Tampilkan postingan dengan label Love Letter ✉. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love Letter ✉. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2015

Dear Future Husband...



Dear future husband...

Halo. Hai. Assalamu alaikum.

Hmmm, maafkan aku yang memang tidak pandai menyapa terlebih dahulu. Mungkin saat kita pertama bertemu nanti, entah lewat keluarga, teman, atau malah mantan pacar, aku hanya melirikmu dengan kikuk. Ya, aku bukan orang yang pandai berbasa-basi. Butuh waktu yang lama untukku dekat dengan seseorang. Kuharap saat kita bertemu nanti, kamu mengerti. Itu pun kalau kamu orang baru, bukan kekasihku sekarang atau seseorang yang pernah kusapa dengan panggilan sayang dahulu.

Calon suamiku, sekarang aku hanya ingin meminta maaf dulu. Karena saat kita bersama nanti, kamu akan dihadapkan dengan perempuan paling egois yang akan kamu temani sampai akhir hidup nanti. Aku senang jika kamu membiarkanku menang atas segala sesuatu. Untuk pilihan warna dinding kamar, untuk motif gorden ruang tamu, untuk model seprai, atau restoran mana yang akan sesekali kita datangi.

Kamu juga harus tahu, aku bukan tipe orang yang gampang akrab dengan orang lain. Besar kemungkinan aku akan berubah pendiam di depan keluargamu, atau suaraku mencicit. Kuharap kalau keluarga atau teman-teman dekatmu mengeluh, kamu ada di sana dan menjawab, “Dia memang pendiam. Tapi kalau sudah dekat, aslinya cerewet, kok.” Pokoknya, apapun yang dikeluhkan orang-orang terdekatmu tentangku, aku tahu kamu pasti akan membelaku kalau kamu benar-benar mencintaiku, kan?

Aku belum bisa memasak, by the way. Tapi nasi goreng buatanku bisa membuat siapapun menagihnya lagi setelah sekali mencicipi (asal kamu suka asin dan pedas sekaligus). Semoga sebelum kamu memutuskan menjadikanku istri, aku sudah bisa membuatkan makanan kesukaanmu. Untuk yang satu itu, aku akan berusaha dengan tekun. Tenang saja.

Apa kamu tipe pekerja keras? Walaupun aku sudah terbiasa hidup sederhana, aku ingin kehidupan keluargaku nanti tercukupi. Aku juga akan bekerja, asal kamu mengizinkan. Bukan karena gajimu tidak membuatku puas, bukan. Aku memang ingin bekerja dari dulu, kok. Masalah rumah dan anak, nanti kita bicarakan lebih rinci.

Kalau kamu pulang bekerja, aku mohon... jangan sekali-sekali membawa pekerjaan sampai rumah. Aku ingin rumah dijadikan tempat beristirahat, dan kita bisa memiliki waktu yang berkualitas bersama-sama. Aku juga akan mencari pekerjaan yang membuatku bisa berada di rumah sebelum kamu berangkat kerja, dan pulang sebelum kamu sudah ada di rumah. Nikmat mana lagi yang bisa ditolak suami kalau disambut istri sepulang bekerja, kan?

Oh, iya. Aku suka liburan. Setiap bulan nanti, mari kita liburan bersama-sama. Atau paling tidak, dua bulan sekali. Kita bisa mendatangi tempat-tempat liburan di Sulawesi Selatan. Lalu kalau ada waktu lebih banyak, kita bisa liburan keliling Indonesia. Kalau bisa, ke luar negeri sesekali. Semoga impianku untuk keliling dunia bisa terwujud denganmu, dan anak-anak kita nanti.

Kamu mau anak berapa? Tunggu, aku tertawa dulu. Lucu juga ya, membicarakan hal ini dengan orang yang bahkan aku tak tahu siapa. Ngomong-ngomong, aku mau tiga anak. Banyak, ya? Dua juga tidak apa, asal tidak satu. Aku sudah merasakan jadi anak tunggal soalnya, dan kesepian itu tidak enak.

Surprise! Perempuan manapun pasti senang dengan kejutan. Bolehlah, sekali-dua kali kamu datang dengan buket bunga, atau buku, atau kue kesukaanku, walau bukan di hari spesial. Aku selalu membayangkan; saat sibuk di dapur atau menemani anak-anak bermain, kamu memasuki rumah diam-diam, lalu memelukku dari belakang sambil memegang bunga. Ah, sepertinya aku terlalu banyak membaca buku dan menonton drama Korea. Oke, lupakan saja.

Kalau nanti aku masih suka ngambek seperti sekarang, kamu jangan memarahiku, ya. Biasanya, aku akan menyakitimu—secara fisik—untuk meluapkan amarahku. Setelah itu, gantian aku yang merasa bersalah dan balik membanjirimu dengan cium dan peluk. Ya, seperti itulah aku. Apalagi di waktu-waktu PMS. Jadi, semoga kamu bisa menjadi suami yang sabar.

Jika kita bertengkar hebat, aku meminta dengan sangat jangan sampai kamu menceritakannya pada orang lain. Bagaimanapun, masalah di dalam rumah kita harus diselesaikan di sana juga. Tidak boleh ada orang lain yang ikut campur, apalagi keluarga sendiri. Aku tidak tanggung jawab kalau mereka menginginkan kita berpisah, lalu aku menyanggupi. Ya, aku tidak bisa berpikir jernih kalau sedang emosi. Dan perpisahan adalah momok paling menyeramkan dalam keluarga yang kutahu, dan tidak akan pernah ingin aku lalui.

Aku gampang menangis di depan orang yang benar-benar aku sayang. Karena kamu suamiku, jadi jangan heran kalau aku bisa menangis hanya karena kamu tinggal tidur duluan atau tidak kamu telepon seharian. Kalau sudah seperti itu, kamu jangan malah memarahiku, ya. Cukup usap kepalaku, kemudian memelukku dengan erat. Aku juga suka dicium, kok. Tenang saja. Haha.

Kalau nanti kita kehabisan bahan obrolan atau terlalu lelah seharian, aku malah akan senang jika kita berbaring di atas tempat tidur dalam diam. Aku akan melekatkan kepalaku di dadamu, dan kamu akan sesekali menciumi puncak kepalaku. Begitu saja, sampai kita tertidur pulas.

Mungkin aku bukan pacar yang baik (kalau kita sempat berpacaran), tapi insyaAllah aku akan menjadi istri terbaik untukmu. Membangunkanmu untuk berangkat bekerja, menyiapkan air hangat kalau kamu benci mandi dengan air dingin, menyiapkan pakaian dan peralatan yang akan kamu bawa, membuatkanmu sarapan, hingga mengantarkanmu sampai depan rumah. Juga merawatmu sepenuh hati kalau sedang sakit. Kalau sesekali aku tidak melakukannya dengan baik, mari kita tertawakan saja kebodohanku. Dan kuminta, jangan sekali-sekali membentakku. Karena semakin dibentak, aku bisa saja semakin menjadi pembangkang.

Aku berharap kamu pun bisa menjadi suami dan Bapak yang baik. Kamu bisa diandalkan untuk mendidik anak bersama, kan? Aku tidak mau anakku nanti takut dengan sosok seorang Bapak. Aku ingin Bapak dari anak-anakku bisa menjadi sahabat mereka sekaligus. Karena kalau aku sudah punya anak, kamu harus siap-siap aku nomorduakan. Bagaimanapun, kebutuhan mereka harus menjadi yang utama. Aku ingin mereka kritis dan tidak takut untuk mengeluarkan pendapat. Kecuali kalau kamu mau anak kita nanti mengidolakan orang lain, bukan kedua orantuanya.

Hmmm, kita bicara apa lagi, ya?

Mungkin untuk saat ini, begitu saja dulu. Semoga setelah membaca ini, kamu tetap ingin menjadikan perempuan paling egois dan banyak maunya ini sebagai istri. Hihi.
Sampai jumpa beberapa tahun lagi, calon suami.

Makassar, 15 Februari 2015, 16.23 WITA.
Ditulis dengan penuh cinta,



Calon istrimu.

Rabu, 03 Desember 2014

Hai, kamu..., kalian....

Hai, kamu.

Satu angka baru saja menyambut di penanggalan bulan terakhir tahun ini. Satu buku lagi akan kita tutup kembali, tak lama lagi. Tapi apa kamu pernah membuka buku-buku lama, mencari kesalahan untuk kauperbaiki di buku baru? Atau buku lama itu kaubiarkan teronggok, haus perhatian, sementara kau sibuk menoreh kesalahan-kesalahan baru, atau mungkin mengulang yang lama, untuk kemudian dipindahkan ke buku baru?

Hari ini, aku terlibat pembicaraan dengan seorang sahabat, tentangmu yang senang mengulang salah di matanya. Kamu, yang kepadanyalah kupercayakan sesuatu yang berharga untukku. Kamu, yang gemar pergi, namun selalu menjadi yang pertama kali kembali. Kamu, tempatku menyetia kini.

Bukan satu-dua orang yang memintaku berpikir ulang tentang keputusanku memilihmu. Tentang kamu yang sudah berkali-kali diberi kesempatan, lalu mengkhianati. Tentang kamu yang menjadi satu-satunya alasanku berteman sedih. Tentang kamu, yang membuat mereka bosan mendapatiku menyumpah atas salahmu, kemudian kembali mengelu-elukanmu pada akhirnya.

Tenang, aku tidak menulis ini untuk menyalahkanmu. Kamu tahu? Aku bersedia berdebat dengan siapapun yang menyangsikanmu—meragukan kesungguhanmu yang entah untuk keberapa kali berjanji untuk tidak menyiakanku lagi.

Untuk berpaling dariku, aku mengaku memiliki andil dalam dustamu itu. Aku yang terlalu egois, terlalu gampang menyuarakan panas di hati, terlalu mudah menggerakkan jemari untuk menyakiti, dan aku memaafkan kesalahanmu yang lalu tersebut.

Untuk beberapa teman dekat yang sempat mengisi hari setiap aku sendiri, terima kasih. Terima kasih untuk kebaikan, tawa, pengertian, dan menjadi sosok sempurna—yang kemudian kusadari tak ada yang bisa menerimaku apa adanya selain kamu.

Untuk beberapa yang bahkan masih nekat mendekati setelah aku dan kamu kembali, aku juga berterimakasih. Karenanya, aku menyadari betapa kehadiran ini sangat dihargai.

Ada saat di mana aku—dan mungkin beberapa sahabat kecewa—karena kamu yang pertama mengkhianati, lalu kemudian sadar betapa aku sepertinya lebih mengecewakanmu karena telah begitu mudah meladeni sosok lain. Karena selalu dibanjiri perhatian dari orang lain yang kuterima dengan senang hati. Sementara di suatu tempat yang entah, bisa saja kamu sedang membandingkanku dengan perempuan lain yang juga sedang kaudekati.

Maaf yang kuberi percuma, berkali-kali, membawaku pada kemungkinan bahwa akulah yang sebenarnya membutuhkan maaf itu, untuk diriku sendiri. Maaf karena selalu menjadi korban di mata orang-orang, tanpa mereka sadari, bukan mustahil aku sedang tertawa bahagia dengan lelucon lelaki lain sementara dirimu barangkali tengah mengabaikan perempuan lain yang sibuk mencari perhatianmu—karena asyik memikirkan apa yang pada saat itu baru saja aku lakukan.

Mereka, orang-orang yang sering menyayangkan keputusanku untuk kembali padamu, tidak tahu bahwa dalam beberapa hal, seharusnya akulah yang beruntung karena kamu masih memberi kesempatan untuk bersama, lagi dan lagi.

Katanya, orang-orang di luar lingkaran kita lebih tahu segala, karena mereka melihat, dan kita kerap menutup mata serta telinga. Tidak salah, memang. Tapi yang harus orang-orang tahu, kitalah yang merasakan. Kita yang sebenarnya lebih tahu apa alasan di balik setiap keputusan. Dan kita—aku atau kamu—yang tahu kapan harus kembali, ataupun berhenti.

Di sini, aku bukannya menyalahkan setiap komentar sinis mereka tentang kebodohanku memilihmu lagi dan lagi. Bukan. Aku hanya meminta mereka berhenti menghakimi, dan mendukung keputusan orang yang menjalani. Kadang, kita memang sering gemas dengan hubungan orang lain yang tidak sesuai pemikiran kita. Wajar. Tapi kita tidak memilih hak untuk menentukan, karena kita sendiri memiliki masalah masing-masing, kan?



Ini, ada jawaban untuk beberapa pertanyaan dari mereka yang sering membuatku merasa membuat keputusan—yang anehnya untuk kebahagiaanku sendiri—tapi tidak mereka hargai dengan pertanyaan yang... begitulah.

“Memang yakin pacaran lama, terus jodohnya juga sama itu?”
Yang namanya sudah pilihan sendiri, ya harus diyakini. Toh Allah juga yang menentukan. Aku bukan orang yang merasa membuang-buang waktu untuk berhubungan lama denganmu, selama kita meyakini pilihan ini dan memiliki tujuan akhir yang sama nanti.

“Kenapa nggak sama si itu aja, yang lebih mapan dan ganteng.”
Ganteng itu relatif. Dan aku yakin setiap orang sudah punya rezeki masing-masing. Kalau sekarang belum mapan, insya Allah nanti. Roda berputar terus, kan?

“Kamu yang pacaran, yang mau nikah nantinya, kenapa harus ikuti pendapat Mama yang katamu sudah kepalang suka sama pacar yang ini?”
Pernah dengar kalau firasat seorang Ibu untuk anaknya jarang meleset? Aku pernah memutuskan hubungan dengan seseorang karena Mama tidak setuju. Kalaupun Mama memintaku berhenti memperjuangkan empat tahun dengan lelaki ini, aku ikuti. Tapi untungnya, Mama mendukung. Jadi, apa aku harus tetap berhenti?

“Kalian pacaran, tapi jarang teleponan atau sms-an. Mending sekalian nggak punya pacar aja.”
Telepon, sms, bbm, bertukar mention di twitter, saling sapa di facebook, dan memamerkan kemesraan di media sosial tersebut sudah kami nikmati di tahun pertama hubungan. Bukannya kita sudah cukup dewasa untuk saling tahu kesibukan masing-masing? Jadi, saling mendoakan saja. Lebih pilih mana: dia menelepon tapi bisa saja sedang bersama perempuan lain, atau dia yang tiba-tiba mengetuk pintu rumahmu di tengah kesibukan hanya untuk mengobrol sebentar atau membawakan makanan kesukaan? Aku bukannya memilih opsi kedua, hanya saja begitulah caranya membahagiakanku hingga sekarang.

“Kenapa nggak cepat-cepat nikah? Kan sudah pacaran lama. Kan keluarga sudah saling tahu.”
Setiap pasangan, menikah pasti sudah menjadi tujuan akhir. Bukannya menunda atau tidak mau, tapi—untungnya lagi—aku dan dia sama-sama masih ingin menikmati masa muda. Kalau sudah menikah, aku pastinya harus berbakti sepenuh hati ke suami. Aku sudah tidak bebas liburan bersama kalian, mengiyakan setiap ajakan kalian ke manapun, dan mendengar cerita-cerita kalian karena aku sudah sibuk berusaha menjadi istri soleha.

Hai, kamu.

Saat membaca ini, kamu pasti bangga memilikiku. Mengaku saja, agar aku bahagia.

Terima kasih untuk jarang berjanji, namun sering memberi bukti. Terima kasih telah menyediakan telinga untuk setiap cerita-cerita yang tidak tahu harus kutumpahkan pada siapa lagi. Terima kasih untuk menjadi saudara, sahabat, dan kekasih sekaligus. Dan, terima kasih untuk mengerti.

Mari tutup telinga untuk mereka yang belum sampai di tahap ini.

Selasa, 21 Oktober 2014

Selamat, Mama.

21 Oktober 2014, 21.28 WITA

Mama, sudah keempat puluh delapan kalinya Mama melewati tanggal ini sepanjang hidup. Empat puluh delapan, bukan angka yang kecil dalam hitungan. Sudah sejauh ini, adakah yang masih mengganjal di hidup Mama? Atau... adakah harapan Mama yang belum terwujud? Karena aku, jika sudah seusia Mama nanti, berharap segala yang kutulis dan kugulung rapi di stoples berisi impian-impianku sudah menjelma nyata.

Mama, maaf karena di empat puluh delapan tahun hidup Mama, aku belum memberi sesuatu yang berarti, sesuatu yang membuat Mama bahagia sekaligus bangga sekali. Maaf karena telah menjadi satu-satunya anak yang lebih sering menyusahkan daripada menggembirakan. Maaf karena terlalu banyak mau, bahkan terkadang tak mengerti keadaan. Maaf karena tidak selalu ada, di akhir hari yang lelah maupun awal hari yang cerah. Maaf, maaf untuk segala salah dan keliru selama ini.

Mama, terima kasih karena di empat puluh delapan tahun hidup Mama, Mama telah menjadi ibu paling sempurna bagiku. Terima kasih karena mengerti tanpa perlu kujelaskan. Terima kasih karena selalu ada, walau aku masih abai. Terima kasih karena mengajarkanku kuat, walau kadang lewat kalimat demi kalimat yang tegas. Terima kasih karena telah mendidikku menjadi perempuan tegar, dan mandiri sehingga tak pernah menuntut banyak seperti anak tunggal yang manja di luar sana. Terima kasih karena sudah membesarkanku, memberiku segala tanpa mengharap lebih.

Mama, semoga masih ada empat puluh sembilan, bahkan sembilan puluh sembilan tahun untuk Mama. Untuk kita habiskan bersama. Untukku membuat Mama bangga, membuktikan bahwa segala kasih Mama dulu bisa kubalas dengan manis. Untukku melihat Mama menangis bangga dan semakin memamerkanku pada dunia. Untukku memberitahu, bahwa aku juga bisa sukses dengan jalan yang kupilih sendiri, dan impian-impian yang terwujud karena peluh diri. Untukku melihat Mama menghabiskan waktu dengan istirahat dan membiarkanku mengerjakan semua di rumah.

Mama, maaf untuk beberapa hal yang mungkin telah membuat kecewa. Maaf karena bukannya memberi ucapan dengan peluk hangat dan kecup di pipi, aku malah memilih menyendiri dan menulis surat yang belum Mama baca ini. Maaf karena menjadi anak satu-satunya yang tidak pernah menunjukkan cinta dengan gamblang seperti anak perempuan lain. Maaf karena aku lebih banyak diam, memendam, mencurahkan lewat tulisan, daripada menceritakan pada Mama segala kesah—mengharap peluk atau cium di dahi dengan pipi basah.

Mama, terima kasih untuk segala hal dalam dua puluh satu tahun hidupku, hidup perempuan yang hadir dari dalam diri Mama.

Selamat mengulang tanggal 21 Oktober, Mama. Selamat menikmati usia empat puluh delapan tahun. Suatu saat, bacalah ini, Ma. Karena aku mencintaimu lebih dari siapapun di dunia, lebih banyak dari jumlah kata yang dicipta dua puluh enam alfabet di bumi kita.


Rabu, 02 April 2014

Surat Untuk Mantan

1 April 2014, dini hari

Beberapa paragraf untukmu yang kenangannya masih jelas di ingatan

Ketika menulis surat ini, aku ingin kau mengingat bahwa aku adalah perempuan yang paling sulit memulai percakapan. Hai-kah? Halo? Apa kabar? Aku tak ingin terlihat kaku atau membosankan untukmu, seperti salah satu alasan yang membuatmu berpaling pada yang lebih menyenangkan, dulu. Karena itu, untuk menghilangkan canggungku,lebih baik kujelaskan saja daripada kau menertawakanku dan menyadari bahwa aku belum berubah juga.
Tak cukup setahun sejak kau meninggalkanku, aku mendapat kabar bahwa perempuan yang berhasil merebutmu dariku malah yang berbalik mencampakkanmu demi mantan kekasihnya. Apa boleh aku bertanya, bagaimana rasanya? Sesakit yang kurasa-kah? Bukan, aku jelas bukan orang yang mudah menertawakanmu karena mendapat karma—kau pun tahu itu. Hanya saja, jika kau ingin berbagi, ada aku di sini. Semoga kau tak lupa bahwa aku juga pernah merasakannya darimu.
Oh, iya. Kemarin ibuku masih menanyakan keadaanmu walau sudah berulang kali pula kujelaskan bahwa kita—maksudku aku dan kau—sudah lama tak bersama. Ibu hanya tak tahu bahwa putrinya ini sudah disakiti olehmu, mungkin. Kau juga pasti tahu aku bukan perempuan yang mudah menceritakan perasaanku dengan kata, apalagi pada perempuan yang sudah menganggapmu keluarganya. Tidak, aku tidak ingin membuatmu merasa bersalah atau memintamu bertandang ke rumah, cukup sekedar tahu saja.
Di paragraf keempat ini, rasanya aku ingin menulis semua kenangan empat tahun ketika aku dan dirimu masih berkedok kita. Tapi itu sama saja membuat rasa sendu yang selama ini kusembunyikan menyeruak, tumpah-ruah dari wadah yang tak mampu lagi menampungnya. Aku benci mengenang, karena tak ubahnya terus mengingat. Aku tahu aku tak seharusnya melupakan, karena waktu pasti bisa membuatnya suram. Tapi denganmu, tidak mencoba melupakan berarti terkungkung dalam bayang-bayang cinta dan sakit yang kauberi sepaket selama ini.
Kalau kaupikir kesendirianku setelah kepergianmu karena aku belum bisa benar-benar mengikhlaskan, kau salah. Aku sudah rela, bahkan sebelum kau menemukan yang baru dan aku mendapat firasat bahwa kau akan meninggalkanku, dulu. Kau sendiri bagaimana? Tak lelahkah berganti pasangan? Tak lelahkah memamerkan kemesraan pada dunia, lalu tak lama kemudian akhirnya berpisah dan berganti rekan berbagi cinta lagi secepat kedip mata? Bagaimana kau bisa menetap kalau tak bisa berhenti berjalan?
Mantan kekasih yang dulu sangat kucinta, berhentilah menyakiti hati perempuan. Kami juga punya perasaan yang tak ingin seenaknya kaupermainkan.
Di akhir surat ini, aku ingin memberitahumu sesuatu; aku yang masih memedulikanmu, bukan berarti masih mencintaimu. Aku yang masih setia sendiri, sebenarnya jauh lebih merasa baik-baik saja daripada hidupmu yang tak pernah terlihat sepi. Aku yang masih menyempatkan menulis surat, hanya agar apa yang tak dapat kuumbar lewat kata tak memiliki beribu makna tersirat. *)
*) tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel bernard batubara.

Kamis, 12 Desember 2013

Diam

Kau pasti tak tahu apa yang kulakukan kini
Ketika mentari pun masih lelap dalam mimpi
Masih seperti hari kemarin, menantimu hadir di sini
Walau tak pernah kau sadari

Tak mungkin aku yang terlebih dulu menyapa
Lidahku terlalu kelu untuk sekedar menyebut nama
Dan kau terlalu tinggi untuk kujaga
Namun tetap saja, terima kasih pernah ada
Walau tak pernah menyadari, aku pun ada

Aku meletakkan note book ketika kau akhirnya datang, berlari-lari kecil menyusuri jalanan di antara peluk pepohonan taman. Aku tetap mengamati, duduk bersanggahkan kursi besi, beberapa meter dari tubuh tegapmu yang kini melakukan stretching di seberang. Masih dengan setumpuk harapan yang sama dari hari ke hari, agar kau bisa menoleh dan sadar akan hadirku.
Setiap hari, bahkan ketika embun masih menguasai mulut dedaunan, aku selalu di sini. Tak usah menanyakan sejak kapan, bahkan angka-angka yang berbaris pada penanggalan tak mampu menjabarkan. Dan kau, alasan keberadaanku tak sedikit pun menyadarinya. Tak apa, asal sosokmu bisa kunikmati saja.
Kubuka lagi lembar demi lembar pada buku catatan mini yang menjadi objek segala curahan hati selama ini, yang hanya kutulis tanpa bisa kuungkapkan—sampai kapan jua. Pada lembar pertama, ada setitik noda yang membuat satu kata di sana menjadi buram. Noda bekas air mata yang kulepas untuk seseorang yang bahkan tak kutahu namanya.

Sebelumnya, aku tak pernah berani untuk jatuh cinta
Untuk apa membiarkan diri jatuh, sementara tak ada yang menyambut?
Sia-sia
Aku terlalu takut jika ada yang menyadari perasaanku nanti
Takut ia akan menanyakan sesuatu tentang hati

Bagaimana aku bisa menjawab pada akhirnya?
Bagaimana jika ia menyadari aku bahkan tak bisa untuk sekedar melafalkan namaku sendiri?
Bagaimana jika ia tak beda dengan lelaki lain, pergi begitu saja?

Karena itu, aku tak pernah berani untuk jatuh cinta
Karena itu juga, tak apa jika kau tak pernah menyadari hadir
Agar aku tak susah-susah meladenimu nanti
Dengan bibir yang tak akan menyapa—bahkan tak bisa sekedar mengucap nama
Bahagiaku cukup duduk di sini, menanti. Menikmati. Tanpa minta disadari.

Kamis, 27 Desember 2012

Mother's Day

Makassar, 27 Desember 2012
12:00 am

Betapa bahagia diriku
Menjadi buah hatimu
Betapa bahagia diriku
Berada di dekapanmu

Ibu,
Andai kau tahu
Betapa besar cintaku padamu
Betapa besar sayangku untukmu

Ingin ku ungkapkan
Rasa terima kasih ini padamu
Walau hanya lewat secarik kertas
Dan torehan tinta hitam

Ibu,
Terima kasihku padamu
Bahagiaku karenamu
Cinta kasihku untukmu


Ps: Puisi ini saya buat saat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar dulu, khusus untuk Mama :')


Mama, terima kasih atas segala macam pengorbananmu selama sembilan belas tahun ini. Terima kasih karena telah membuatku menjadi anak tunggal yang mandiri dan tegar dalam menghadapi cobaan hidup. Aku yang awalnya tidak menyukai sifat tegasmu dalam mendidikku, kini balik menjadi sangat mencintaimu sejak Papa meninggalkan kita. Kau segalanya bagiku, bahkan melebihi nyawaku sendiri. Jika aku sempat menyakitimu, mungkin aku sedang khilaf. Dan terima kasih juga untuk selalu menegurku, dalam cara apapun.
Mama, bisakah kita saling terbuka saja? Aku ingin selalu mendengar keluh kesahmu, bukan malah tinggal diam dan tak tahu apa-apa. Karena aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini.


Ps: Kalau yang di atas ini #100KataUntukIbu, lomba yang beberapa hari lalu dibuat Gagasmedia *walaupun tidak menang* :')

***

Sebenarnya, ini sudah lewat lima hari dari peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desember kemarin. Hanya saja, saya baru punya kesempatan untuk menulisnya. Yah, menulis tentang Ibu.

Membahas Ibu, tidak akan ada habisnya. Media apapun, sebanyak apapun karakter huruf dan spasi yang ia sediakan, takkan cukup untuk menulis apa saja tentang Ibu. Yah, wanita yang rela mempertaruhkan nyawa habis-habisan demi kelahiran kita ke dunia ini. Walaupun kadang balasan kita tidak setimpal dengan apa yang telah diberikannya dari tahun ke tahun. Sejak lahir, bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, tua, atau bahkan saat kita pergi mendahuluinya.

Saya termasuk sosok yang tidak bisa secara gamblang menunjukkan perhatian dan kasih sayang pada Ibu, atau wanita yang ku sebut Mama pada kenyataannya. Saya tidak pernah mengatakan, "Saya sayang Mama" atau "Saya cinta Mama". Tidak pernah. Hal yang bisa saya lakukan hanya mencium punggung tangannya setiap hendak bepergian, atau dengan setia merawatnya setiap beliau sakit, serta menulis apa saja untuknya. Bukannya hari Ibu itu tidak hanya pada tanggal 22 Desember setiap tahunnya?

Terima kasih pada Allah karena telah menganugerahi saya dengan kemampuan menulis. Karena hanya dengan itulah saya bisa menggambarkan bentuk kasih sayang pada Mama. Walau hanya lewat tulisan, saya sudah senang. Setidaknya saya bisa menunjukkannya, daripada orang lain yang tidak bisa apa-apa untuk membahagiakan orangtua, terutama Mama.

Hai, Mama. Kalau ada kesempatan, baca blog ini boleh kok. I love you, more than you know and more than all of the words in this world ♥

Masih balita


Lebaran 2011

Rabu, 19 Desember 2012

Kok Gue, Sih?

Kok Gue, Sih?




      Yogi memarkirkan mobilnya di pelataran parkir SMA 1. Lalu keluar dari mobil tersebut, diikuti Niken. Sementara di luar, Yeza berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Kesal.

            “Kalian berdua jahat banget, deh! Kok gak ngejemput gue, sih? Gue kan jadi naik angkot sendiri. Mana panas banget, lagi!” sembur Yeza dengan mulut yang dimonyong-monyongin.

            “Hehe... Sorry, ya. Kita kan mau berduaan aja,” balas Niken dengan senyum menyebalkan.

            “Ih, kok kalian tega banget, sih? Biasanya kan kita selalu bertiga kalo kemana-mana,” Yeza merajuk. Persis anak kecil.

            “Tapi sekarang udah beda, Yez..” kali ini Yogi yang bersuara. “Muaaahhh... Gue sama Niken kan udah jadian. Iya kan, sayang?” sambungnya seraya mengecup mesra kening milik Niken.

            Niken kontan melirik sinis cowok itu. Loh, bukannya gak ada perjanjian mesti ngasih tau Yeza kalo kami udah jadian, kan? Apalagi nyium! Sialan nih Yogi, ngambil kesempatan banget! batinnya.

            Yogi cuma tersenyum melihat Niken. Namun, “Adowww!!!” Sesaat kemudian langsung berganti ringisan saat Niken dengan senang hati menginjak kakinya penuh amarah.

            Yeza pun hanya cengengesan melihat tingkah kedua sahabatnya tersebut. Bener-bener pasangan yang serasi, gumamnya dalam hati.

***

            “Ngapain lo ngajak gue ke sini?” tanya Niken. Saat ini, mereka berdua sedang berada di Kafe Seventeen.

Yang ditanya hanya terdiam. Malah terlihat gelisah. Sedari tadi, kerjaannya cuma menoleh ke kiri-kanan, seakan mencari sesuatu.

“Lo kenapa sih, Yez? Kok jadi aneh kayak gini?” Niken bertanya lagi. Kali ini, dahinya sudah berlipat-lipat saking herannya.

Tiba-tiba Niken merasakan sebuah tangan menggenggam pundaknya. Dan saat ia menoleh, ia menemukan seseorang berkostum tweety di belakangnya.

“Ini... Siapa?” tanya cewek itu lagi. Pandangannya melekat pada sosok Yeza yang kerjaannya cuma diam melulu dari tadi.

Namun belum sempat dijawab oleh Yeza, sosok aneh berkostum tweety tersebut menyodorkan setangkai mawar kuning, sebuah kotak terbungkus kertas kado bergambar tweety, dan sepucuk surat yang juga beraksen kartun burung kesukaannya.

Dengan perasaan agak ragu, Niken pun akhirnya meraih ketiga benda itu dari genggaman sang tweety raksasa di hadapannya. Kemudian, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Aneh! Kenapa hari ini banyak banget yang jadi aneh, sih? Kesambet alien darimana, coba? Huh!

Niken membuka kotak tersebut perlahan. Jangan-jangan... BOM! Ah, gak mungkin! Gak mungkin! Kepalanya menggeleng mantap. Kotak di depannya sudah berhasil ia buka. Membuatnya menemukan sebuah boneka tweety sedang mengerlingkan mata sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya dengan lidah yang terjulur di dalam sana.

Niken mengerutkan dahinya. Lagi. Lalu kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling Kafe Seventeen. Masih ada Yeza di sebelahnya. Sedangkan si tweety raksasa tadi, lagi menirukan boneka tweety yang masih ada di dalam kotak di depannya. Membentuk huruf V dengan jari tangan kanannya.

“Lo lagi neror gue, ya?” Niken langsung menunjuk Yeza tepat di depan batang hidungnya.

“Apaan sih lo?” Yeza spontan menepis jemari Niken. “Mana ada orang yang neror pake benda-benda yang lo suka? Hah? Kalo lo dapet bom sih iya!”

Niken menatap meja di depannya. Setangkai mawar kuning, sebuah kotak kado dengan boneka tweety di dalamnya, dan... sebuah surat dengan amplop bergambar tweety. Ia pun segera merobek amplop tersebut dan buru-buru membaca isinya.

Gue gak mau banyak ngomong lagi
Gue cuma pengen lo tau, kalo gue udah lama mendem perasaan ini
Perasaan yang... Yah, gue sendiri sempat gak ngerti
Yang gue tau, gue baru nyadar kalo gue sayang sama lo
Bukan! Bukan sayang buat sahabat kayak yang gue pikir selama ini
Tapi lebih. Dan gue pengen lebih dari sahabat
Lo ngerti kan, Ken?
I Love You...
With Love,
Yogi

                Niken menganga. Tidak percaya.

            Yeza terdiam dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

            Sedangkan sosok berkostum tweety yang masih berdiri di depannya itu kini melepaskan kepala boneka yang melekat di kepalanya sedari tadi.

            Niken langsung shock saat melihat wajah dari balik boneka tersebut. “YOGI?” serunya.

            Yogi tersenyum. Kemudian duduk di depan Niken yang masih kelihatan kaget. “Lo mau nerima cinta gue kan, Ken?” tanya cowok itu sambil menggenggam jemari cewek yang duduk di depannya.

            “KOK GUE, SIH?” seru Niken. Makin tidak mengerti. “Bukannya lo suka sama Yeza?” lanjutnya seraya melirik Yeza yang duduk bersebelahan dengan Yogi.

            Yang dilirik malah ngakak. Mengundang perhatian hampir seisi kafe karena suara cemprengnya. “Ternyata Yogi hebat banget, ya... Lo udah masuk perangkap dia, lagi. Mana mungkin dia suka sama gue? Hahaha...”

            Dahi Niken makin berkerut. Kayanya besok dia bakal keriput lebih cepat. Tapi cuma di daerah dahi gara-gara hari ini.

            “Ceritain, Yez!” perintah Yogi sembari menyenggol siku Yeza yang nangkring di samping siku miliknya.

            “Gini, sebenernya Yogi gak pernah suka sama gue. Dia minta tolong sama lo, itu semua bukan buat nembak gue. Tapi buat pedekate diem-diem. Yah, selama ini kan kalo ada yang terang-terangan suka sama lo, lo pasti jadi jutek dan ngejauhin cowok itu. Iya, kan?” jelas Yeza.

            Niken menerawang. Mencoba mengingat-ingat. “Emang gue kayak gitu, ya?”

            “Yaelah, pake nanya, lagi. Udah, deh. Lupain aja. Sekarang lo jawab aja pertanyaan Yogi. Lo mau gak pacaran sama dia?” goda Yeza sambil melirik nakal ke arah cowok yang duduk di sebelahnya. “Eh, kayaknya gue cuma jadi obat nyamuk deh di sini. Kalo gitu, gue cabut dulu, ya! Byeee!”

            “Dari tadi, kek. Lama amat, sih! Hus... Hus... Sana!!!” Yogi mendorong tubuh Yeza menjauh.

            Yeza cuma pasrah. Walaupun bibirnya manyun.

            “Ken, jadi gimana, nih?” sambung Yogi seraya memperbaiki posisi duduknya.

            “Apanya?” tanya Niken polos. Mukanya memerah.

            “Itu...” Yogi memain-mainkan telunjuk kanan dan telunjuk kiri sambil menunjuk surat yang masih digenggam Niken dengan dagunya.

            Niken ikut melirik ke arah surat yang dipegangnya. “Hm, gimana, ya?”

            Keringat sebiji jagung mengalir di pelipis kanan Yogi. Menunggu kelanjutan kalimat Niken. Gelisah. Sekarang kakinya sendiri pun ia goyang-goyangkan. Tidak bisa diam.

            “Hu’um, deh...” sambung Niken akhirnya. Seraya mengangguk pelan. Kepalanya menunduk. Berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya.

            “Serius? Beneran?” seru Yogi. Ia berdiri dari duduknya.

            Niken mengangguk lagi.

            “Jadi sekarang kita udah resmi, nih? Kita udah pacaran, dong?”

            Niken kembali mengangguk.

            Yogi kontan menarik tangan Niken sampai cewek itu berdiri. Kemudian langsung memeluknya. Erat. Tidak memperdulikan pandangan orang-orang di sekitar mereka.

            Tidak jauh dari tempat kedua orang yang sedang beradegan mesra tersebut, Yeza berdiri sambil menahan tawanya. Tuhkaaan, gitu aja susah banget ngomongnya. Andai gak dicoba, gak bakal jadian tuh anak dua sampe sekarang, gumamnya dalam hati.

Rabu, 12 Desember 2012

I Miss You



Makassar, 12 Desember 2012

04.12 pm


Dear you, someone I miss...
Terima kasih karena telah menemaniku semalam. Terima kasih karena telah meluangkan waktu di tengah kesibukanmu hanya untuk memenuhi keinginanku. Terima kasih untuk semuanya, selama ini.

Semalam, setelah kau pulang, aku merasa ada yang berbeda. Baiklah, bukan hanya sekali-dua kali kita mengalami ini. Saat semuanya terasa... asing. Yah, kau berubah. Aku pun *mungkin* juga demikian. Entah karena sudah terjebak waktu terlalu lama, atau mungkin rasa ini yang malah dikikis oleh sang waktu. Aku juga tak tahu.

Masih kuat di ingatanku, ketika kita pertama kali bertemu. Kau sempat mengusap kepalaku saat hendak pergi, dan selalu memanjakanku dengan senyuman ramah. Khas dirimu. Ah, aku sangat bahagia waktu itu. Rasanya, aku ingin mengulangnya lagi. Sekarang, saat aku mulai merindukan kamu yang dulu. Kamu yang dulu setia memanjakanku dengan tawa, atau kasih sayang berlimpah.

Kini, ada yang berubah. Kau tak lagi sehangat dahulu. Kau bahkan gampang panas, membuatku tak tahan berlama-lama berada dalam pelukanmu. Banyak yang membuatku mengernyitkan dahi, heran dengan banyaknya perubahan yang ku dapatkan darimu. Apa aku yang salah, atau memang kau yang benar-benar berubah?

Dear you, kekasihku dua tahun belakangan ini
Apakah kau telah lelah menghadapi perempuan egois sepertiku? Apakah kau telah bosan menghabiskan waktu denganku selama ini? Apakah kau ingin bebas, terlepas dari segala macam permintaan dariku? Apakah kau menginginkan yang lebih baik dariku? Baiklah.

Segala macam cara telah kita lalui. Salah satunya dengan... berpisah. Yah, bisakah kau menghitung sudah berapa kali kita memutuskan hubungan? Pasti tidak. Saking seringnya. Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk mengembalikanmu seperti dulu? Yang telah membuatku jatuh cinta itu.

Lewat surat ini, aku hanya ingin memberitahumu. Memberitahu bahwa aku sangat merindukan kamu yang dulu. Tanpa perubahan negatif sedikitpun.

With love,
Someone who missed you.

Sabtu, 17 November 2012

See You Later!

Makassar, 17 November 2012

at 02.48 PM

Dear you,
Kau tahu? Susah sekali melepaskanmu pergi tanpa air mata pagi tadi. Namun nyatanya, aku berhasil. Aku tidak meneteskan setitik kristal bening pun sejak mengantarmu ke bandara, hingga saat ini. Yah, aku tidak menangis sedikitpun. Padahal kau tahu sendiri kan, aku tidak bisa menahan air mataku di depanmu dalam kondisi yang benar-benar sedih. Tapi kali ini, aku mampu membuktikannya.

Semalam, kau sudah berkali-kali mengingatkanku untuk tidur lebih cepat. Agar aku tidak kesiangan mengantarmu ke bandara. Namun memang dasarnya aku susah terlelap, aku malah tidur jam dua belas dini hari :p Sorry to let you know then.

Aku senang, kau membangunkanku pagi-pagi sekali. Menyuruhku bersiap-siap ke bandara. Mengingatkan untuk membangunkan teman-temanku yang akan mengantarmu juga. Tak berhenti mengontrolku selama dalam perjalanan. Takut aku kenapa-kenapa, katamu. Ah, kau memang berbeda. Dan aku mencintaimu apa-adanya.

Ternyata, aku tiba mendahuluimu di bandara. Duduk beberapa menit, pesan singkat dari beberapa keponakanmu meramaikan handphone milikku. Mereka menanyakan keberadaanku yang notabene sudah duduk cantik di depan bandara. Tidak lama kemudian, kau meneleponku. Berkata bahwa kau sudah di tempat yang ku instruksikan lewat sms sebagai tempatku menunggumu bersama teman-temanku. Aku langsung berdiri, mengedarkan pandanganku yang baru ku sadari tidak bisa melihat jarak jauh ini. Hasilnya, kau malah ditemukan oleh temanku -_-

Kaki-kaki kecilku melangkah mantap ke arahmu. Kau, yang pagi ini terlihat makin gagah dengan setelan kemeja putih bersih, celana kain hitam, dan sepatu keds putih. Sebuah trolly yang sudah berisi tas dan barang-barang milikmu berdiri kokoh di sebelah keluarga besarmu.

Rasanya, aku masih bermimpi. Melihatmu di sebelahku. Tertawa, mengusiliku, sambil sesekali sibuk mondar-mandir mengikuti perintah sang *calon* atasan. Ah, aku bahkan sudah membayangkan kau yang berdiri tegak di sana, dengan penuh wibawa lengkap dengan seragam penerbangan.

Sayangnya, aku harus pulang lebih dulu. Aku tidak sempat melihatmu menghilang dari pintu masuk bandara menuju ruang tunggu. Namun aku cukup bahagia karna kau tak berhenti mengirimiku pesan singkat sebagai pengganti hadirmu. Nantinya.

Sepanjang hari ini, kau terus meneleponku. Menanyakan kabar, mengeluh masalah cuaca di Jakarta yang sangat panas. Sampai masalah telingamu yang pengang sehabis naik pesawat. How come? Padahal nantinya kan kau yang akan mengendarai pesawat itu sendiri *Aamiin* O:)

Besok, kesabaran kita akan diuji. Saat dimana kau harus kehilangan alat komunikasimu karena harus konsentrasi pada test. Dan saat dimana aku harus membiasakan diri tanpa kabar darimu. Semoga kita berdua bisa melewatinya. Semoga pula kau lulus, lalu meraih kesuksesan yang sejak dulu kau impikan.

Ps: Jaga kesehatan ya!



Someone who missed you so,


Your girlfriend.



Kamis, 15 November 2012

Teruntuk yang Tersayang

Makassar, 15 November 2012
02.31 AM


Dear you,
Ini sudah hari Kamis. Tepatnya dua hari sebelum keberangkatanmu. Apa kau juga merasakan sepertiku? Takut merasa kehilangan. Berjuta-juta pertanyaan yang diawali kata "Bagaimana?" selalu menari-nari di pikiranku. Bagaimana aku bisa melewati hari-hari tanpamu? Bagaimana caraku meredam rindu saat kau di sana, sementara kau tidak bisa menggunakan alat komunikasi apapun? Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan yang menuntut jawaban akan kehadiranmu?

Sayang,
Apa kau akan baik-baik saja di sana? Apa kau akan memegang janji kita untuk saling setia? Apa kau akan menjalani masa pendidikan dengan baik di tanah Jawa sana, lalu kembali padaku? Membayar janji yang kau tanamkan beberapa hari yang lalu, tiga tahun lagi.

Kekasihku dua tahun terakhir ini,
Terima kasih karna telah menghabiskan lebih banyak waktu di hari-hari terakhir kebersamaan kita. Terima kasih untuk cinta yang tak terhingga selama ini. Terima kasih atas semua hadiah dan kehadiranmu adalah hadiah terindah yang Allah berikan padaku, selain keluarga dan sahabatku tentunya. Terima kasih...

Lelakiku tersayang,
Maaf bila selama ini aku egois. Aku juga sudah memaafkan segala keegoisanmu. Yah, mungkin karena kita terlahir di bulan dan tahun yang sama, jadi kita memiliki sifat yang sama pula. Sama-sama mau menang sendiri. Walaupun porsinya lebih banyak padaku :p

Untukmu yang mengenalkanku cinta,
Baik-baik yah di sana. Aku mempercayaimu. Waktu dua tahun lebih sudah cukup untukku mengenalmu luar-dalam. Dan aku yakin, kau bukan tipe laki-laki yang mengumbar janji palsu untuk wanita yang kau sayangi. Itulah salah satu yang kusuka darimu. Kau sangat mencintai Ibumu, satu-satunya wanita di dalam keluarga kecilmu. Semoga kau juga mencintai istrimu kelak. Dan semoga wanita beruntung itu adalah aku :')

Teruntuk yang Tersayang,
Jaga dirimu baik-baik di sana. Aku tidak bisa sering-sering menjengukmu ke pusat pendidikan perwira penerbangan tersebut. Namun semoga aku memiliki kesempatan ke sana. Menatapmu dari dekat agar waktu tiga tahun itu tidak terlalu berasa. Dan kita bisa melepas rindu yang bertumpuk bagai tumor dalam sanubari ini.

Ps : Ingat janji kita ya :*

Yang menyayangimu,


Aku ♥