ruangan.

"Lalu..." Aku menaikkan sebelah alis, membiarkannya menebak ujung
kalimatku. Kalimat yang --aku tahu-- sudah bosan ia dengar setiap
hari, tepat jam tujuh pagi.

"Tunggu," Raina langsung menghilang ke balik pintu berbahan kayu di
belakangnya. "Ini, small pizza dengan kecap, sarapan ajaibmu. Sudah
kusiapkan sebelum kau datang."

"Kau memang yang terbaik. Andai ada lelaki sepertimu, pagiku pasti
akan lebih indah. Pusat hidupku bertambah."

"Bukankah kau bilang hanya butuh segelas moccacino dingin, buku, dan
pizza berkecap agar harimu bahagia?"

Aku kembali mengangguk, lebih semangat dari awal tadi. Kedua sudut
bibirku pun membentuk lengkung sempurna. "Yah, kau benar. Aku tak
butuh laki-laki ternyata."

Just Ended

Just Ended



Makassar, 11 Juli 2013

Tiara melirik jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya, entah untuk yang keberapa kali. Di luar rumah, tetesan air masih mengguyur dengan ramainya. Ia tidak pernah membenci hujan jika saja tak datang untuk menghalangi perjalanan pentingnya, seperti saat ini.

Handphone di genggamannya pun tak henti-hentinya bernyanyi. Ia tahu, Dika pasti sama paniknya dengan dirinya sekarang. Pesawat yang akan membawa lelaki itu ke Jogjakarta akan lepas landas pukul enam petang, dan ia masih dihadang hujan sementara kini jarum jam sudah hampir mengenai angka lima. Belum lagi perjalanan ke bandara yang bisa memakan waktu satu jam atau lebih jika macet ingin turut campur dengan harinya. Tanpa sadar, Tiara sudah menggigit handphone berwarna putih di tangan kanannya tersebut—menahan amarah.

Lo naik angkot ke depan kompleksnya Riri, ya.
Gue gak bawa mantel, di sini masih deras.

Oh, bahkan sahabat yang ia harapkan akan memperlancar perjalanannya pun turut berkonspirasi untuk memakan waktu lama. Baru saja akan menelepon Rega—sahabat yang baru saja mengiriminya pesan singkat itu—handphone miliknya kembali berdering. Dika calling...

Belum sempat mengucapkan salam pembuka, lelaki itu sudah menyerangnya dengan rentetan kalimat yang diredam suara hujan. Tiara mendengus pelan, mengapa lelaki yang sudah menjadi kekasihnya hampir tiga tahun ini tak bisa menunggu dengan sabar?

“Iya, iya. Aku naik angkot ke rumahnya Riri, pacar Rega. Habis itu baru diantar ke bandara. Tunggu aja, aku pasti datang.”

***
            
Terima kasih pada Rega yang seharusnya menjadi pembalap moto gp saja daripada mahasiswa teknik, dia lebih ahli dalam menaklukkan jalanan raya daripada perangkat-perangkat lunak komputer. Buktinya hanya dalam waktu setengah jam, Tiara sudah melangkah menghampiri keluarga besar Dika yang duduk bersisian di beranda depan bandara Sultan Hasanuddin.

“Kok lama, Ra?” sapa Mbak Lia, kakak ipar Dika sembari bertukar ciuman pipi dengan Tiara.

“Iya, tadi di rumah hujannya deras banget, Mbak.” Perempuan berjilbab dengan tubuh mungil itu pun duduk di antara keluarga besar kekasihnya, membaur layaknya keluarga sendiri. Yah, dirinya memang sudah dekat dengan keluarga tersebut sejak awal masa pacarannya bersama Dika.

Sosok Dika muncul tak lama kemudian, langsung mengambil tempat di sebelah kanan tubuh mungil Tiara. Tiara menghela napas panjang, mencuri aroma parfum lelaki itu agar tetap tinggal di indra penciumnya selama raga tersebut menetap di Jogjakarta nanti. Ah, ia membenci dirinya yang berubah melankolis akhir-akhir ini. Ini sudah kali kedua ia melepas kepergian Dika di bandara, namun mengapa kini ada perasaan tak rela yang menyusup diam-diam? Bukankah pada akhirnya dia juga akan kembali ke dalam pelukannya lagi?

“Daripada kalian lihat-lihatan begitu, kenapa gak pelukan aja, sih? Mumpung pesawatnya belum berangkat,” tegur Mas Fian, sepupu Dika.

Tiara kontan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Sementara Dika langsung mengelus puncak kepala yang tertutup jilbab polos berwarna kuning tersebut. “Gak boleh, Kak. Kan lagi puasa.”

***

Makassar, 17 Juli 2013

Thanks Tari J

            Sms yang baru saja masuk ke dalam kotak pesan pada handphone Tiara barusan sempat membuatnya sulit bernapas untuk beberapa saat. Tari? Ia membenci nama itu. Tidak ada yang salah memang, hanya saja tak ada perempuan lain bernama Tari di kehidupan Dika selain sahabat semasa SMA lelaki itu. Sahabat yang juga merupakan sahabat dari mantan kekasih Dika sebelum Tiara. Lalu mengapa sekarang...

Sorry, sayang. Tadi salah kirim.

            Ini sudah kali kedua Dika mengirimkan pesan berisi nama Tari ke handphone-nya. Sesering itukah keduanya saling mengirimkan pesan singkat? Bukankah dirinya sudah berulang kali melarang Dika berhubungan dengan perempuan itu? Yah, silakan sebut ia egois. Ia hanya tak ingin ada perempuan lain yang menikmati perhatian dari pacarnya sendiri. Ia tak ingin ada perempuan lain yang merasa diistimewakan selain dirinya, tidak pula untuk kategori ‘hanya sahabat’ yang selama ini dijadikan Dika sebagai tameng antara dia dan Tari-Tari ini.

            Tidak, Tiara tak pernah sekali pun menyangsikan cinta Dika padanya. Bagaimana ia bisa ragu jika seluruh keluarga besar keduanya sudah merestui hubungan mereka? Bagaimana ia bisa ragu jika Dika selalu membanggakannya di depan sahabat-sahabatnya? Bagaimana ia bisa ragu jika Dika selalu mencurahkan semua perhatian dan kasih sayang hanya pada dirinya? Dika menghabiskan waktu-waktu yang seharusnya ia gunakan untuk beristirahat dari rutinitas kerja dengan bertukar kabar maupun saling mengucap rindu melalui sambungan telepon atau internet, lalu bagian mana yang ingin ia ragukan?

Ya, sebut ini sebagai perasaannya saja. Tak mungkin Dika menyiakan kepercayaan darinya, dari keluarganya, dari janji menghabiskan usia mereka sejak hampir tiga tahun yang lalu. Persetan dengan ungkapan ‘insting perempuan tak pernah salah’, ia hanya ingin memercayai Dika. Hanya Dika pusat rotasinya saat ini.

***

Makassar, 2 Agustus 2013

            Tiara pikir, kepulangan Dika ke Makassar adalah momen bahagianya setelah dipisah jarak selama hampir satu bulan. Tak bertemu sehari saja dengan orang yang dicintai serasa mencekik hingga nyaris memutus urat nadi. Ia benci perasaan rindu yang menggebu-gebu, dan tak bisa bertemu untuk membunuh rindu itu. Namun jika kembali bertemu, yang ia kira bisa melepas rindu tersebut berubah menjadi ajang adu emosi, sepertinya sia-sia saja sabar menunggu.

Sepulang dari acara buka puasa bersama dengan keluarga Dika, Tiara dan lelaki itu melanjutkan pertengkaran mereka di rumah Tiara yang sepi.

“Pokoknya aku gak akan pernah suka kalo kamu masih suka jalan bareng Rega, ya.”

“Rega itu sahabatku dari SMP, Dik. Lagian aku perginya rame-rame sama sahabatku yang lain, dia udah punya pacar. Bukannya kalian juga udah kenal, kan?”

“Tetap aja aku gak suka, dia kan cowok.”

“Terus apa bedanya dia sama Tari? Dia juga cewek, dan kamu selalu bilang ‘kami cuma sahabat’ kalo aku ngomongin dia. Seharusnya kamu juga mikir gitu kalo mau nuduh aku sembarangan!”

Dika mendengus pelan menanggapi rentetan kalimat Tiara yang disertai teriakan penuh emosi barusan. Ini bukan kali pertama mereka beradu urat selama berpacaran. Tak heran, putus pun selalu menjadi jalan akhir. Bukan mengakhiri cinta sebenarnya, namun lebih untuk menahan ego sementara waktu. “Jadi, kamu lebih pilih Rega... atau aku?” tandasnya kemudian.

“Dika, stop berpikiran kekanak-kanakan, deh! Kamu juga mau, kalo aku suruh pilih Tari atau aku? Hah?”

“Aku sekarang minta kamu memilih, bukannya malah balik nanya.”

Tiara menatap Dika dengan kedua mata menyipit, bahu naik-turun, dan napas yang mulai tak beraturan. Ia membenci Dika yang berubah egois seperti ini, berubah egois ketika dirinya sendiri juga tak mau mengalah.

“Oke, karena kamu diam, aku rasa aku udah tahu jawabannya...” lelaki berkaus polo itu bangkit dari sofa ruang tamu rumah Tiara yang biasanya menjadi saksi hari-hari penuh cinta mereka. “Aku pergi, berhenti berhubungan sama keluargaku. Semoga kamu bahagia sama pilihanmu.”

Tiara menatap punggung yang menghilang di balik pintu rumahnya tersebut dengan nanar. Ia ikut bangkit, berniat menyusul sosok Dika dan menjelaskan perasaannya. Namun alih-alih melangkah, ia malah meluruh, bersatu dengan lantai marmer ruang tamu.

Tak bisakah mereka menjalani hubungan seperti orang-orang berpikiran dewasa lain? Tak bisakah Dika menyadari perasaannya yang tak tertandingi oleh apapun lagi? Tak bisakah mereka berhenti saling menghakimi hal-hal yang sudah jelas dalam hubungan mereka selama ini?

Perempuan itu tak menyadari isakan yang sudah keluar dari bibir mungilnya, sementara ia memeluk tubuhnya sendiri. Di antara wajahnya yang tersembunyi di balik kedua lutut, ia berharap Dika datang lagi. Meminta maaf, dan menyalurkan hangat dari rengkuhan kedua tangannya. Ia tak kuat memeluk dirinya sendiri saat ini. Ia mencintai Dika dengan seluruh hidupnya, ia membutuhkannya.

***

Makassar, 10 September 2013

            Tiara membenci dirinya yang dengan mudah memberi maaf pada Dika. Ia membenci dirinya yang tak bisa bertahan lama tanpa sosok lelaki itu. Ia membenci dirinya yang terlalu percaya, terlalu menyayangi lelaki yang belum genap tiga tahun dikenalnya. Ia membenci dirinya yang kini semakin lama, semakin sadar bahwa ia tak bisa hidup tanpa kebiasaan-kebiasaannya selama menjalin hubungan dengan Dika.

Dan di sinilah ia sekarang, sebuah restoran fast food bersama Dika yang baru semalam dimintanya kembali. Dengan menurunkan segala ego, harga diri, atau apapun yang orang lain sebut, ia memang yang pertama kali meminta Dika kembali menjadi kekasihnya. Sudah lewat sebulan dari perpisahan mereka, di malam anniversary mereka yang ke-34 bulan, dan menunggu Dika yang menghubunginya duluan sama saja dengan sia-sia.

“Kamu udah gak sayang sama aku, kan? Makanya sampai sekarang kamu gak minta balikan kalo bukan aku yang minta,” ujar Tiara sambil menggigit potongan kentang goreng di antara telunjuk dan ibu jari tangan kanannya.

“Siapa bilang? Kamu jangan bikin selera makanku hilang, deh.”

“Terus kenapa kamu gak minta balikan duluan? Dulu-dulu kan biasanya begitu.”

“Masa hal kayak begini harus kita debatkan lagi, sih? Capek, Ra.”

“Aku cuma nanya. Aku gak mau bikin asumsi sendiri, karena aku gak mau sakit hati lagi sama pikiranku yang macam-macam tentang perasaan kamu.”

Dika menyesap cangkir yang masih mengepul di hadapannya. Kemudian menumpukan kedua sikunya ke atas meja sembari menumpahkan seluruh perhatiannya pada Tiara. “Aku cuma mau ngasih kamu sedikit pelajaran. Lagian aku tahu gimana kamu yangn gak bisa jauh-jauh dari aku. Jadi cepat atau lambat, kamu yang ngehubungin aku duluan. Iya, kan?”

Tiara menepis jemari Dika yang berjalan di puncak kepalanya yang siang ini dihalangi jilbab merah muda. “Oh, jadi karena kamu tahu aku gak bisa jauh dari kamu, makanya kamu manfaatkan momennya, begitu? Aku jadi heran, jangan-jangan... kamu udah gak sayang sama aku, ya?”

Lelaki berkemeja biru dongker tersebut meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring dalam keadaan menelungkup. “Tiara, stop this topic, please. Udah, deh. Aku mau ke kamar kecil dulu.”

Perempuan berjilbab itu menatap punggung bidang yang menjauh tersebut hingga hilang di bagian dalam restoran. Ia menghela napas panjang, memikirkan dirinya yang terasa menyedihkan. Apa benar hanya dirinya yang bertahan? Apa lelaki itu sudah lama berhenti memperjuangkan?

Bunyi singkat dari smartphone di atas meja membuyarkan lamunan Tiara. Ia pun meraih gadget milik Dika, lalu melihat notifikasi yang masuk; hanya broadcast tidak penting. Jemarinya kini menari di atas touch-screen, melihat nama-nama yang berada di daftar percakapan lelaki itu. Entah naluri dari mana, pandangannya langsung terpaku pada satu nama di sana. Utari Ramadhani.

Utari Ramadhani:
Oh, jadi hubungan kita selama ini kamu anggap apa? Aku kecewa sama kamu, Dik.

Andika Saputra:
Sorry, Tar. Aku beneran gak ngerti juga, aku harap kamu ngerti sama keadaanku. Kita lihat ke depannya gimana aja, ya.

            “Kamu ngapain?” tegur Dika sambil merebut paksa smartphone miliknya dari genggaman Tiara yang balik menatapnya dengan mata yang mengerjap beberapa kali.

“Kamu... chat... aku...” Tiara menelan ludah seraya bangkit dari duduknya. Ia harus berpegangan pada meja saat menyampirkan tasnya, takut lututnya tak sanggup lagi menopang tubuh. “Thanks, Dik.” Ia buru-buru berlalu sebelum butiran bening itu meluruh dan membanjiri pipinya. Ia perempuan yang kuat, ia tak boleh membuat Dika semakin bangga atas kelemahannya. Bukan perempuan namanya kalau tidak menangis untuk meluapkan kekecewaan, ia membatin seraya terus melangkah ke tepi jalan raya.

“Tiara! Stop act like a kid, please!” Dika sudah mencekal lengannya, menyejajarkan langkah tepat di sisi tubuh mungil perempuan itu.

“Lepas, Dika. Jangan bikin aku sama kamu malu di tengah jalan begini.” Tiara membenci kata kita untuk kalimatnya barusan.

“Kamu lihat apa di handphone-ku? Chat sama Tari? Oh, God..., itu udah lama. Sejak aku masih di Jogja. Sekarang kami udah gak ada apa-apa lagi.”

“Jadi dulu kalian ada apa-apa, begitu?” Tiara memilih berhenti, memasang ekspresi yang sukar dibaca, dengan suara pelan. Ia tak mau orang lain mencuri dengar, apalagi di tengah keramaian seperti ini.

Dika  melepaskan genggamannya pada lengan tirus Tiara setelah yakin perempuan itu tak akan lari lagi. “Enggak sama sekali. Aku sama dia cuma sahabat, dan seterusnya begitu. Kamu jangan mikir macem-macem, deh.”

***

Makassar, 11 September 2013

            Tiara menatap kalimat demi kalimat yang memamerkan diri di layar handphone-nya dengan sendu. Ia ingin menangis, sungguh. Tak ada obat paling manjur untuk meredakan kekesalan, kekecewaan, atau amarah melebihi air mata. Namun mengapa sekarang kelenjar di ujung bola matanya ini seakan sedang absen bekerja? Kemana perginya ia saat dibutuhkan? Sebagai ganti, ia pun memilih meninju dan menginjak boneka tanpa dosa di lantai kamarnya. Boneka dari orang yang ia pikir masih, atau mungkin pernah mencintainya. Cinta-kah selama? Ah, ia juga sangsi.

Perempuan itu tak pernah mengira akan berkirim pesan singkat dengan perempuan yang beberapa menit lalu pun masih ia benci. Perempuan itu tak pernah mengira bahwa yang seharusnya ia benci adalah orang yang selama ini ia cintai.

Aku kira kalian udah putus, Ra. Dia sendiri yang ngaku udah jomblo, makanya aku juga ngasih respon. Sumpah ya, Ra..., dia yang pertama ngehubungin aku. Kalo aku tahu dia seberengsek ini, mana mau aku dekat lebih dari sahabat sama dia.

***

Jogjakarta, 17 Juli 2013

            Dika dengan cekatan membalas pesan singkat dari Tari yang baru saja menyapa smartphone miliknya. Ada pesan dari Tiara yang lebih dulu masuk, namun ia memilih mendahulukan pesan Tari untuk dibalasnya. Yah, bukan hidup namanya jika tak ada lebih dari satu pilihan.

Kamu doain aku aja semoga sukses sama pekerjaan di sini.
Kalo aku udah beneran mapan nanti, kan kamu juga yang seneng.
Aku tinggal langsung lamar kamu, gak perlu pacaran ngabisin waktu gak jelas.

            Sending... sent to: Utari Ramadhani.

From : Utari Ramadhani
Iya, aku selalu berdoa buat kamu kok.
Janjinya aku pegang, ya. Cepetan balik J

            Benda yang masih setia berada di genggaman Dika itu kembali berbunyi. Tiara kembali mengiriminya pesan, mungkin heran mengapa pesan sebelumnya belum dibalas juga.

Thanks Tari J

            Sending... sent to: Tiara Pratiwi.
***

Makassar, 28 Oktober 2013

            Tiara sudah merasa dirinya membaik, lebih baik dari terakhir kali ia menatap dirinya di cermin. Yah, ia bermusuhan dengan cermin dua bulan ini. Tak ingin bertukar pandang dengan dirinya sendiri lewat media kaca tersebut. Tak ingin menyadari bintik-bintik merah yang memenuhi wajah dan lingkaran hitam yang menguasai area matanya, juga tulang pipi yang semakin kentara. Ah, ia membenci masa-masa menyedihkannya itu.

Hampir semua manusia—termasuk Tiara di dalamnya—memang membutuhkan tamparan untuk disadarkan. Bertahun-tahun mempertahankan hanya karena hitungan hari yang sudah kepalang banyak, merupakan hal paling bodoh yang pernah ia lakukan. Entah sudah berapa kali Tuhan menegurnya dengan cara halus untuk berhenti berjuang sendirian, hingga akhirnya ditampar dengan kenyataan. Perih memang, namun setidaknya ia akhirnya bisa membuka mata dan melapangkan dada.

Mungkin salah Tiara karena terlalu percaya pada Dika, walau hal itu adalah poin penting dalam setiap hubungan. Tapi setiap saat, kepercayaan bisa menjadi bumerang paling menyakitkan yang akan berbalik pada diri sendiri. Seberapa besarnya kepercayaan dan komunikasi, Tuhan selalu punya cara untuk menunjukkan sela yang mungkin tak dapat kita temukan seorang diri.

Jangan sebut-sebut nama Dika lagi padanya, ia sedang dalam tahap meng-amnesia-kan diri sendiri. Walau ia tahu bahwa berusaha kuat untuk melupakan tak ada bedanya dengan terus mengingat.

Cinta memang tetap menjadi rahasia. Tapi menurut Tiara, kata ‘saling cinta’ hanya untuk orang-orang yang beruntung saja. Menurut Tiara, terserah dengan pikiranmu.

Sabtu, 09 Maret 2013

Seluas Makassarku




            Aku menyusuri trotoar yang menghubungkan antara jalan raya dan taman kota di samping Fort Rotterdam. Lampu jalan menyala temaram, memberi kesan romantis di dalam sini. Namun tidak di dalam hatiku.
Seorang lelaki tinggi dengan tubuh tegap dan rambut ikal berjalan menghampiriku. Di tangannya sudah terdapat dua gelas dengan air berwarna merah muda dan coklat.
“Kita duduk di sini aja, yuk!” ajaknya. Ia duduk duluan di salah satu bangku taman, di bawah lampu dan beberapa tanaman hias di sekitar.
Aku ikut duduk di sebelahnya. Yah, di samping lelaki bernama Putra yang telah menjadi kekasihku dua tahun belakangan ini. Lelaki paling sempurna yang telah menemaniku sekian lama, setelah Ayah tentunya. Lelaki yang telah menorehkan segala macam warna di hidupku selama ini. Warna yang kini semakin lama semakin buram, berganti putih, hitam, dan abu-abu. Iya, sedatar itu.
“Kok es kelapa mudanya gak diminum? Bukannya kamu suka yang rasa gula merah?” Suaranya menyentakku, memaksa untuk keluar dari alam khayalan.
“Oh, iya...” Hanya itu balasanku seraya meraih gelas besar berisi es kelapa muda tersebut. Salahkah jika aku sudah bosan menikmati es kelapa muda dari trotoar di depan taman kota ini? Salahkah jika indra pengecapku menolak es kelapa muda yang hampir setiap malam kucicipi? Salahkah jika hal-hal yang dulunya kucintai, malah berbalik menjadi hal yang aku benci? Salahkah?
Tiba-tiba, dering handphone milikku memecah keheningan. Nada sms masuk. Aku segera membacanya setelah melihat nama yang tertera di sana. Arya.
Kamu lagi dimana?
Besok jadi kan snorkling di Samalona?
            Tanpa diperintah, jemariku dengan spontan mengetik balasan untuknya.
Jadi kok
Jemput jam 7 pagi aja
            Sent.
            “Siapa?” tanya Putra.
            “Temen kuliah,” jawabku. “Oh, iya. Besok aku mau ke rumah temen. Banyak tugas kampus yang harus dikerjain bareng. Mungkin dari pagi sampe malem. Kalo aku gak bales sms atau telepon kamu, artinya aku lagi sibuk kerja tugas, ya!”
***
            “Udah siap?”
Aku mengangguk mantap. Sampai lelaki itu meraih tanganku ke dalam genggaman hangatnya pun, senyumku tak pernah luntur.
Lelaki bernama Arya, mantan kekasihku yang saat ini sedang menghabiskan liburan di Makassar dari aktivitasnya sebagai polisi di Jakarta itu pun membantuku menaiki sebuah kapal yang tidak terlalu besar untuk mengantar kami ke Pulau Samalona.
Aku tidak akan pernah bosan ke pulau dengan panorama indah tersebut. Walaupun nyawa taruhannya, karena harus menyeberangi lautan luas untuk sampai ke sana. Namun di situlah sensasinya, terombang-ambing di atas gulungan ombak dengan angin yang bertiup kencang. Aku sampai harus terbentur beberapa kali ke dada Arya yang bidang setiap kapal dengan dua puluhan penumpang itu miring karena hantaman ombak.
“Mual, gak?” tanyanya di tengan perjalanan.
Aku menggeleng pelan. “Aku kan udah sering ke sini, udah biasa.”
“Bagus, deh.” Ia mengusap kepalaku. Membuat rambut panjangku semakin berantakan.
Aku tersenyum lagi. Nyaman selalu memenuhi hatiku setiap berada di sisinya. Tidak ada rasa bosan, karena dia selalu tahu apa yang aku mau. Dari dulu, hanya dia yang paling mengerti aku. Dia tahu kesukaanku pada traveling, bahkan selalu menemaniku melewatinya. Sedangkan Putra? Dia terlalu mengkhawatirkanku. Dia tidak pernah memikirkan kepuasan yang ku dapat setelah mendapatkan apa yang aku mau dari penyaluran hobi itu.
Kenapa aku malah membedakan kekasih dan mantan kekasihku ini? Bukankah mereka memang dua orang yang berbeda?
“Kamu terakhir kali snorkeling kapan?” tanya Arya. Memecah lamunan panjangku.
Aku berpikir sejenak. “Tahun baru kemaren deh kayaknya. Waktu kamu ngambil libur akhir tahun dan kita ke Pantai Bira.”
“Itu kan udah hampir satu tahun yang lalu. Masa kamu gak pernah ke pantai abis itu?”
“Ke pantai sih sering. Tapi kalo buat diving atau snorkeling, enggak pernah lagi. Putra ngelarang aku. Katanya takut tenggelam atau keseret ombak.” Aku tertawa getir di ujung kalimat.
Arya ikut tertawa. “Kayaknya Putra sayang banget sama kamu. Sampe gak mikir kalo diving sama snorkeling itu pasti ada pengamannya.”
Aku mendengus sesaat. Membenci perbicangan ini. Yah, aku selalu benci membicarakan hal lain setiap bersama mantan kekasihku yang satu ini. Maafkan aku, Putra.
***
            Aku melepas masker dan snorkel yang masih melekat di wajahku saat Arya datang.
“Gimana? Seru, gak?” tanyanya. Ia masih mengenakan kaki katak di atas hamparan pasir putih milik Pulau Samalona ini.
“Banget! Gak kalah sama yang di Bira waktu itu. Aku speechless, nih. Intinya, ikannya lucu-lucu. Bintang laut sama kerangnya juga banyak, cantik-cantik lagi.”
Ia ikut melepaskan alat-alat snorkeling yang ia gunakan. “Mau langsung pulang atau nginep aja, nih? Ntar sore lanjut diving lagi, yuk!” ajaknya.
“Enggak, ah. Aku kan gak suka diving. Terlalu ngeri buat orang yang nyalinya gak gede kayak aku,” balasku diiringi tawa. Yah, aku lebih memilih snorkeling daripada diving yang harus menyelam sampai kedalaman bermeter-meter hanya dengan bantuan sebuah tabung berat yang harus dipikul di punggung. Oh, tidak.
“Trus kita kemana, dong?”
“Gimana kalo wisata kuliner? Aku udah lama gak makan pisang epe’. Kamu juga, kan?”
“Oke, setuju!”
***
            Kami berdua kembali ke Makassar sore harinya. Ia terpaksa diving di siang hari yang terik karena aku memaksa pulang hari ini juga. Hasilnya? Kulitnya yang kecoklatan harus menerima kenyataan untuk semakin coklat.
Masih dengan ransel di punggung masing-masing, kami berjalan menyusuri pinggiran Jalan Penghibur. Motor ninja milik Arya diparkir di pelataran pantai Losari. Jalanan terlalu macet untuk naik kendaraan ke gerobak penjual pisang epe’ langgananku yang tidak terlalu jauh dari situ. Hanya perlu berjalan lima menit, dan kami pun sampai di sebuah gerobak yang lumayan ramai di pertigaan jalan.
“Ada kursi kosong ta’ daeng?” tanyaku, lengkap dengan logat Makassar.
Laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu menoleh dan menatapku. Dahinya berkerut sejenak, lalu tersenyum lebar. “Astaga, lamanya mo ndak ke sini ki dek. Mauki makan pisang epe’? Di situ meki duduk eh, masih ada dua kursi kosong.” Ia menyapa dengan hebohnya sambil memperlihatkan satu tempat yang masih kosong di pinggiran trotoar tersebut.
Aku ikut tersenyum senang. Ia masih mengingatku di antara banyaknya pelanggan yang datang dan pergi di sini. “Iye’. Pisang epe’ coklat keju ta pade dua porsi nah. Sama sekalian pesankan ka’ sarabba’ dua gelas dule,” balasku. Memesan dua porsi pisang epe coklat keju dan sarabba’. Kemudian berjalan menuju sepasang kursi plastik dan sebuah meja di dekat gerobaknya.
Pisang epe adalah pisang kepok putih yang dipipihkan, kemudian dibakar dan dilumuri gula merah, coklat, keju, atau rasa lain sesuai pesanan pelanggan. Sedangkan sarabba’ adalah minuman khas Makassar yang berisi campuran jahe dan rempah-rempah sejenis. Makanannya menciptakan sensasi manis, sedangkan minumannya mengalirkan kehangatan di sepanjang kerongkongan.
Sekelompok pengamen mendatangi meja kami saat pesanan belum juga datang. Lagu salah satu boyband Indonesia melantun dari bibir sang vokalis perempuan. Ini adalah salah satu pemandangan yang lumrah di sekitar sini. Kadang, kita hanya makan kacang rebus di anjungan losari pun, ongkos untuk pengamen yang berdatangan bisa lebih banyak dari makanan yang kita nikmati.
“Ini kak pesanan ta,” ujar seorang anak kecil sambil membawa senampan berisi dua piring kecil pisang epe’ dan dua gelas sarabba’ yang asapnya masih mengepul.
Aku buru-buru meraih dan menikmatinya. Ah, betapa aku merindukan rasa ini. Betapa lelahnya aku mengecap rasa yang sama terus-menerus, es kelapa muda di depan taman kota.
“Kamu kenapa? Kok kayak kelaparan gitu?” heran Arya sambil meletakkan gelas sarabba’ yang baru saja disesapnya.
“Gak pa-pa, kok. Pisang epe’ ini enak banget.”
“Bukannya kamu tinggal di Makassar? Aku aja yang lama di Jakarta gak selahap kamu makannya.”
Aku tertawa pelan. “Gimana, ya? Aku udah lama gak makan pisang epe’. Jadi sekarang pengen bener-bener dinikmati.”
“Kasian banget kamu,” balasnya sambil mengusap kepalaku. “Trus, besok kamu mau kemana? Biar aku temenin.”
“Serius?” Mataku kontan saja berbinar-binar.
Arya mengangguk sambil tersenyum tulus.
“Aku mau liat sunset di anjungan losari. Trus makan pisang ijo sama jalangkote di Jalan Andalas.”
***
            “Kamu mau kemana?”
Deg! Aku bisa merasakan jantungku berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar suara itu. Suara yang tidak terlalu berat untuk ukuran laki-laki, namun terdengar menenangkan. Walaupun saat ini aku mendengar versi menakutkannya.
“Loh, kok... kamu ada di sini?”
“Emangnya kenapa?” Putra balik bertanya.
“Enggak, maksud aku... Maksud aku, kok tumben kamu gak ngabarin dulu?” Sepertinya ia sudah membaca gelagatku yang aneh ini, dari dahinya yang agak berkerut sambil menatapku.
“Gimana mau ngasih kabar kalo teleponku gak pernah kamu angkat?”
“Ah? Masa, sih? Oh, haha... Iya, nih. Handphone-ku suka nge-hang. Jadi yah gitu, deh...”
“Trus sekarang kamu mau kemana?”
“Ke rumah temen. Ngerjain tugas.” Padahal rencananya aku akan bertemu dengan Arya di Rumah Makan Bravo untuk menikmati pisang ijo dan jalangkote. Semoga kekasihku ini tidak menggagalkan rencanaku untuk pergi bersama mantan kekasihku.
“Ya udah. Sini aku temenin.”
Sial!
***
            “Sorry, ya! Aku lagi nemenin Putra makan konro, nih. Besok aja, gak pa-pa? Iya, aku janji nemenin kamu wisata kuliner sampe puas. Okay, bye!”
“Nelepon siapa, sih?” tanya Putra. Ia baru saja kembali dari toilet sebelum aku mencuri-curi kesempatan untuk menelepon Arya dan membatalkan acara kami.
“Temen kampus.”
Tidak berapa lama kemudian, seorang pelayan membawakan kami senampan mangkuk berisi konro, nasi, dan jus jeruk. Aroma sup iga dengan bumbu yang khas menguasai indra penciuman. Asapnya yang mengepul seakan melambai-lambai, memaksa untuk cepat-cepat menghabiskannya.
Aku langsung menuangkan kecap dan sambal tumis ke dalam mangkuk di depanku, serta perasan jeruk nipis. Diwarnai suara kendaraan yang ramai berlalu-lalang di sekitar lapangan karebosi, aku pun mulai mencicipi konro tersebut. Hm, rasanya pas.
“Abis ini kamu mau kemana?” tanya Putra sambil mengunyah tulang renyah itu.
“Pulang aja, ah.”
“Loh, kenapa? Gak mau jalan dulu?”
“Kemana?”
“Taman kota di samping Benteng Rotterdam. Minum es kelapa muda.”
“Enggak.”
***
            Cahaya jingga menyilaukan pandangan mataku. Yah, seperti itulah suasana sore di sini. Di tempat yang lapang dengan rangkaian huruf besar berwarna putih bertuliskan Pantai Losari. Pedagang asongan turut meramaikan di sana-sini. Aku selalu suka suasana sore di Losari, ramai dan menghangatkan hati.
“Aku suka banget kalo liat kamu senyum kayak gitu. Hatiku jadi ikut damai,” ucap Arya. Kami berdua duduk berdampingan di salah satu bangku semen anjungan, menghadap ke laut di depan sana.
Aku hanya tersenyum tipis. Lelaki itu selalu tahu cara membuatku bahagia. Ia sangat pintar menentramkan hatiku. Namun tidak untuk merebut cintaku. Yah, harus ku akui, cintaku sepenuhnya masih milik Putra.
“Kamu lagi mikirin apa, sih? Kok daritadi ngelamun aja?” Suaranya kembali menyentakku.
“Hm?” Kedua alisku terangkat sambil menatapnya.
“Lagi mikirin Putra, ya?” Bahkan saat menyebut nama kekasihku pun, ia masih bisa tersenyum.
Mau tidak mau, aku mengangguk. Pandanganku kembali menyapu laut di depan kami.
“Kamu ngerasa bersalah karena kita jalan bareng tanpa sepengetahuannya?”
Aku menghela nafas sejenak. “Kalo masalah ngerasa bersalah, ya jelaslah. Tapi mau gimana lagi? Kayaknya aku lagi butuh hal-hal baru.”
“Maksudnya?”
“Iya, something new. Gak tau kenapa, aku ngerasa bosan akhir-akhir ini. Mungkin karena kami udah pacaran dua tahunan kali, ya?” balasku. “Gitu deh pokoknya. Semuanya jadi hambar. Rasanya hubungan kita udah sampe ke titik paling jenuh.”
Arya terdiam. Mungkin ia sedang meresapi setiap kalimatku.
“Kalo kamu jadi aku, pasti kamu tau gimana rasanya setiap malam dihabiskan di taman kota samping Fort Rotterdam sana sambil minum es kelapa muda pake gula merah. Atau cuma makan konro di dekat lapangan karebosi pas siangnya. Ituuu terus. Bosen, kan?” sungutku.
“Trus, kenapa kamu gak omongin langsung sama dia?”
Iya, ya? Kenapa aku gak ngeluh langsung sama Putra?
“Kok diem?”
“Aku... Aku gak enak. Aku gak mau bikin dia kecewa. Aku gak mau nyakitin dia, Ar. Aku... sayang banget sama Putra.”
Aku merasa Arya menghela nafas panjang di sebelahku. Entah mengapa.
“Bukannya kunci utama hubungan adalah komunikasi?”
“Tapi menurutku, diam adalah segalanya. Aku mau semuanya berjalan dengan baik. Aku benci pedebatan panjang, apalagi pertengkaran tidak jelas.”
“Bagaimana kamu tau dia bakal marah kalo kamu belum nyoba bicarain semuanya?”
“Aku udah lama kenal Putra.”
“Tapi kenapa dia gak bisa kenal kamu dengan baik?”
Deg! Pertanyaan Arya itu seakan mencambukku.
“Kalian emang udah kenal cukup lama. Kalo ibarat bayi, kalian udah jago ngasih komentar. Kenapa kamu sama Putra yang udah dewasa gak punya keberanian buat ngungkapin isi hati masing-masing? Apa susahnya sih ngomong ‘aku bosen makan di sini’ atau ‘aku bosen nongkrong di sini terus’. Gampang, kan?”
Aku mendengus kesal. Kenapa polisi muda dan ganteng ini selalu mengucapkan kata-kata yang masuk akal untukku?
“Trus, aku mesti gimana?” tanyaku, entah untuk Arya atau diriku sendiri. Terdengar putus asa.
“Ya ngobrol. Kalian kalo lagi berdua ngomongin apa aja, sih? Masa buat ngomongin masalah hati masing-masing aja mesti mikir dulu?”
“Ya udah, sih. Gak usah pake ngomel!” Aku jadi gemas juga lama-lama diceramahi begitu.
Ia malah tertawa sambil menatap wajahku. Membuat bibir tipisku semakin manyun.
“Eh, udah adzan aja, nih. Magrib-an , yuk!” ajak Arya saat kumandang adzan sayup-sayup terdengar.
Aku ikut mengangguk. “Di mesjid depan pintu masuk metro tanjung bunga aja. Tau, kan?”
“Mesjid terapung itu, ya?”
“Iya. Mesjid Amirul Mukminin namanya.”
“Iya, aku udah liat foto-fotonya di google. Keren, deh.”
“Jelas dooong,” balasku bangga.
Ia mengusap kepalaku sambil tersenyum. Kami lalu berjalan berdampingan, menuju pelataran parkir pantai losari. Layaknya sepasang kakak-beradik.
“Emangnya kamu mau pindah tempat nongkrong kemana, sih” tanya Arya sambil berusaha mengeluarkan motornya dari area parkir yang lumayan sesak sore ini.
Aku berpikir sejenak. “Ke Samalona kan udah. Makan pisang epe’ sama sarabba’ juga. Trus kemarin kita udah makan es pisang ijo sama jalangkote. Liatin sunset di Losari kelar. Ke mesjid terapung juga udah mau pergi. Hm, kemana lagi, ya?”
Arya melirikku dari spion kiri motor ninja miliknya.
“Aha! Aku tau!” Entah kenapa, aku langsung menjentikkan jari tangan kananku dengan wajah sumringah.
“Apa?”
“Aku mau ke Benteng Somba Opu di perbatasan Makassar-Gowa sana.”
“Hah? Ngapain?”
“Pengen liat rumah-rumah adat dari semua daerah di Sulawesi Selatan sini. Sekalian hunting foto.” Aku cengengesan di ujung kalimatku.
“Ya udah. Minta sama Putra, sana!”
“Sial! Aku kira mau nemenin.”