Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Februari 2016

Bagaimana Jika

Bagaimana jika setelah berpisah, aku masih menunggu telepon dan pesanmu setiap hari?
Atau masih bergegas ke pintu depan, hanya karena suara kendaraan yang menyerupai milikmu?
Atau masih tak rela menghapus seluruh pesan di ponsel, karena seluruhnya adalah darimu?
Bagaimana jika, aku masih hidup bersama masih-masihku yang lain?

Bagaimana jika setelah berpisah, lalu kita bertemu lagi?
Bagaimana jika aku tak kuasa menahan diri untuk berlari
menghampiri pertama kali, menyapamu seperti seorang kekasih?
Bagaimana jika aku malah membeku
tak sanggup memberi reaksi, lalu kita hanya bertukar tatap seakan tak pernah saling tahu?
Bagaimana jika, aku bahkan tak bisa mengendalikan diri sendiri?

Bagaimana jika setelah berpisah, aku sering membandingkanmu dengan kekasihku kini?
Dia yang tak mengerti leluconku
Dia yang tak memujiku di depan orang-orang
Dia yang tak memberiku kejutan seperti caramu
Dia yang tak mengerti bahasa di balik seluruh bisuku
Dia yang gampang bosan dengan cerita-ceritaku yang tak tahu akan kubagi pada siapa lagi
Bagaimana jika, aku tetap mempertahankanmu di dalam kepala, pun nurani?

Bagaimana jika setelah berpisah, orang-orang mengira kita masih bersama?
Apa aku harus berkata sejujurnya, berpura-pura baik-baik saja di depan mereka?
Apa aku harus berbohong, agar tak ada yang tahu deras di wajah setiap malamnya
deras di hati setiap saatnya?
Bagaimana jika, aku terus hidup di dalam ilusi tentangmu dan hubungan kita dulu?

Bagaimana jika setelah berpisah, kita bertemu kala bersama kekasih masing-masing?
Bagaimana jika aku merasa lebih baik dalam segala hal dari kekasihmu yang sekarang?
Bagaimana jika aku hanya menatapmu, melupakan genggam hangat yang enggan melepaskan jemari?
Bagaimana jika aku tak mampu mengontrol ekspresi, dan kau menemukan sedih ini?
Bagaimana jika, kau pun masih memandangku dengan cara yang sama seperti milikku?

Katamu, “Kita akan baik-baik saja walau tak bersama,”
katamu, “Kita sudah saling tahu terlalu banyak hal untuk merasa berat menghadapi perpisahan,”
katamu, “Kita akan baik-baik saja,”
katamu, “Aku selalu cinta. Aku tahu kau pun begitu,”
katamu, “Kita akan baik-baik saja setelah tak lagi bersama,”
katamu, “Bersama tak cocok untuk kita.”

Kalau kita akan baik-baik saja, lalu mengapa aku membiarkan malam menemani lebih panjang
menunggu teleponmu
membaca seluruh pesanmu berulang-ulang
melihat foto-foto kita sekian tahun terakhir
mendengar lagu sendu untuk kembali mengingatmu
lagi dan lagi?

Kalau kita sudah saling tahu terlalu banyak hal, apa kau tahu aku belum pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, sedalam-dalamnya, seperti yang kurasa padamu?
Hingga membuatku terlalu sering mengedarkan pandangan setiap bepergian
di kafe yang pernah kita kunjungi
di jalan raya sekitar tempat tinggalmu
bahkan di tengah kemacetan dengan kurungan gerimis
ditemani kenangan-kenangan kita dulu yang enggan mati dari kepala

Kalau kau selalu cinta, kenapa malah melepaskan dengan rela?
Kalau kau selalu cinta, kenapa tak mempertahankan?
Kalau kau selalu cinta, kenapa tak pernah menanyakan kabar?
Kalau kau selalu cinta, apa bagimu artiku hanya sebatas sekian tahun kemarin?

Bagaimana mungkin kita akan baik-baik saja, seperti katamu?
Bagaimana mungkin cinta malah membuat seseorang ingin berpisah, seperti katamu?
Bagaimana mungkin dua orang yang saling cinta tak cocok bersama, seperti katamu?

Bagaimana jika setelah berpisah, aku bahkan tak bisa melupakanmu dengan segala benci yang kupupuk sebisaku?
Sementara kau sudah bahagia tanpaku?
Bagaimana jika setelah berpisah, cintaku malah semakin menggunung karena kau jauh?
Sementara cintamu sudah habis kauberi pada kekasihmu yang baru?

Bagaimana jika...,
Bagaimana jika sedari dulu...,
Bagaimana jika sedari dulu memang hanya aku yang selalu cinta?

Kamis, 15 Oktober 2015

Membunuhmu


Ada waktu-waktu ketika aku ingin membunuhmu
Dari dalam dada, pun kepala
Bersama airmata yang menderas di Agustus
Juga amarah yang meletus-letus

Aku pernah membunuhmu di dalam cerita-cerita dari jemari
Hingga kau akhirnya tak lagi menjadi yang terus bahagia
Lalu aku kembali sesenggukan, meraung-raung, merintih, meratapi
Tak mampu menahan pedih karena ditinggalkan lagi

Semakin tua tahun, semakin tak terhingga hitungan kebersamaan,
aku semakin lelah menghidupkanmu di dalam kepala
Aku ingin kau mati saja, bersama bulir peluh yang keluar dari pori
Atau bergabung dengan sisa makanan yang berhasil kucerna
Tapi aku tak tega

Aku mencintaimu sedalam-dalamnya, sedalam dirimu setiap menembusku
Namun kau hanya sebatas itu, membuat keinginan membunuhku tak
habis-habis,
walau belum bisa menandingi banyaknya kasih yang selama ini mampu
kuberi

Aku ingin membuatmu merasakan mati,
seperti yang ramah kurasa setiap dini hari, kala kau mematikan telepon
terlebih dahulu sebelum nada-nada rinduku terbalas
seperti yang akrab menyapa hariku dalam jelma noda bekas airmata yang
tak hilang-hilang dari bantal
seperti yang karib merasuki dada dalam perih tanpa luka, tapi lebih pedih
dari baret yang berdarah-darah

Tenang saja, aku akan membunuhmu dengan cara sederhana
Bukan melukaimu, seperti yang selama ini dengan mudah kaulakukan
padaku
Bukan pula dengan meninggalkanmu, karena aku tak bisa menjadi yang
pertama membalikkan tubuh
Bukan juga dengan melupakan, seperti alasan berujung maaf yang sudah
kuhafal hingga ke sudut terdalam kepala

Suatu saat, semoga ada waktu di mana aku mampu membunuhmu
Lewat kata cinta yang perlahan memudar
Tawa yang lenyap
Atau tatap mata yang kering akan kasih setiap menemuimu
Suatu saat nanti

Atau semoga kau panjang umur
Terpelihara, renta, dan mati dengan sendirinya tanpa cinta
Agar aku tidak perlu berpura-pura menjadi jahat yang bukan aku
Dan kau membusuk dari dahi, kaki, hingga hati
yang tak pernah untukku

Minggu, 11 Oktober 2015

Menjadi Dewasa 2

Menjadi dewasa mewajibkanku menjadi sempurna
Bekerja di balik meja, berpakaian rapi, bersepatu hak tinggi, wangi, putih,
mulus tanpa noda, dibalut kosmetik mahal, dengan senyum selebar
mungkin
Tak peduli dada tercekik kemeja ketat, juga kaki yang berdarah-darah
Atau debum sesuatu di dalam kepala pada akhir hari yang melelahkan

Menjadi dewasa membuatku begitu patuh memenuhi permintaan orang lain
Ketika keluarga menyuruhku menikah
Aku memaksa kekasih yang baru kukenal untuk melamar
Dan tanpa sadar, bersedia menyerahkan seluruh hidupku selanjutnya
pada seseorang yang mungkin saja belum tahu tujuan hidupnya apa

Menjadi dewasa memaksaku mendaulat kesendirian sebagai
satu-satunya teman
Setelah sekian hari dikelilingi orang-orang yang hanya ingin
didengarmengerti
Atau kertas-kertas yang lebih penting dari kesehatan punggung, mata,
bahkan jiwa
Sementara segala gelisah dan masalah meledak di kepala sendiri,
tanpa ada yang menaruh rasa prihatin, atau iba, atau setitik saja perhatian

Menjadi dewasa menuntutku untuk mengikuti norma-norma 
Mengikuti perkembangan mode, produk teknologi, atau
kendaraan model terbaru
Hanya untuk membuktikan banyaknya deretan angka nol di belakang
bilangan asli yang masuk ke rekening tiap bulannya
Seakan norma bukan lagi tentang agama, sosial, dan susila

Menjadi dewasa menyadarkanku bahwa semakin banyak usia, semakin
kita lupa makna hidup yang sebenarnya
Kalau tahu menjadi dewasa menjauhkanku dengan bahagia, aku tetap
menjadi anak kecil saja
Yang tawanya mengucur seperti Desember yang rinai
Yang tangisnya hanya terbit karena jatuh kala berlari

Menjadi dewasa, belum tentu menjadikan kita manusia.

Minggu, 06 September 2015

Cinta

Aku akan mengajakmu berkenalan dengan seorang perempuan. Sama seperti perempuan lainnya, ia memiliki perasaan yang lemah. Aku sering mendengar cerita-ceritanya sambil menangis bersama. Kadang kuusap lengan tirusnya, walau aku sendiri larut bersama genangan yang meluap dari kedua mata kami. Kadang pula ia bercerita sambil tertawa, namun perih di telinga. Kadang aku hanya menatapnya sambil berpikir, “Mungkin ia hanya mengarang. Mungkin ia hanya terhibur oleh airmataku yang dengan mudahnya mengalir untuk kisah-kisahnya.”

Malam ini, ia kembali memulai cerita-ceritanya yang tak pernah habis, untukku.

“Aku mencintai seorang lelaki, sudah bertahun-tahun. Awalnya, lelaki itu mengaku mencintaiku juga, hingga kami memutuskan bersama. Bayangkan betapa bahagianya aku kala itu. Akhirnya ada yang berbagi tawa denganku, ada yang membuat dadaku berdebar-debar setiap hening menguasai karena kedua matanya mengunciku. Kala itu, aku menyebutnya tatapan penuh cinta. Ia setia mendengarkan keluhanku tentang sekitar, bahkan rahasia-rahasia yang selama ini hanya murni rahasia kubagi juga dengannya. Kala itu, kupikir ia benar-benar mencintaiku.

Kalau kau jadi aku, kau akan berpikir begitu juga, kan?

Hingga akhirnya, aku berani menangis di hadapannya. Menangis untuknya. Aku mengakui betapa aku telah jatuh sejatuh-jatuhnya, cinta secinta-cintanya, dan berani sakit sesakit-sakitnya, asal itu berarti aku masih bisa menyebut kita untuk merujuk pada hubungan ini. Pada kita tersebut, aku memberikan seluruh harapan untuk kebahagiaanku hingga nanti. Kau tahu betapa berani aku kala itu? Aku telah menyerahkan segala yang kupunya, pada seorang lelaki yang kala itu mengaku mencintaiku, dan kupercaya seluruh janji-janjinya. Aku  telah mengakui kekalahanku. Kala itu, ia menang atas segalanya. Tapi kupikir, kala itu, tak apa. Toh dia mencintaiku.

Kalau kau jadi aku, kau akan berpikir begitu juga, kan?

Tahun demi tahun berlalu, seperti pohon-pohon yang terlewati begitu saja ketika kita di atas kereta, ia mengaku masih mencintaiku. Suatu waktu, aku kembali menangis. Ya, aku sering menangis karena hal-hal kecil di depannya. Seakan seluruh airmata yang membeku di balik kedok perempuan kuat yang kujaga sepenuh tenaga, luruh hanya untuknya. Ia yang dulunya mendengar ceritaku di antara isak sambil mengelus kepalaku, kini mulai membentak. Kau mungkin tak tahu bagaimana rasanya seorang perempuan dewasa diperintah untuk berhenti menangis, apalagi dengan alasan airmataku ini mengganggunya.

Katakan padaku, salahkah kalau aku menangis? Aku lelah dengan hari-hari yang berat, penat, dan bertemu dengannya membuat seluruh lelahku luruh menjadi airmata, menjadikanku manusia, jadi salahkah aku menumpahkannya di hadapannya? Aku hanya ingin ditenangkan dengan peluk. Aku lelah memeluk diriku sendiri di pertengahan malam, membekap mulutku agar tak ada yang bertanya, agar sedihku kutelan sendiri, menyembunyikannya karena aku harus berjuang menjadi perempuan kuat di depan orang-orang keesokan harinya.

Katakan padaku, salahkah kalau aku menangis? Aku tidak pernah memintanya mendengar lelahku. Menangis di hadapannya adalah satu-satunya caraku menjadi manusia, menjadi perempuan lemah, karena hanya kepadanya akan kutunjukkan itu. Aku bukan perempuan kuat seperti yang kuperlihatkan pada dunia—pada dunia yang jika diriku tak kulindungi, tak ada yang kusembunyikan, mereka akan menginjakku hingga remuk tak berupa.

Karena itu hanya padanya, hanya di hadapannya, aku bisa menangis.

Namun seberapa kesalnya ia pada airmataku, aku tak jua berhenti menangis. Karena aku mencintainya. Karena katanya, ia juga mencintaiku. Ia jelas masih mencintaiku karena tak pernah pergi.

Kalau kau jadi aku, kau akan berpikir begitu juga, kan?

Tahun demi tahun berlalu, membolak-balik kalender tak lagi membuatku resah karena waktu bergulir terlalu tergesa, ia mengaku masih mencintaiku. Kau tahu apa yang kulakukan? Aku memberinya ujian. Aku mulai kasar. Aku marah untuk hal-hal sepele. Aku menuduhnya untuk perihal yang hidup di kepalaku. Aku meninggalkan bekas luka dan lebam di tubuhnya setiap kesal. Dia? Tentu saja dia masih di sini, tak juga meninggalkanku.

Dia masih mencintaiku.

Kalau kau jadi aku, kau akan berpikir begitu juga, kan?

Tahun demi tahun berlalu, anak kecil yang kemarin masih kesusahan mengeja nama kini sudah mampu membedakan integrasi dan integritas, ia mengaku masih mencintaiku. Entah sudah kali keberapa aku memohon untuk berpisah, tapi ia tetap mempertahankan. Kami sudah terlalu lama bersama, aku sudah menerima seluruh sifat dan sikapnya apa adanya, bahkan keluarga yang sudah telanjur saling tahu, selalu menjadi alasannya. Terus diulang-ulang setiap kali kami bertengkar hebat dan berakhir teriakanku meneriakkan pisah.

Hingga bertahun-tahun, ia tidak pernah menjadikan cinta sebagai alasannya masih di sini, bersamaku.
Ia, lelaki yang menjadikan cinta sebagai alasannya memilihku bertahun-tahun lalu, tidak pernah sekalipun menyebutkan alasannya mempertahankanku, memperjuangkan kita, adalah karena masih cinta.

Salahkah jika aku menuntutnya merapalkan kata itu untukku lagi? Kami sudah bersama selama sekian tahun, memang. Tapi kalau ia masih cinta, setidaknya aku bisa menaruh kepercayaan pada kata itu lagi dan benar-benar tinggal.

Kalau kau jadi aku, kau akan berpikir begitu juga, kan?”

“Lalu, bagaimana kalian sekarang?” tanyaku saat ia menghentikan cerita, menyesap kopi yang kuseduh untuknya tadi.

Perempuan itu mengedikkan bahu, sebelum menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya dalam sekali sentak.

“Kami? Baik-baik saja. Ia tidak mengizinkanku pergi, jadi aku menuruti,” akunya.

“Tapi bukannya—”

“Kau boleh menyebutku bodoh. Tapi, cobalah jatuh cinta. Jatuh sejatuh-jatuhnya, cinta secinta-cintanya, hingga sakit sesakit-sakitnya. Kalau sudah merasakan sakit sesakit-sakitnya, kau akan menjadi perempuan paling kebal yang pernah ada. Percayalah.”

“Jadi..., kalian sekarang...?”

“Kami? Tidak ada yang berubah. Kami masih bersama. Aku sudah bercerita, kan? Dia tidak ingin berpisah.

Dan..., tidak. Dia tidak juga menyebut cinta sebagai alasannya.”

“Lalu kau masih bertahan? Kenapa tidak menuntutnya?” cecarku.

Oh, ayolah. Aku mulai membenci lelaki yang bersamanya sekarang, siapapun itu, walau mengenalnya hanya melalui cerita-cerita perempuan ini. Lelaki itu tidak pantas untuk perempuan ini.

Ia pantas mendapatkan yang lebih baik. Ia harus pergi dan bertemu banyak orang. Ia harus bahagia.

“Sekali lagi; cobalah jatuh cinta.
Saat dirimu sudah menyerahkan jiwa dan raga ke dalam perangkapnya, seluruh pertanyaanmu tentang segala yang kulakukan saat ini akan tertelan sendiri.
Aku, kau, kita, tidak membutuhkan jawaban ketika jatuh cinta. Percayalah.”

Malam ini, aku tak lagi menangis mendengar kisah-kisahnya.

Aku kesal.
Aku berjanji tidak akan jatuh cinta.
Aku tidak ingin menjadi perempuan lemah, dan bodoh sekaligus seperti dia.


Sabtu, 16 Mei 2015

You Left Me

“Aku tak ke mana-mana
Melangkah menjauhimu
Bukan pergi namanya
Aku hanya beranjak ke arah yang berbeda,”
katamu kala itu

Katamu, aku harus percaya apapun yang kau ucap
Katamu, mimpi-mimpi ini pasti akan terbangun dari lelap
Katamu, janji-janji ini pasti akan terpenuhi
Katamu, kita masih akan menjadi orang yang sama nanti

Suatu saat dari hari ini
Aku kemudian mendapati diri masih memercayaimu
Beberapa tahun dari hari itu
Aku masih di sini, terlena oleh janji dan mimpi

Namun di suatu saat tersebut
Aku tak tahu; apa kau masih di sini
Atau hanya bualanmu yang setia menemani


Rabu, 29 Oktober 2014

apa saja

aku selalu senang duduk di sini
menatap ombak menggoda jemari kaki
dengan toskanya yang genit
seakan meminta melupakan segala sakit

katamu, kamu mencintai laut
tempat teriakan sarat rindumu bersahut-sahut
sedang kala itu aku telanjur jatuh hati pada langit
dia selalu sanggup meredakan konflik antara logika dan hati yang sengit

di sini, aku tengah menikmati kesukaanmu
apa kamu mencintainya lebih dari rasamu pada perempuan itu?
kalau iya, aku bisa menjadi laut
tempatmu melupakan kalut

aku juga bisa menjadi langit
nanti kuajari kamu mencintainya juga
atau... kamu mau aku jadi apa?
asal bisa merasakan cinta darimu, aku bisa jadi apa saja.


Sabtu, 18 Oktober 2014

I called it love, and you?

Jika kabar hanya deretan huruf yang menyuratkan rindu, sesulit itukah memberiku?
Jika kabar hanya tulisan abstrak dalam kertas kusut, sesusah itukah agar tak membiarkanku kalut?
Jika kabar hanya berisi, “Aku baik-baik saja,” sesukar itukah untuk membuatku lega?
Jika kabar hanya sekadar tentang menunggu, apa selama ini hanya aku yang merindu?

Kebersamaan kita yang awet hanya kisaran angka tanpa kabar
Aku yang kelihatannya selalu bahagia hanya bersembunyi dari kehausanku akan kabar
Kebersamaan yang berakar saling percaya, pada akhirnya juga membutuhkan kabar
Aku masih percaya bahwa jika kau merasakan rindu yang sama, kau pasti memberi kabar

Nyatanya?
Kabar hanya tentang deretan huruf dan dan tulisan di layar ponselmu

Sementara bagiku, bagi kami—perempuan, kabar adalah segala sesuatu tentang cinta
Tentang bagaimana kau merasa rindu yang sama
Tentang bagaimana kadar cinta yang juga kaupunya
Tentang bagaimana kau pun tak mampu menumpuk rasa untuk berjumpa
Tentang bagaimana kau menghargai hubungan yang tak melulu mengenai bertukar telepati di kepala
Bukan semata tentang saling percaya.

Jika kabar adalah saling percaya tanpa kabar darimu, apakah status kauanggap sebagai rantai agar aku terus di sisimu?
Kalau iya, terima kasih, karena kini kau berhasil membuatku tak ke mana-mana.

Tapi, izinkan aku mengingatkanmu—yang entah sudah keberapa kali
Bila suatu saat aku letih, tak usah bertanya mengapa aku pergi
Jika tiba-tiba ada yang menghujani perhatian, jangan heran karena aku meladeni
Mungkin pada saat itu, suatu hari nanti, yang masih entah, aku pasti akan berhenti.

Selasa, 25 Februari 2014

Menunggu Purnama

Aku membenci diriku yang masih setia merapal namamu di akhir doa, di setiap pertemuan rahasiaku dengan Tuhan. Namamu yang seharusnya tak menjadi bagian dari kehidupanku lagi setelah kau memutuskan pergi dan meninggalkan pertama kali.
Aku membenci diriku yang selalu membentangkan tangan, menyambutmu datang—lagi-dan lagi—setelah menyakiti sesuka hati. Bodohkah? Tidak, sayang. Ini namanya cinta. Kau akan mati rasa ketika ia yang berkuasa.
Kini, di bawah kuasamu, aku memasrahkan diri. Aku tak tahu mencintai akan semenyenangkan ini. Menikmati gelenyar aneh dengan tatapan tajammu yang mengawasi. Dari jarak sedekat ini, setelah sekian lama tak saling memandangi, membuatku tak ingin berhenti. Kau menjelma sosok tak nyata yang sewaktu-waktu bisa saja menghilang dalam sekali kedip, dan aku tak akan membiarkannya terjadi. Tak apa mata perih, asal kau menyetia di sisi.
Peduli setan dengan komentar orang-orang yang mencacimu karena memanfaatkan cintaku yang menggunung. Tak apa, sayang... nikmatilah selagi aku masih mampu memuaskanmu. Apa ruginya mereka dibanding diriku yang harus menahan rindu bertubi ditinggalkanmu? Mereka tahu apa tentangku? Mereka hanya tahu menghujat dari kepercayaan pada indra penglihat, katamu dulu.
Tenang, sayang... lanjutkanlah pekerjaanmu dengan bibirku. Aku pun enggan mengacuhkan bunyi gadget milikmu yang meramaikan kamarku. Berniat menanyakan pengirimnya yang tak sabaran itu pun, aku tak mau. Asal kau tetap berkonsentrasi padaku.
Mencinta dan disakiti diciptakan untuk menjadi satu. Kurasa siapapun tahu itu. Aku tak peduli bagaimana akhirnya, ketika saat ini kau dan aku sendiri sudah bersatu. Yang kutahu hanya melewatkannya dengan senang hati. Bukan, bukan melewatkan, melainkan menikmati detik demi detik hingga bertemu akhir. Bukankah proses memang yang lebih penting?
Sayang, malam sudah nyaris menjelma pagi ketika aku tetap terjaga di bawah tatapan, deru napas, dan suara gadget milikmu yang meramaikan. Katamu, kau tak ingin malam ini pergi meninggalkan. Apa kau puas dengan perempuan yang lebih sering kau sakiti ini? Akankah kau balik mencintai? Tidak, tak usah kau jawab. Pandangan tajammu pun lebih menyiratkan gejolak lelaki normal daripada cinta itu sendiri.
Hingga salakan binatang penguasa malam berganti kokok penyambut pagi pada akhirnya, aku harus menerima kenyataan kau harus meninggalkanku—lagi. Purnama sudah ditelan gumpalan awan, dan kau harus pulang. Entah purnama keberapa lagi kau akan datang. Entah berapa lembar kalender lagi yang harus kubalik, menunggumu bertandang. Entah berapa banyak lagi gunjingan diperuntukkan pada perempuan penanti jalang. Entah berapa tumpuk lagi rasa sakit yang kau ciptakan dari rindu sekuat karang. Entah seberapa banyak lagi doa yang kupanjatkan, agar purnama cepat datang. Untukmu, yang muncul hanya saat purnama menyerang.


Minggu, 23 Februari 2014

Paragraf-paragraf Untukmu, dan Untuk Kalian.

Terima kasih pada kebetulan yang telah membuatku jatuh ke dalam pelukanmu. Yang membuatku pada akhirnya berani membuka diri yang selama ini terkunci dalam satu hati, bukan kamu tentunya. Yang membuatku memasrahkan jiwa dan raga hanya pada sosokmu. Yang membuatku menjadikan objek terakhir dalam setiap kalimat di paragraf pertama ini dengan pokok yang sama, kamu.
Terima kasih pada waktu, yang telah menciptakan sesuatu berawal cinta berakhir benci, pun sebaliknya. Yang menciptakan tawa dan tangis berganti secepat kedipan mata. Yang menciptakan pelangi setelah kemarau panjang. Yang menciptakan badai setelahnya, juga secepat embusan angin kencang.
Terima kasih pada dirimu, yang telah mengenalkanku arti cinta sepenuhnya. Yang mengenalkan rasanya cinta menguasai, sementara awalnya tak ada arti. Yang mengenalkan perasaan bersalah dari mengkhianati. Yang mengenalkanku jatuh-bangun mengejar hati.
Terima kasih pada takdir, yang telah mengajarkan bagaimana seharusnya menerima kenyataan. Yang mengajarkan hati untuk menentukan pilihan. Yang mengajarkan untuk bersabar, atas segala peristiwa memilukan. Yang mengajarkan melihat segala sesuatunya bukan hanya dari apa yang bisa dilihat mata, namun juga perasaan.
Terima kasih pada kalian, yang telah menyeduh benci sedemikian rupa dari bumbu kasih. Yang membuatku terbiasa menikmati lengkung dari sudut bibir yang menyimpan sakit hati. Yang tak pernah mengerti, seseorang yang kau sebut-sebut sahabat ini. Yang tak berbeda dengan dirinya yang kalian caci, sama-sama menoreh luka perih.
Kamu, kalian, terima kasih.

Senin, 25 November 2013

My Perfect Morning

Gelas, Buku, dan Kecap
Sebuah bingkisan dari @kopdarfiksi Makassar bersama Bernard Batubara





Senyum Raina spontan menyambutku ketika lonceng di atas pintu Woody

Moody berdenting singkat kala kusingkap. Aku menghampirinya yang setia
berdiri di balik meja, lengkap dengan segaris senyum dan macbook di
pelukan.

"Segelas ice moccacino lagi?" sapa perempuan berseragam krem tersebut.

Kuanggukkan kepala satu kali. "Oh, iya. Ada sumbangan buku lagi hari ini?"

"Iya, bukan pasar malam-nya Pram. Harta karun yang kaucari selama
ini," jawab Raina seraya mengerling singkat ke rak mini di sudut
ruangan.

"Lalu..." Aku menaikkan sebelah alis, membiarkannya menebak ujung
kalimatku. Kalimat yang --aku tahu-- sudah bosan ia dengar setiap
hari, tepat jam tujuh pagi.

"Tunggu," Raina langsung menghilang ke balik pintu berbahan kayu di
belakangnya. "Ini, small pizza dengan kecap, sarapan ajaibmu. Sudah
kusiapkan sebelum kau datang."

"Kau memang yang terbaik. Andai ada lelaki sepertimu, pagiku pasti
akan lebih indah. Pusat hidupku bertambah."

"Bukankah kau bilang hanya butuh segelas moccacino dingin, buku, dan
pizza berkecap agar harimu bahagia?"

Aku kembali mengangguk, lebih semangat dari awal tadi. Kedua sudut
bibirku pun membentuk lengkung sempurna. "Yah, kau benar. Aku tak
butuh laki-laki ternyata."

Senin, 02 September 2013

Ingatan, bisakah kau dilumpuhkan?

Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentangnya
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Kuingin melupakannya  ♫♪

Akhir-akhir ini, banyak orang yang berkali-kali merapalkan lagu baru dari Geisha tersebut. Sembari berharap ada malaikat yang meng-aamiin-i kalimat-kalimat itu dan Allah swt. sudi mengabulkannya, mungkin.

Aku salah satu orang yang termasuk di dalamnya. Aku, yang berdoa sepenuh hati untuk melupakan sesuatu yang tak lagi harus diingat. Namun sayangnya, aku bukan tipe orang yang mudah melupakan. Sialnya lagi, batin yang mudah goyah ini selalu dengan bodohnya terus-menerus mengenang.

Seandainya melupakan semudah itu. Seandainya tak lagi mengingatmu seperti mengedipkan kedua mataku. Seandainya tak banyak kenangan yang tercipta. Seandainya tak banyak waktu yang tersita ketika aku dan kau masih menjadi kita. Seandainya waktu bisa berputar kembali. Seandainya ingatan dapat dilumpuhkan hanya dengan menyanyi.

Sampai detik ini pun, aku masih berharap ingatan ini bisa dilumpuhkan. Agar tak ada lagi air mata yang terbuang sia-sia. Jika kita mempertahankan sesuatu yang membuat kita tersakiti, tak usah menyalahkan keadaan. Karena hakikatnya, kita yang telah memilihnya, bukan? Lalu mengapa sampai sekarang masih ada perasaan tak ikhlas?

Jadi...

Pernahkah kau mencintai sedemikian rupa—kemudian disia-siakan?

Pernahkah kau telah memberikan segala yang kau punya sebisamu—lalu dicampakkan?

Pernahkah kau meyakini suatu hubungan, menumpahkan segala perasaanmu di dalamnya, mempertahankannya sekian lama, sekuat tenaga—dan akhirnya harus berhenti di tengah jalan?

Pernahkah kau menjauhi segala macam godaan atau sesuatu yang kau takuti akan menghancurkan hubungan tersebut, tapi malah dia yang melakukannya—dan kau tetap bersabar?

Pernahkah kau memiliki pasangan yang lebih mementingkan keegoisannya daripada hubungan kalian, daripada cintamu yang sudah sedemikian dalam padanya—dan kau tetap menantinya?

Pernahkah kau tetap dan akan menunggunya kembali, setia menangisi kepergiannya setiap saat—dan dia pun tetap tak menggubrismu?

Belum pernahkah? Tak usah sok-sok mengemis, bernyanyi sambil menangis meraung-raung ingin melumpuhkan ingatan, kalau begitu.


Selasa, 07 Mei 2013

Something New

Beberapa saat lalu aku dibuat terpaku pada beberapa foto teman yang dengan gamblangnya memamerkan kemesraan di dunia maya. Bukan, aku bukannya tak setuju –karena diriku sendiri pun hobi melakukannya–. Hanya saja, ada perasaan aneh yang menyusup di hatiku.
Seingatku, dulu mereka juga pernah memamerkan foto serupa di hampir semua media sosial tempatku memperluas koneksi. Namun dengan orang lain, bukan kekasihnya yang sekarang setia ia rangkul dan bertukar senyum lewat gambar saat ini. Membuatku terhenyak, merenung sejenak. Jika kemesraan saja bisa dengan mudahnya dipindahtangankan, apa perasaan cinta pun demikian?
Aku tak berniat menyalahkan siapapun atas fenomena tersebut. Karena aku tahu, perasaan tak bisa dikontrol, tak dapat ditentukan akan terpusat pada siapa. Salah satu bukti nyata, tak lain merupakan diriku sendiri.
Beberapa bulan lalu, hubunganku dengan seseorang yang sudah terjalin dua tahun lebih harus kandas hanya karena hal sepele. Yah, kejadian kecil malah bisa jadi pemicu paling kuat untuk berakhirnya sebuah hubungan :’)
Selang lima hari setelah kami berpisah, aku dengan mudahnya menerima kehadiran sosok lain. Sosok yang benar-benar baru dalam duniaku. Namun termasuk lama juga jika ditilik dari perkenalan kami di masa putih abu-abu dulu. Aku yang langsung saja menjawab, “Iya...” ketika ia memintaku berada di sisinya. Mengemban status sebagai kekasih barunya, walau harus dijalani tanpa sepengetahuan publik –mengingat diriku yang belum cukup seminggu berpisah dengan lelaki yang dua tahun lamanya memberiku hangat menenangkan itu.
Dia –lelaki baru tersebut– menawarkan banyak hal indah di awalnya. Tawaku tak pernah luntur setiap mendengar cerita maupun komentarnya. Ia menjanjikan banyak hal yang mampu membuatku melayang. Aku bahkan mengira kami benar-benar memiliki banyak kesamaan. Tapi apa daya... Tak cukup seminggu, aku pun –lagi-lagi– memilih untuk menikmati kesendirian.
Ia yang awalnya membanjiriku perhatian dan harapan, malah yang pertama kali berhenti mengacuhkan. Tak ada lagi pesan singkat yang mesra dan sarat gombalan menggelikan. Tak ada lagi nada dering yang khusus ku peruntukkan untuk panggilannya di handphone milikku. Yang muncul kemudian hanya sms di tengah malam, memberitahu bahwa sepanjang harinya dipenuhi kesibukan. Dan aku... Aku hanya mencoba pasrah dan menerima kenyataan. Sampai akhirnya aku kewalahan. Haus kasih sayang dan tentu saja perhatian. Sehingga kata ‘putus’ pun menjadi akhir dari segala perjalanan.
Kini, dengan bangga aku kembali memusatkan cintaku pada kekasih lama yang dua tahun lebih ini menemani hariku. Entah sampai kapan. Yang jelas hingga saat ini, masih dia yang terbaik. Dan semoga tidak ada dia-dia yang lain lagi. Aku sudah lelah.
Terakhir, semoga mereka yang memiliki ‘dia’ yang baru tak mengalami hal sepertiku. Karena segala sesuatu yang baru, tak selamanya lebih indah dari yang dulu :’)



Kamis, 04 April 2013

300 Kata tentang Melepaskan

Entah sudah kali keberapa aku membicarakan kata ‘melepaskan’ pada sekitar, terlebih diriku sendiri. Hanya satu kata dengan sepuluh huruf memang, namun hati-lah yang dapat benar-benar meraba maknanya. Karena kadang, aku pun masih buta dalam menafsir kata.

Kata yang menurutku paling akrab di telinga adalah melepaskan. Ia bersaudara dengan kehilangan, juga cukup dekat dengan mengenang. Yah, ketiganya sama-sama merupakan sahabat karibku di kehidupan.

Sayangnya, aku yang sudah hidup sekian puluh tahun ini terlalu ramah dalam membuang-buang waktu. Menghabiskan setiap detik dengan duduk di sudut rindu, menunggu, termangu, bertopang dagu. Entah merindukan apa, atau menunggu siapa. Aku pun tak tahu jawabannya.

Melepaskan itu sama saja halnya dengan mengatakan, “Aku baik-baik saja.”

Gampang memang, ketika ia meluncur bebas dari bibir ini. Namun saat meresapinya dengan perasaan, tak usah ditanya lagi. Aku sendiri, lebih memilih tak peka untuk cukup merasakan, apalagi hanya sekedar memikirkannya.

Sejak beberapa waktu lalu, aku sudah selalu mengatakan bahwa aku melepaskannya. Telah merelakan kepingan kisah menjadi sebuah kenangan. Memasukkannya dalam kotak besi, membuang kuncinya ke dasar samudera, lalu mengubur kotak itu berkilometer-kilometer jauhnya dari permukaan tanah. Berharap perasaan tersebut ikut terkubur di sana. Namun nyatanya? Tidak sama sekali.

Jika perasaan ‘melepaskan’ sama mudahnya dengan membiarkanmu tak lagi di sisi, pasti tak akan sesesak ini. Tak ada deraian air mata yang mengiringi kata perpisahan, apalagi berjuta-juta detik yang terhabiskan percuma hanya karena menyalahkan keadaan.

Hingga saat ini, ketika kau –mungkin– tak sengaja atau menyempatkan diri membaca tulisanku, mungkin kau akan tahu bahwa aku masih belum menerima peristiwa di masa lalu. Ketika kenyataan memaksa kita –aku dan dirimu, maksudnya– untuk saling melepaskan. Kata saling yang terakhir kali –ehem– kau dan diriku gunakan. Kecuali jika kau juga menjamah rindu seperti yang ku rasakan hingga sekarang.

Namun seberat-beratnya arti kata melepaskan untukku, ada satu lagi kata menyeramkan yang tak ku suka. 
Ia bernama... mengikhlaskan.