Selasa, 19 Maret 2013

Remember Me #5 - Nikah?

Bukannya cinta juga harus diperjuangkan?



“Sayang, kamu masih marah?” Haykal mengetuk pintu kamar Fanya untuk ke sekian kalinya. Sudah hampir jam sepuluh malam dan tunangannya itu belum juga keluar kamar sejak pertengkaran mereka tadi siang.
Tidak ada suara.
Tok! Tok! Tok! Ia mengetuk pintu dengan tulisan ‘Girls Only!’ tersebut sekali lagi. “Fanya... Udahan dong marahnya. Aku kan udah minta maaf daritadi. Aku cuma gak mau perasaan kamu ke dia muncul lagi. Apalagi kamu kan belum inget apa-apa tentang aku. Emang salah, ya? Aku sayang sama kamu. Jelas aja aku cemburu.”
Hening.
“Kalo kamu udah gak marah, aku ada di depan kamar kamu, kok. Gak bakal kemana-mana sampe kamu keluar dan maafin aku,” tutup Haykal. Ia lalu duduk bersandar pada dinding di samping pintu kamar Fanya. Meluruskan kedua kakinya sembari melanjutkan beberapa tugas yang harus ia selesaikan pada laptop di pangkuannya.
***
            Sudah jam setengah dua belas malam. Fanya melekatkan telinganya pada daun pintu. Mencoba mendengar suara dari luar kamarnya. Suara ketikan pada keyboard laptop dan krasak-krusuk sudah menghilang dari sana. Dia udah tidur kali, ya? tanyanya dalam hati.
Ia pun memberanikan membuka knop pintu secara perlahan. Takut menimbulkan bunyi dan membuat sosok yang dihindarinya itu muncul kembali. Rasa lapar yang menguasai sistem pencernaannya sudah tidak dapat ditahan lagi. Dan satu-satunya jalan keluar menuju dapur adalah melalui pintu ini.
Saat pintu kamar terbuka lebar, suasana gelap langsung menyambutnya. Sepertinya Haykal lupa menyalakan lampu ruang santai di depan kamar mereka berdua.
“Auw,” ringis Fanya pelan. Ia nyaris tersandung ketika kaki kanannya menendang sesuatu di samping pintu kamarnya.
Klik! Ia langsung menyalakan lampu dengan telunjuk kirinya. Kemudian menemukan sesosok laki-laki berkaus putih dan celana pendek abu-abu sedang duduk berselonjor sambil menunduk. Laptop sedang dalam mode sleep di atas pahanya, terlihat dari lampu merah yang masih berkedip-kedip di bagian bawah.
Fanya berjongkok di samping tubuh Haykal. Menyadari bahwa lelaki tersebut sedang tertidur pulas. Kelihatan damai dengan gerakan bahu dan suara nafasnya yang teratur. Pelan-pelan, ia menutup laptop Haykal. Menaruhnya di lantai, dan menarik kacamata yang masih melekat di atas hidung tunangannya. Menatap mata teduh yang sedang dalam posisi terpejam itu. Dengan hidung mancung, bibir tipis, dan beberapa bulu halus di bawah hidung dan dagunya. Ganteng... batinnya tanpa sadar.
“Eh, aku mikir apa, sih? Ck!” gumamnya sembari geleng-geleng kepala. Lalu buru-buru berdiri dan berniat melanjutkan rencananya ke dapur. Namun tiba-tiba...
Sret! Sebuah tangan meraih jemarinya. Kemudian menariknya sampai berbalik ke belakang, dan langsung jatuh ke atas pangkuan lelaki yang sedang duduk di samping kamarnya tersebut.
“Ih, lo apa-apaan, sih?” Fanya langsung memberontak. Tapi tidak berhasil. Jemari Haykal menggenggamnya dengan erat.
“Gak bakal aku lepasin sebelum kamu mau maafin aku,” balas Haykal. Ia sengaja memajukan wajahnya ke arah Fanya. Mengintimidasi lebih dekat.
“Gak mau! Lo itu egois! Gue gak mau punya tunangan kayak lo!” Gadis dengan piyama shincan tersebut masih berusaha mengenyahkan tangan lelaki itu darinya. Sekuat tenaga dan hasilnya tetap sama. Tenaga Haykal lebih kuat.
Never. Sebelum kamu maafin aku. Aku kan udah jelasin alasanku daritadi. Jangan bikin kata-kataku jadi sia-sia, deh.”
Fanya langsung manyun. Sebenarnya, ia masih sebal. Bagaimana tidak? Perasaannya pada Farhan sudah terkubur sejak dulu. Apalagi ia dan Farhan berpacaran sewaktu mereka berdua masih kelas 1 SMP. Itupun jadian dan putus dengan tidak jelas. Mungkin karena saat itu mereka masih sama-sama labil.
“Kok diem? Mau maafin gak, nih?” tanya Haykal. “Kalo gak mau, aku cium, loh. Mumpung Ayah sama Ibu belum pulang. Mau?” sambungnya. Lengkap dengan seringai nakal.
Mata Fanya kontan membulat. Oh, no!
“Diem berarti iya, kan?” Kali ini, Haykal mengedipkan matanya berulang-ulang.
“Eh, jangan macem-macem, ya! Lo mau gue teriak? Hah?” ancam gadis itu.
“Emang kamu tega tunangan kamu dikeroyok tetangga? Ntar kamu dikira punya tunangan yang mesum, loh...” balas Haykal. Ia terus memajukan wajahnya mendekati wajah Fanya.
“Bukannya lo emang mesum, ya?” Fanya mencibir sembari tetap berusaha menjauhkan dirinya dari jamahan tunangannya itu.
Haykal cengengesan.
Kruuuk...
Suara barusan menghentikan cengengesan lelaki tersebut. Matanya langsung menatap lekat ke arah Fanya. “Itu... tadi...”
“Suara perut gue. Gue laper banget, tau! Lo sih pake acara nahan-nahan segala!” sungut Fanya. Bibirnya semakin manyun. Ia memegangi perutnya sendiri.
“Ya ampun, kenapa gak bilang daritadi, sih? Sana, cepetan makan!” Haykal langsung melepaskan cekalan lembutnya pada pergelangan tangan Fanya.
Tidak mau membuang kesempatan, Fanya kontan berniat berdiri. Namun usahanya gagal gara-gara...
CUP!
Haykal kembali mendaratkan ciuman singkat yang bertahan hampir satu menit di atas bibir tipis miliknya. Tidak berkembang. Hanya saling menempelkan bibir satu sama lain. Tanpa lumatan apalagi hal lain yang dilakukan pasangan tunangan pada umumnya.
Fanya masih terdiam sampai Haykal benar-benar bersandar kembali pada dinding dibelakangnya. Lalu beranjak menuju dapur.
“Sayang, sekalian bikinin kopi bisa, gak? Aku mau begadang. Masih ada tugas dari kampus yang belum kelar,” pinta Haykal setengah berteriak. Ia juga ikut berdiri dan melangkah menuju dapur. Menyusul Fanya.
“Hm...” Gadis itu hanya berdehem membalasnya. Terlalu sibuk dengan wajan di depannya. Ia berniat memanaskan sayur kangkung tadi siang.
“Sekalian nemenin aku begadang, ya! Mau, kan?” Tiba-tiba, Haykal sudah memeluk pinggang Fanya dari belakang. Sembari membisiknya dengan kalimat tadi. Menciptakan sensasi geli yang luar biasa di telinganya.
Fanya hanya bisa mengangguk pelan dengan mata terpejam. Menahan desahannya sekuat tenaga.
“Ya udah. Kalo gitu, aku tunggu di atas ya, sayang...” Haykal melenggang setelah mengecup daun telinga tunangannya tersebut.
“Sialan!” rutuk Fanya kesal. Bisa-bisanya aku masuk perangkap dia. Huh! Dasar! lanjutnya dalam hati. Kemudian mencomot nugget di atas meja makan.
***
            Reff ‘Call Me Maybe’-nya Carley Rae Jepsen memecah keheningan pagi itu.
Fanya mencoba meraih benda yang seingatnya ia taruh di meja samping tempat tidurnya. Berhasil. “Halo, assalamu alaikum...” sapanya dengan suara serak. Efek baru bangun tidur.
“Fanya? Kamu dimana, Nak?” Suara Ibu terdengar.
“Masih di kamar, Bu. Baru bangun. Ibu ngapain nelfon Fanya pagi-pagi gini?” Ia melirik jam weker di atas meja. Masih jam setengah lima subuh.
“Perasaan Ibu nelfon Haykal, deh. Bukan kamu. Tapi kok kamu yang angkat telfonnya, ya?”
Alis Fanya sontak menyatu. Nelfon Haykal? Ini kan handphone... Haykal? Ia semakin bingung saat menyadari benda yang sedang digenggamnya adalah smartphone touch screen milik lelaki itu. Kok bisa ada di kamarku?
Ia cepat-cepat menoleh ke samping kanannya. Dan... benar saja. Haykal berada di sana. Tidur bersamanya. Dalam satu ranjang. Di dalam kamarnya. “HAYKAAAAAL! NGAPAIN KAMU DI SINI?” soraknya seraya memukul-mukul lengan kekar tunangannya.
“Hm...” Haykal malah ngulet. Belum berniat membuka matanya sedikitpun.
“Halo? Fanya? Kamu kenapa? Haykal kenapa? Kalian gak macem-macem, kan? Suara Ibu terdengar khawatir di seberang sana.
Fanya kontan gelagapan. “Anu, Bu... Ini... Haykal... Haykal lagi... Lagi... Lagi...” Ia berdecak kesal karena tidak bisa menemukan jawaban yang tepat dan tidak membuat Ibu kena serangan jantung mendadak.
“Siapa?” lirih Haykal, juga dengan suara yang serak. Ia mencoba meraih Fanya ke dalam pelukannya.
“Ibu nelfon. Dia nanya kenapa kamu bisa ada di kamarku. Aku jawab apa, nih?” bisik Fanya. Berusaha sekuat tenaga agar Ibu tidak mendengarnya.
Mata Haykal yang tadinya masih terpejam, langsung melotot maksimal. Ia buru-buru merebut handphone-nya dari genggaman Fanya. “Assalamu alaikum, Bu. Kenapa?” tanyanya saat benda itu sudah menempel di telinga. Mencoba terdengar sebiasa mungkin.
“Haykal, kamu udah bangun?” tanya Ibu.
“Iya, Bu. Ada apa, ya?”
“Ibu mau nanya. Kamu bisa ke rumah sakit sekarang, gak? Ayah mau minta bantuan kamu nanganin pasiennya. Bisa?”
Haykal melirik jam dinding berbentuk chasper di kamar Fanya. Sebentar lagi, adzan subuh akan berkumandang. “Bisa, Bu. Tapi aku mandi dulu. Abis sholat subuh aku ke sana.”
“Ya udah. Makasih yah, Nak. Assalamu alaikum.”
“Wa alaikum salam,” balas lelaki yang masih mengenakan pakaiannya dari semalam tersebut. Kemudian kembali meletakkan handphone miliknya ke atas meja.
Fanya menatap lelaki itu dengan mata berkilat marah. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. “Ngapain kamu di kamarku?”
Haykal menyingkap selimut yang masih membungkus sebagian tubuhnya. “Semalem kamu ketiduran pas nemenin aku begadang. Jadi aku gendong kamu ke kamar, deh. Karena aku juga capek banget, jadi aku udah gak bisa jalan ke kamar lagi. Mending tidur di sini. Sama kamu.” Ia mengerling nakal ke arah tunangannya.
“Kamu gak ngambil kesempatan, kan?” tembak Fanya.
Haykal memandangi Fanya sejenak. Tersenyum menggoda. Lalu menjawab, “Enggak, kok.”
Gadis itu sontak menghela nafas lega.
“Dikit aja,” sambung Haykal seraya berlari keluar kamar. Menghindari amukan Fanya.
Buk! Sebuah bantal melayang bebas dan sukses mengenai kepala lelaki itu sebelum ia menghilang dari balik pintu kamar.
“SIALAAAAN!” teriak Fanya meluapkan emosinya.
Sementara tawa puas Haykal terdengar membahana dari luar sana.
***
            Fanya memasuki lorong rumah sakit. Di sampingnya, Haykal berjalan dengan gagah. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya yang melangkah penuh rasa gamang. Sesekali, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Beberapa suster terlihat sibuk mondar-mandir bersama dokter, dan ada banyak keluarga pasien di sana-sini. Membuat suasana rumah sakit tersebut semakin ramai.
“Selamat siang, Dokter...” sapa sebuah suara yang bahkan sudah dihafal Fanya.
“Siang, Dokter Ita,” balas Haykal. Ia menjabat tangan dokter cantik itu dengan senyuman hangat.
Ada sesuatu yang berdesir aneh di dalam dada Fanya saat melihat keduanya. Entah apa. Namun ia tetap menjabat tangan halus milik Dokter Ita saat wanita itu mengulurkan tangan ke arahnya.
“Gimana, Nya? Siap menangani pasien rumah sakit ini?” tanya Dokter Ita. Senyum manis tidak pernah luntur dari wajah mulusnya.
Fanya melirik Haykal sesaat. Kemudian menemukan kembali semangatnya saat lelaki berjas putih tersebut memberinya senyum menenangkan. Sembari mengelus lembut puncak kepalanya. Ia pun langsung mengangguk ke arah kedua dokter di depannya.
Ia menoleh lagi ke sekitar. Sepertinya beberapa temannya yang juga menjalani KKN di rumah sakit Bunda ini sudah datang. Jadi tidah butuh waktu lama lagi untuknya merasakan tugas sebagai dokter yang sesungguhnya. Walaupun ia ingin menjadi dokter umum yang mengabdikan diri pada desa terpencil dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai pada orang-orang tidak mampu, namun rumah sakit ibu dan anak yang lumayan terkenal ini juga merupakan tempat pembelajaran yang tidak buruk pastinya.
“Kamu kenapa, sih?” bisik Haykal saat rombongan mereka memasuki bagian dalam rumah sakit. Ia sengaja berjalan paling belakang dengan Fanya. Agar mahasiswa yang lain tidak merasakan keganjilan pada hubungan mereka yang bertingkah hanya sebatas ‘dosen-mahasiswi’.
Fanya menggeleng. Ia memasukkan kedua tangannya pada saku jas dokter yang ia kenakan. “Aku cuma gak nyangka aja kalo udah KKN gini. Gak kerasa.”
“Kirain kamu beneran serius gak suka di rumah sakit ibu dan anak ini,” balas Haykal.
“Salah satunya sih itu. Aku gak terlalu suka suara anak-anak. Bikin sakit kepala,” Fanya mengerucutkan bibirnya. Apalagi saat melihat seorang anak kecil berlarian mengelilingi tubuh mungilnya dan tubuh menjulang milik Haykal sambil tertawa-tawa.
“Bukannya anak kecil lucu, ya?”
Baru saja ingin menjawab, semua mata di depannya kontan menoleh. Seakan memintanya untuk bergabung. Ia pun buru-buru berjalan dan masuk ke dalam kerumunan teman-temannya.
Haykal menatap punggung gadis itu sambil geleng-geleng kepala. Lalu berbelok di ujung koridor rumah sakit Bunda. Bertemu dengan kepala rumah sakit tersebut.
***
            Haykal duduk di sebelah brankar tempat Fanya berbaring sembari memijat kepala tunangannya itu dengan lembut. “Kamu ini kenapa, sih? Masa cuma gara-gara ngurusin anak kecil yang kena typus aja kamu sampe pingsan gitu?”
Fanya melirik lelaki itu, kesesal. “Bukan masalah penyakitnya, Kal. Dia tuh iseng banget. Gak berenti ngomong. Aku lagi serius mau meriksa dia, eh dianya malah gak berenti gerak. Pake acara narik-narik rambut aku, lagi. Kamu tau kan aku gak suka banget kalo rambutku berantakan? Apalagi sama anak kecil yang bandelnya naudzubillah gitu. Amit-amit deh aku punya anak kayak dia,” cerocosnya panjang-lebar. Diakhiri dengan mengetuk nakas di samping brankar tiga kali.
Haykal tertawa sekilas. Ia mengusap kepala Fanya penuh rasa sayang. “Dimana-mana, yang namanya anak kecil itu pasti aktif, sayang. Itu kan waktunya mereka mengeksplorasi bagian di dalam diri mereka. Aku juga pernah baca di salah satu artikel kesehatan, anak kecil yang cenderung aktif itu bisa jadi tanda-tanda bahwa anak itu sehat dan memiliki IQ di atas rata-rata. Keren, kan?”
“Cih!” Fanya mencibir sesaat. “Pokoknya, aku benci banget sama anak kecil yang nakal. Titik!”
“Anak kecil itu gak ada yang nakal, sayang. Mereka cuma aktif.” Haykal menegaskan.
“Apapun namanya. Aku gak suka!”
“Eh, gak boleh gitu. Kalo ntar kita udah nikah dan punya anak, gimana?”
“Aku bakal ngajarin mereka biar sopan sama orang yang lebih tua. Supaya mereka bisa kalem dan jaga sikap. Kayak Mamanya. Mereka gak boleh terlalu dimanjain,” jawab Fanya mantap.
Haykal mengernyitkan dahinya. “Mamanya kalem? Dari mana, coba? Cerewet gitu...”
“Enak aja! Aku kalem, tau!” Gadis yang sejak pagi tadi mengenakan kemeja motif tribal dan rok panjang coklat polos tersebut sontak mencubit lengan sang dokter muda yang ganteng itu.
Haykal langsung meringis menahan rasa sakit seraya mengelus-elus lengan kanannya yang memerah.
Sedangkan Fanya yang masih terbaring dengan wajah pucat dan selang infus di tangan kirinya malah tertawa puas.
Di depan pintu kamar rawat tersebut, sepasang mata mengawasi mereka berdua.
***
            Fanya keluar dari kamar rawatnya setelah menghabiskan satu kantung cairan infus. Ia menolak menjalani rawat inap karena hal tersebut sudah sering ia alami jika anemia menyerangnya, atau ketika ia mencoba mengingat kenangan masa lalunya bersama Haykal.
Saat ia dan Haykal berbelok di koridor utama rumah sakit Bunda, mata Fanya tanpa sengaja menangkap sesosok laki-laki yang sangat dikenalnya. Sedang duduk di dekat meja resepsionis bersama seorang perempuan cantik. Keduanya sama-sama mengenakan jas dokter. Farhan dan Dokter Ita.
Namun Fanya memilih tidak menggubris. Ia bahkan meneruskan langkahnya tanpa berniat memberi tahu Haykal bahwa Dokter Ita dan Farhan sedang berada di rumah sakit yang sama dan asik mengobrol.
Tiba-tiba, handphone Fanya berbunyi. Dering ‘Call Me Maybe’ yang khas miliknya. Tapi kini, sang tunangan juga ternyata menggunakan ringtone yang sama. Entah apa maksudnya.
***
            “Hari ini mereka kayaknya deket banget,” komentar Dokter Ita. Ia mengakhiri tawanya tepat saat Fanya dan Haykal menghilang di tikungan lobby utama rumah sakit Bunda.
Farhan mengikuti arah pandangan perempuan cantik tersebut.
“Jadi gimana tawaran saya? Tertarik?”
Lelaki itu mengembalikan perhatiannya pada Dokter Ita. “Gak tau deh, Dok. Saya gak tega sama Fanya. Saya kan maunya dia bahagia. Itu aja.”
“Yakin? Saya malah gak mau kamu menyesal nantinya. Bukannya cinta juga harus diperjuangkan?”
***
“Halo. Assalamu alaikum, Bu...” sapa Fanya setelah melirik nama Ibu di layar handphone-nya dan meletakkan benda tersebut ke telinga kirinya.
“Fanya, kamu lagi dimana, Nak?” tanya Ibu.
“Baru mau pulang dari rumah sakit. Ibu kenapa?” Gadis itu memasuki mobil saat Haykal membukakan pintu untuknya. Lalu menaruh tas miliknya ke jok belakang.
“Ibu sama Ayah lagi di rumah, nih. Kamu cepetan pulang, ya! Kami mau ngobrol sama kalian, sekalian makan malem.”
Dahi Fanya kontan berkerut. “Tumben banget, Bu. Mau ngomongin apa, sih?”
“Tentang kalian berdua. Udah, ah. Kalian ke rumah aja. Hati-hati di jalan, ya! Assalamu alaikum.”
“Wa alaikum salam.”
Tut-tut-tut... Sambungan terputus.
“Ibu kenapa?” tanya Haykal sambil menyetir. Membelah padatnya kota di jam pulang kantor seperti ini.
“Gak tau. Katanya sih mau ngobrol sama kita berdua,” jawab Fanya sambil memasukkan handphone ke dalam tasnya.
“Ada apa, ya?” Lelaki itu bertanya-tanya sendiri.
Fanya hanya mengendikkan bahu. Tanda tak tahu.
Hening sesaat menyelimuti suasana di dalam range rover sport dengan warna silver metalik tersebut. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Apa jangan-jangan, ini ada hubungannya sama yang tadi pagi, ya? Pas aku ngangkat telfon Ibu di hape kamu,” tebak Fanya kemudian. Ia langsung menatap lelaki di sebelahnya dengan lekat. Wajahnya berubah cemas.
“Tapi pas aku ngobrol sama Ibu tadi pagi, dia gak ngungkit masalah itu, kok. Waktu aku mampir ke rumah sakit Ayah sebelum ke rumah sakit Bunda juga dia gak nanya apa-apa,” balas Haykal. Berusaha tenang.
“Mungkin aja mereka lupa. Trus baru inget pas kamu pulang. Dan mereka mutusin pulang ke rumah dan ngomongin ini ke kita. Iya, kan?”
Haykal terdiam sejenak. “Gak tau, deh. Kalo kita udah sampe, mereka juga bakal cerita, kok.”
“Ih, kok kamu bisa tenang gitu, sih?” gemas Fanya. Ia sudah duduk menghadap tunangannya itu.
Haykal meliriknya sekilas. Lalu kembali berkonsentrasi pada jalanan di depan. “Apa yang mesti ditakutin, sih? Kita kan gak ngapa-ngapain.” Ia masih kalem. “Atau jangan-jangan... Kamu malah mau kita bikin yang macem-macem gitu yah, sayang?” sambungnya. Lampu lalu lintas yang berubah merah melancarkan aksesnya untuk menggoda tunangannya.
Fanya yang menangkap sinyal mesum dari Haykal, langsung menghempaskan tubuhnya ke ujung jok. Jika seseorang membuka pintu mobil sekarang, ia pasti sudah terjatuh. “Kamu... Mau apa? Jangan... Macem-macem, ya!” ancamnya terbata-bata.
“Satu macem aja kok, sayang...” Haykal semakin memajukan tubuhnya ke arah gadis itu. Sampai melewati tongkat porseneling.
Fanya membatu. Tak tahu harus berbuat apa. Ingin berteriak, lidahnya kelu. Ingin memberontak, tangannya beku. Ingin membalas, namun hatinya belum memperoleh rasa yakin. Akhirnya, ia hanya memilih memejamkan mata. Sembari berdoa di dalam hati agar pikiran-pikiran Haykal segera tergantikan dengan yang lebih suci.
Ia bahkan sudah menghafal aroma nafas mint dari lelaki itu saat menerpa wajahnya. Cukup menambah keyakinan bahwa wajah Haykal sudah semakin dekat. Ketika hidung mereka nyaris bersentuhan, tiba-tiba...
“Tiiiiiin! Tiiiiiiiin! Tiiiiiiiiiiiiiiiin!!!” Klakson kendaraan berseruan dari arah belakang mobil Haykal. Bahkan ada beberapa pengendara motor yang mengetuk-ngetuk jendela semi riben mobil ini.
Fanya sontak membuka keduanya. Kemudian menghela nafas lega saat menyadari Haykal sudah kembali pada posisi semula dan buru-buru melajukan mobilnya. Sebelum orang-orang itu melempari mereka.
“Makanya, gak usah ngambil kesempatan di tengah jalan kayak gini. Rasain, tuh!” ujar Fanya seraya memeletkan lidah pada tunangannya.
Haykal hanya mampu menggaruk tengkuknya sambil mesem-mesem menahan malu.
***
            Makan malam bersama beberapa menit yang lalu adalah makan malam paling mencekam yang pernah Fanya rasakan. Penuh keheningan. Hanya suara dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring dan kunyahan dari mulut mereka masing-masing yang terdengar. Ditutup oleh suara kerongkongan yang berusaha mencerna minuman yang tersedia.
Dan di sinilah ia sekarang. Ruang tengah rumahnya bersama Ayah, Ibu, juga Haykal. Kedua orangtuanya duduk di sofa yang menghadap pada sofa lain yang sekarang diduduki Fanya dan Haykal. Seakan siap melakukan sidang.
“Ehem,” Ayah berdehem. Tanda beliau akan memulai kalimatnya. “Apa kalian udah tau apa alasan Ayah sama Ibu ngajak kalian ngomong di rumah?” lanjutnya.
Fanya dan Haykal saling pandang. Lalu menggeleng bersamaan.
“Ayah tanya sama kamu dulu, Nak. Apa kamu udah inget tentang Haykal?” Ayah bertanya ke arah putri semata wayangnya.
Fanya menggeleng lagi. “Tapi beberapa hari yang lalu, aku sempat mimpi pas dia dateng dan sosialisasi kesehatan di sekolahku. Yah, kayak gitulah pokoknya.”
“Bener?” tanya Ibu.
Fanya mengangguk pelan.
“Sekarang, Ayah mau tanya sama Haykal. Gimana perasaan kamu ke Fanya? Kamu masih sayang sama dia, kan?” Ayah kembali bertanya.
“Iya, Ayah. Aku masih sayang sama Fanya. Dari dulu, sampai sekarang. Bahkan, rasa sayangku malah semakin besar,” jawab lelaki yang sudah berganti pakaian dengan kaus rumah dan celana pendek itu. Mantap.
Ayah mengangguk sekilas. “Oke. Jadi gimana menurut kalian kalo pernikahan kalian berdua dipercepat saja?” sambungnya seraya membetulkan letak kacamata di atas hidung mancungnya.
“WHAT?” Mata Fanya melotot maksimal.
Haykal ikut-ikutan melotot. Tubuhnya menegang.

Sabtu, 16 Maret 2013

Remember Me #4 - Cemburu

Jika cemburu tanda cinta, kenapa mesti sakit yang terasa?



“Kamu kenapa sih, Nya?” tanya Haykal saat mereka berdua sudah memasuki rumah.
Fanya yang berjalan terlebih dahulu memilih diam. Sama seperti aksinya dalam perjalanan dari kampus ke rumah Tyas, bahkan hingga tiba di rumahnya.
“Nya, jawab aku!” Haykal yang baru saja melepas jas dokternya langsung mencekal jemari tunangannya. Antara kesal dan gemas karena sudah tidak diacuhkan sedemikian rupa.
Gadis itu sontak menghentikan langkah. Kemudian menoleh dan menatap Haykal tepat di manik matanya. Dengan pandangan menghujam dan penuh amarah. “Gue? Kenapa? Lo ini peka gak, sih?” soraknya. Mencoba meluapkan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun sejak tadi.
“Emang aku kenapa?” Haykal balik bertanya.
“Lo bener-bener bego!” maki Fanya. Ia berusaha menyentakkan tangannya dari cekalan Haykal. Namun tidak berhasil.
“Jelasin aku dulu! Kamu sebenernya kenapa?” Laki-laki itu menuntun Fanya ke sofa di ruang tengah. Walaupun dengan paksa.
Fanya langsung duduk dengan pasrah. Wajah mungil miliknya masih ditekuk. Ia menghindari kontak mata dengan sang tunangan.
“Kalo kamu gak ngomong-ngomong juga, aku gak bakal ngelepas kamu,” ancam Haykal. “Biar kamu gak bisa bikin makalah ilmiah buat mata kuliahku besok. Dan aku bakal hukum kamu dengan sadis. Mau?” lanjutnya.
Berhasil. Fanya kontan menoleh dan menatapnya lagi. “Mau lo apa, sih?” balasnya. Masih dengan volume suara yang tinggi dan penekanan keras pada kata ‘lo’.
“Aku cuma tanya, kamu kenapa? Kok tiba-tiba jutek lagi? Bukannya kemaren udah akur, ya?” tanya laki-laki tersebut. Ia tetap menggenggam pergelangan tangan Fanya agar tunangannya itu tidak berniat melarikan diri. Namun sekarang lebih lembut. Mungkin ia juga takut melukai perempuan yang paling dicintainya setelah Ibunya tersebut.
“Gue malah pengen nanya sama lo, gimana caranya kita bisa pacaran? Sampe tunangan, lagi! Sementara lo bisa deket sama perempuan lain! Hah?” emosi Fanya.
Dahi Haykal berkerut untuk beberapa saat. Namun detik kemudian, ia langsung tertawa geli. Cekalannya pada gadis itu pun terlepas. Ia memilih memegangi perutnya sendiri dalam tawa. Sembari geleng-geleng kepala.
“Lo ngetawain gue? Setelah sok tebar pesona sama perempuan lain? Sok ganteng banget, sih!” gerutu Fanya sambil mendengus kesal.
“Cuma senyum kali, sayang... Apa salahnya, coba?” balas Haykal. Setelah tawanya reda. Walaupun masih menyisakan sedikit gelak di antara kalimatnya.
“Tau, ah!”
“Ih, kamu cemburu? Wohooo, tunanganku cemburu sama perempuan lain, nih ye... Peningkatan kamu drastis banget kayaknya,” Lelaki itu malah mengusap-usap puncak kepala Fanya penuh sayang. Lalu mencium keningnya.
“Lo apa-apaan! Hah? Abis tebar pesona sama perempuan-perempuan di kampus, lo malah seenaknya nyium gue, gitu? Lo pikir gue juga bakal terpesona sama lo? Idih, jangan harap! Lelaki macem lo tuh banyak! Gue nyari di Tanah Ab–”
CUP!
Fanya membatu.
Haykal tersenyum puas.
“ELO YAH BENER–”
“Apa? Kalo teriak-teriak, artinya mau lagi loh!” Haykal berusaha sekuat tenaga menyembunyikan seringainya.
Dan Fanya hanya bisa mendengus. Memalingkan wajahnya yang menyaingi kepiting rebus gara-gara dicium Haykal beberapa saat yang lalu. Ciuman singkat memang, namun cukup menghangatkan bibir tipis miliknya. Dan merubah detak jantungnya menjadi di atas normal. Hanya gara-gara gesekan bibir Haykal yang sangat memabukkan.
“Kok malah diem? Jangan-jangan malah pengen nambah, lagi!” goda lelaki itu lagi.
“Apaan sih lo!” sungut Fanya. Menyetel ekspresi pura-pura kesal. “Minggir! Gue mau ke kamar,” lanjutnya seraya berdiri dari sofa.
Namun baru berniat beranjak, tangan Fanya langsung dicekal oleh Haykal yang masih dalam posisi duduk. Membuatnya gadis itu kontan berbalik secara paksa. Karena tidak bisa menjaga keseimbangannya akibat ditarik secara paksa, ia malah terjatuh tepat ke dalam pelukan tunangannya.
Haykal merasa di atas angin. Lelaki itu segera melingkarkan tangannya di pinggang Fanya dengan erat. Seakan tak mau melepaskan. Dan memang sangat menikmati keadaan tersebut. Apalagi Ayah dan Ibu Fanya sedang sibuk di rumah sakit. Menciptakan akses untuknya dalam frekuensi yang lebih besar lagi.
Fanya benar-benar membeku sekarang. Ia ingin berteriak minta dilepaskan, tapi lidahnya seakan kelu. Ia ingin membuang pandangannya ke arah lain, tapi tatapan teduh Haykal seakan menguncinya. Ia ingin memberontak, namun aroma Haykal benar-benar membujuknya untuk tetap menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lama mereka bertatapan dalam diam. Seakan sama-sama menggali kenangan. Memunculkan rasa yang semakin membuncah. Meminta kembali diulang menjadi sejarah baru setelah sekian tahun tak ditengok.
“I love you,” lirih Haykal.
Fanya menghirup aroma mint dari nafas lelaki itu, kemudian bergeming lagi.
“Kok diem?” tanya lelaki tersebut. Ia masih setia memeluk pinggang gadis di depannya. Sesuatu yang dulu sering ia lakukan. Sekaligus hal yang paling ingin diulangnya. Duduk berdua, membiarkan Fanya di pangkuannya, sementara ia memeluk pinggang sang tunangan. Lalu gadis itu juga akan melingkarkan kedua tangan ke lehernya dan merebahkan kepala ke dadanya. Bahkan bisa tertidur di sana.
“Aku... Gak tau mau ngomong apa. I just... Don’t understand how to reply it,” jawab Fanya akhirnya.
“Ikutin aja apa yang hati kamu mau.” Haykal tersenyum di ujung kalimatnya. Senyum yang begitu menenangkan.
Hati Fanya berdesir aneh. Detak jantungnya? Tidak usah ditanya. Dalam waktu beberapa menit lagi, mungkin sudah keluar dari dada kirinya saking hebatnya menghentak-hentak.
“Jadi sekarang gimana? Just stay in silence like this?” pancing Haykal. Matanya mengerling nakal, sekaligus menggoda.
Tanpa sadar, kedua sudut bibir Fanya melengkung. Ia langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher lelaki yang sedang memangkunya saat ini. Kemudian merebahkan kepalanya pada dada bidang lelaki tersebut. “Gak tau kenapa, aku pengen begini aja. Kayaknya nyaman, deh. Kebetulan, aku juga lagi ngantuk,” ujarnya seraya menggerakkan tubuh dan kepalanya. Mencari posisi yang nyaman.
Entah bagaimana menggambarkannya, yang jelas Haykal merasa sangat bahagia. Perasaan yang terakhir kali dirasakannya saat mengetahui berita kepulangannya ke Indonesia dan akan mengajar di kelas Fanya.
“Kok diem? Aku boleh kan tidur di sini?” tanya Fanya. Gadis itu mengangkat dagu. Mencoba melihat wajah lelaki yang sedang memangkunya kini.
Haykal mengangguk mantap. Lalu mengelus kepala tunangannya tersebut. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya rindu saat-saat seperti ini. Yah, sesederhana itu.
***
            Fanya sedang mengunyah roti bakar selai coklat buatan Ibu dan susu coklat di depannya sambil membaca-baca diktat di atas meja makan. Mempelajari materi kuis yang akan diadakan Haykal hari ini.
Walaupun mereka sepasang tunangan, namun Haykal sangat menjunjung tinggi keprofesionalan seorang dosen. Begitupun Fanya, ia tidak mungkin mau mengemis pada dosennya tersebut untuk membocorkan soal padanya. Karena ia memang lebih suka menikmati nilai dari usahanya sendiri. Jika sudah mengetahui soal kuisnya terlebih dahulu, ia pasti kehilangan greget saat mengerjakan soal di kelas nanti. Ia tidak mau mendapatkan gelar cuma-cuma, apalagi harus menerapkan segala hasil mata kuliahnya selama ini ke rumah sakit tanpa modal apa-apa.
“Haykal, Fanya...” tegur Ayah. Menghentikan aktifitas keduanya.
Haykal yang sibuk memperbaiki letak dasinya pun langsung mengalihkan pandangan ke arah calon mertua yang duduk di ujung meja seorang diri.
“Mungkin untuk beberapa hari ke depan, Ayah sama Ibu bakal sibuk banget di rumah sakit. Kalian pasti tau kan bagaimana sibuknya orang-orang di sana?” lanjut Ayah. Ketika melihat kedua orang di sisi kirinya mengangguk, beliau kembali berujar, “Jadi mungkin kami bakal nginap di rumah sakit beberapa hari ini. Kalian berdua gak apa-apa kan kalo kami tinggal berdua di rumah?”
Fanya buru-buru meneguk susu coklat untuk membantu menelan roti yang masih di dalam mulutnya. “Loh, kok nginep di rumah sakit? Biasanya kan gak pernah kayak gitu!” protesnya cepat.
“Rumah kita sama rumah sakit tempat Ayah dan Ibu kerja kan jauh banget, sayang. Gimana kalo ada pasien yang harus mendadak dioperasi sama Ayah karena udah sekarat? Gimana kalo ada Ibu yang anaknya kebetulan punya masalah? Kan kasian kalo mereka harus nunggu lama sampe kami sampai di rumah sakit.” Ibu yang menjawab.
“Ayah juga udah kepikiran beli rumah yang dekat dari rumah sakit. Rumah ini nanti ditinggali sama kalian berdua aja kalo udah nikah,” sambung Ayah.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Fanya langsung tersedak.
Haykal buru-buru menyodorkannya air putih. Yang segera disambut oleh gadis itu. “Makannya hati-hati, dong.” Ia menepuk-nepuk punggung tunangannya tersebut. Berniat membantu meredakan rasa kaget sekaligus mengatasi sedak yang dialami Fanya.
Fanya mengangguk sekilas. Lalu menyingkirkan jemari kiri Haykal dari tubuhnya. “Ayah sama Ibu jangan macem-macem, deh. Mana mungkin aku mau tinggal serumah sama Haykal? Cuma berdua, lagi. Ntar apa kata tetangga? Mending aku nginep di rumahnya Tyas aja. Lebih aman.”
“Tetangga kita kan udah tau kalo kalian mau nikah. Udah, ah. Kamu di rumah aja. Malah lebih bagus kalo ada Haykal, ada yang ngejagain kamu. Jangan suka nyusahin orang lain, kasian Tyas.” Suara Ayah sarat akan ketegasan.
“Tapi, Yah–”
“Ayah sama Ibu mau ke rumah sakit dulu. Kamu sama Haykal juga buruan ke kampus. Ini udah jam berapa,” potong lelaki paruh baya tersebut. Seraya menyeka bibirnya dengan tisu, kemudian berdiri dan meninggalkan meja makan.
Di belakangnya, Ibu melangkah sambil berusaha menyembunyikan senyum.
“Wah, asik nih! Ntar malem enaknya ngapain, ya? Kita kan berduaan doang. Lumayan nih kalo tiba-tiba hujan, ada kamu yang bikin hangat. Eh, atau malah panas ya kalo kita berdua aja?” bisik Haykal tepat di telinga Fanya ketika Ayah dan Ibu sudah berada di teras depan.
Fanya sontak merinding saat merasakan geli karena helaan nafas hangat di telinganya. “Kamu jangan macem-macem, ya!” ancamnya. Ia langsung mencubit perut rata milik tunangannya. Kemudian berlari mengikuti orangtuanya sebelum Haykal kumat lagi.
Haykal meringis sesaat sambil mengelus perutnya. “Sayang, tas sama buku kamu masih di meja makan, nih!” soraknya kemudian.
Gadis berkemeja abu-abu polos dan rok panjang bermotif tribal tersebut sontak menoleh saat ia sudah berdiri di ambang pintu depan. “Kamu bawain aja. Aku tunggu di mobil, ya! Jangan lama-lama! Dosenku yang jam pertama ini rese’ soalnya.” Ia balas bersorak. Kemudian menghilang ke luar rumah.
Haykal geleng-geleng kepala sejenak. Menyadari bahwa ia adalah dosen yang akan mengajar di kelas Fanya pada jam pertama hari ini. Juga sapaan yang digunakannya tadi. Aku-kamu.
Semoga kamu cepet inget semuanya, Nya. Gak bakal ada kata capek buat bikin kamu inget semua tentang aku lagi. Dan semua tentang kita, tentunya... gumam Haykal dalam hati. Sembari berjalan menuju pintu dengan menenteng tas slempang dan diktat milik tunangannya.
***
            “Kamu suka lagu apa?” tanya Fanya sambil memilih-milih beberapa CD di dashboard mobil Haykal. Ia baru menyadari bahwa lelaki itu memiliki selera musik yang modern dibanding Ayah. Ada CD Secondhand Serenade, David Cook, Maroon 5, Ten 2 Five, Bruno Mars, dan beberapa album lagu jazz.
“Kok keliatannya kamu romantis banget, sih?” Gadis itu mencibir sejenak.
Haykal menoleh ke arahnya saat lampu lalu lintas berubah merah. “Itu semua kan CD favorit kamu. Punyaku cuma yang Secondhand Serenade doang. Itupun gak pernah aku putar lama-lama. Kamu gak terlalu suka soalnya.”
“Beneran?” Mata Fanya berbinar. Ia menyadari bahwa lagu dari penyanyi-penyanyi tersebut adalah kesukaannya. Namun ia pikir, Haykal juga seromantis dirinya. Ia lalu mengeluarkan sekeping CD Ten 2 Five. Kemudian memasukkannya ke dalam pemutar musik di dalam mobil lelaki itu. Lalu menekan tombol 5 di layar sentuh tersebut.
I thought this would be the end of my life
when you told me you're no longer in love with me
I thought the sun would never arise again
when you told me everything was over
            Deg! Haykal langsung shock saat mendengar Fanya menyenandungkan bait pertama lagu itu. Tidak dengan suara yang besar memang, namun cukup membuat jantungnya berdebar tak karuan.
            Ciiiiit!
“Auw!” ringis Fanya. Ia menggenggam seatbelt erat-erat. Jika saja tali pengaman tersebut tidak terpasang, mungkin dadanya sudah membentur dashboard. “Kamu ngapain sih ngerem mendadak gini? Aku kaget, tau!”
“Sorry,” lirih Haykal. Ia kembali menginjak pedal gas perlahan. Pikirannya buyar.
“Kamu kenapa, sih?” Gadis itu memiringkan tubuhnya ke arah lelaki yang duduk di sebelahnya. Penuh rasa penasaran.
Cause my world is full with you
And my world is full with you
Cause my world is full with you
And my world is full with you
            Hening sesaat. Ten 2 Five menghabiskan reff lagu ‘my world is full with you’ miliknya.
“Kamu suka lagu ini?” tanya Haykal akhirnya. Mereka kembali berhenti karena isyarat lampu lalu lintas. Sepertinya mitos bahwa jika kita bertemu dengan lampu merah satu kali, maka lampu lalu lintas selanjutnya juga akan merah itu benar.
Fanya mengembalikan posisi duduknya. “Iya, aku suka. Suka banget, malah.”
And even though we're not together once again
And I found emptiness living without you
It feels so hard to let you go
            “Emangnya kenapa?”Fanya kembali bertanya saat menyadari Haykal masih memilih diam.
“Karena aku cemburu,” balas lelaki yang pagi itu mengenakan kemeja biru muda dan celana katun biru tua. Tak lupa kacamata bening membingkai mata teduhnya.
“Cemburu... Buat?” Dahi Fanya sukses berkerut.
“Karena kamu bahkan gak ngelupain lagu favorit yang sering kamu putar di mobilku. Beda sama aku yang susah banget kamu inget.”
Deg! Fanya langsung bungkam.
***
            “Aku gak bisa disuruh nanganin bayi. Kepalaku suka sakit kalo denger mereka nangis,” keluh Fanya.
Haykal yang duduk di sebelahnya sontak mengerutkan dahi. “Kamu ini gimana, sih? Kan kamu yang pilih rumah sakit ibu dan anak ini. Kamu kan tau konsekuensinya gimana. Lagian, anggap aja itung-itung latihan buat jadi ibu.”
“Itu masih lama banget, Kal. Aku aja baru KKN. Belum lagi koas. Jauh banget mikirnya.”
Mereka berdua sedang berada di dalam ruangan Haykal. Ruangan yang ditempati oleh tiga orang dosen yang mengajar mata kuliah Trauma dan Kegawatan. Namun saat ini, ruangan tersebut kosong. Entah kemana dosen-dosen yang lain.
“Ehem...” Sebuah suara deheman muncul dari pintu masuk.
Fanya yang tadinya sibuk mencubit perut Haykal setelah melemparinya kertas pun kontan menghentikan aktifitasnya. Begitupun dengan lelaki dengan wajah menahan sakit tersebut.
“Maaf, Dokter Haykal. Ini, saya datang bersama mahasiswa yang akan menjadi asisten untuk menggantikan Dokter selama proses KKN nanti,” ujar Dokter Ita. Pagi ini ia tampil cantik dengan jas dokter dan long dress berwarna broken white.
“Oh, iya. Silakan masuk,” balas Haykal. Lelaki itu berdiri dari duduknya. Kemudian melangkah ke meja kerjanya yang terletak paling ujung.
Dokter Ita melangkah masuk. Ia tersenyum ke arah Fanya. Senyum manis yang tidak bisa digolongkan basa-basi. Selain cantik dan pintar, ia sepertinya juga sangat ramah dan tulus.
Fanya balas tersenyum. Agak kikuk.
Di belakang Dokter Ita, muncul sesosok lelaki dengan kemeja polos berwarna putih dan celana jeans ketat biru muda. Tangannya menggenggam beberapa map. Sebuah tas punggung memeluknya dari belakang.
“Selamat siang, Dok...” sapa lelaki itu sembari menyodorkan tangannya.
Haykal berdiri. Kemudian ikut menjabat tangan lelaki yang hampir setinggi dirinya itu dengan erat.
“Perkenalkan, saya–”
“Farhan?”
Semua mata langsung tertuju pada Fanya. Gadis yang baru saja memotong kalimat lelaki yang sedang berjabatan dengan tunangannya.
“Loh, Fanya? Hai, long time no see...” suara lelaki yang dipanggil Farhan itu. Senyum sumringah terbit di bibirnya yang cenderung penuh. Menambah kesan seksi.
Fanya balas tersenyum.
“Kalian kenal?” heran Dokter Ita.
“Dia siapa, sayang?”
Dan kini, semua mata beralih ke Haykal yang baru saja menyelesaikan kalimatnya. Lengkap dengan nada cemburu yang tidak bisa ditutup-tutupi. Hanya karena melihat senyum bahagia tunangannya saat menyebut nama pria lain di hadapannya.
Haykal langsung kikuk. Apalagi saat melihat Fanya yang melotot ke arahnya. Aduh, kok aku bisa lupa sih kalo gak ada pihak kampus yang tau soal hubunganku sama Fanya? Ck! rutuknya dalam hati.
“Maaf, Dok–”
“Harusnya saya yang minta maaf.” Haykal buru-buru memotong kalimat Dokter Ita. “Saya sama Fanya memang sepakat tidak mengumbar masalah pertunangan kami ke pihak kampus.”
“Tunangan?” Lelaki yang disebut Farhan dan Dokter Ita sontak berseru.
Haykal mengangguk.
Fanya memilih menunduk malu.
“Sejak kapan, Dok?” tanya Dokter Ita.
“Sejak dia masih kelas satu SMA,” jawab Haykal, tetap terlihat kalem. Senyum pun tak sirna dari wajahnya.
“SMA?” Kali ini, giliran Fanya yang shock.
Dokter Ita dan Farhan saling bertukar pandang. Lalu mengalihkan tatapannya ke arah Haykal. Menuntut penjelasan.
“Ceritanya panjang. Fanya amnesia dan dia cuma lupa sama saya.”
***
            “Aku suka sama dia. Dia lucu, suka senyum, ramah. Pokoknya aku suka semua tentang dia.” Fanya menatap ke satu titik di koridor kelas XII IPA. Sosok lelaki berkemeja putih dan celana kain hitam dengan id-card yang tergantung di lehernya.
“Kamu mah enak. Dia kan kenal deket sama keluarga kamu. Jadi kamu bisa curi start dari perempuan-perempuan lain di sekolah ini,” komentar Prita, sahabat semasa SMA Fanya. Perempuan tomboy dengan rambut kuncir kuda yang asal-asalan.
“Iya, sih. Tapi aku masih malu. Apalagi dia banyak penggemarnya. Aku kan gak secantik perempuan-perempuan yang selalu ada di deket dia,” balas Fanya sambil menopang dagunya dengan telapak tangan kanan. Ia sedang duduk di bangku yang terletak di taman kecil dekat lapangan basket.
Dari kejauhan, sosok lelaki beralmamater abu-abu tersebut menghampiri Fanya dan Prita. “Hai, Nya. Udah makan siang?” sapanya saat sudah berdiri di depan perempuan itu.
Fanya tergagap sejenak, lalu melirik Prita. Yang dilirik cuma mengendikkan bahu. Mau tidak mau, Fanya pun menggeleng.
Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya ke depan Fanya. “Temenin aku makan siang, yuk! Aku laper, tapi maunya cuma makan sama kamu.” Lalu tanpa persetujuan si empunya, ia langsung menarik jemari perempuan di hadapannya. Mengabaikan pandangan orang-orang di sekitar mereka. Baik teman murid SMA tersebut, maupun teman-temannya sesama mahasiswa yang sedang bersosialisasi di sekolah Fanya.
“Kak Haykal...” lirih Fanya. Ia melirik tangannya yang digandeng dan beberapa senior yang dilewatinya.
Lelaki yang dipanggil Haykal itu pun kontan menghentikan langkah. Kemudian menatap perempuan itu. Kedua alisnya menyatu.
“Gini, sebenernya, aku gak laper...”
“Oh, ya udah. Kamu minum aja. Sekalian temenin aku makan,” jawab Haykal sembari melanjutkan langkahnya.
“Tapi–”
“Kenapa? Kamu gak mau? Kamu tega ngebiarin aku makan sendiri di sini? Kamu takut diliat sama pacarmu, ya?” Haykal berhenti berjalan lagi.
Fanya sontak mengunci bibirnya rapat-rapat. Lalu menggeleng pelan. Ia menunduk. Menyembunyikan semburat merah pada wajahnya, sekaligus senyum tipis yang tersungging di bibir tipisnya karena bertatapan dengan Haykal.
“Ya udah. Yuk!” Lelaki yang mengenakan name tag dari kampusnya tersebut kembali menarik jemari mungil Fanya.
Perempuan itu menurut. Ia ikut berjalan di sebelah Haykal. Menikmati hangat genggaman lelaki itu. Menikmati rasa hangat yang menjalar di wajahnya. Serta menikmati aura hangat di dalam hatinya sendiri. Dalam balutan senyum lebar.
***
            Fanya membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat. Namun ia berusaha bangkit. Aku dimana, nih? batinnya. Namun beberapa foto di dalam ruangan tersebut menyadarkannya bahwa itu adalah kamarnya sendiri.
“Udah bangun?” tegur seseorang.
Ia kontan menoleh. Lalu mendapati lelaki yang baru saja muncul di dalam mimpinya sedang duduk di sana. Tepatnya, sedang duduk bersandar sambil menyelonjorkan kakinya di atas tempat tidur Fanya.
“Eh, ngapain kamu di sini?” seru gadis itu. Ia buru-buru mengecek tubuhnya. Masih mengenakan pakaian tadi pagi. Tidak ada yang kurang. Kecuali kaus kaki dan flat shoes. Juga peralatan kuliahnya.
“Loh, aku kan ngejagain kamu, sayang. Aku gak mau kamu bangun dan kaget karna udah ada di sini,” jawab Haykal, kalem.
“Emangnya kenapa aku bisa ada di sini? Bukannya tadi kita lagi ngobrol di kampus? Di ruangan kamu? Bareng Dokter Ita sama Farhan, kan?”
“Iya, tapi kamu tiba-tiba pingsan. Pasti kamu berusaha inget semuanya lagi, kan? Aku harus ngomong berapa kali, sih? Kamu ini gak usah inget yang macem-macem.” Haykal mencubiti hidung gadis itu. Gemas.
“Gimana aku gak berusaha nginget? Aku kaget banget waktu kamu bilang kita udah tunangan sejak aku SMA. Kok bisa secepat itu, sih? Kok aku bisa mau sama kamu? Emang aku gak pusing mikirin sekolah? Sampe harus nerima pertunangan secepat itu?”
“Jadi kamu mau aku ceritain, nih?” Haykal balik bertanya. Ia memperbaiki posisi duduknya menghadap Fanya.
Yang ditanya langsung mengangguk kuat-kuat. Seakan melupakan nyeri di kepalanya.
Haykal menghela nafas panjang. “Jadi gini, kita berdua itu ketemu di acara keluarga. Papa kamu sama Papa aku sahabat lama. Waktu itu aku udah kuliah kedokteran, sementara kamu masih kelas satu SMA. Ya udah. Akhirnya kita kenalan, deket, sampe akhirnya kamu mau tunangan sama aku pas aku harus berangkat ke Aussie dan ngelanjutin koas di sana.” Ia memulai ceritanya.
“Trus? Aku mau aja, gitu?” Dahi Fanya berkerut. Tidak percaya.
Haykal mengangguk.
“Emang aku suka sama kamu?”
Dahi lelaki itu berkerut. Lalu tertawa geli. “Kamu bahkan cemburuan banget kalo ngeliat ada perempuan yang ngelirik aku,” jawabnya. “Dan ternyata, cemburuan kamu masih kronis meskipun kamu amnesia. Buktinya, kamu masih ngambek pas aku ngobrol sama Dokter Ita.”
Fanya langsung mencibir. Lalu tiba-tiba, ia mengingat sepotong mimpinya tadi. Mimpi yang bersetting di SMA-nya dulu. Dan anehnya, ada Haykal di sana. “Kamu pernah ke sekolahku, gak? Pake almamater abu-abu, kemeja putih sama celana hitam, trus pake-pake name tag? Kayak sales, gitu?”
Haykal langsung menatap langit-langit kamar Fanya. Berusaha mengingat-ingat. “Oh, iya! Pas kamu masih kelas satu, kan?”
“Kayaknya, sih. Aku juga udah lupa.”
“Waktu itu aku lagi ada kunjungan.  Kalo gak salah dalam rangka Hari Anti Narkoba, sih. Jadi kampusku ngadain sosialisasi kesehatan tiga hari di sekolah kamu. Dan selama itu, aku sama kamu terus. Sampe kamu dikatain ganjen sama senior perempuan kamu. Padahal kan aku yang sering minta ditemenin kamu.”
Fanya manggut-manggut.
“Kok kamu tau kalo aku pernah ke sekolah kamu?” tanya Haykal.
Gadis yang tadinya ngobrol sambil berbaring itu langsung beringsut ke atas paha Haykal. Memilih lebih dekat dengan lelaki yang mengaku tunangannya itu. “Tadi aku mimpi. Kamu ke sekolahku, aku lagi ngobrol sama Prita, trus kamu tiba-tiba dateng dan ngajak makan siang di kantin. Gitulah pokoknya. Aku juga gak ngerti.”
“Serius?” Lelaki ber-polo shirt tersebut langsung mendekatkan tubuhnya pada Fanya.
“Iya. Ngapain aku bohong?”
“Kamu pernah mimpi kayak gitu juga gak sebelumnya?”
Fanya menggeleng pelan. “Baru sekali ini. Anehnya, aku ngerasa mimpi yang tadi itu nyata banget. Mungkin karna emang pernah kejadian?”
Haykal mengalihkan pandangannya pada jendela yang lumayan besar di sana. “Mungkin juga. Siapa tau ini salah satu tanda ingatan kamu udah mulai pulih.”
“Gitu, ya?” Mata Fanya berbinar cerah.
“Iya, insya Allah...” balas lelaki itu seraya menatap tunangannya. Ikut tersenyum penuh kebahagiaan. Lalu mengelus kepala gadis yang berbaring di atas pahanya itu.
***
            Fanya berjalan meninggalkan ruang administrasi fakultasnya. Surat-surat yang akan melancarkan proses KKN-nya sudah selesai. Kalau tidak ada halangan, minggu depan rektor kampusnya akan melepas para mahasiswa yang akan menjalani KKN, baik di kota ini, luar kota, sampai daerah terpencil. Ia sendiri mendapat tempat di salah satu rumah sakit ibu dan anak di kota ini.
“Fanya?” Sebuah suara muncul dari belakang.
Gadis ber-cardigan merah muda dan jeans hitam tersebut kontan menoleh. Senyumnya merekah saat menyadari siapa yang memanggilnya barusan. “Hai, Farhan!”
Farhan terlihat dewasa pagi itu. Sebenarnya, ia seumuran dengan Fanya. Namun karena ia sempat mengikuti program pertukaran pelajar saat SMA dulu, ia pun harus terlambat satu tahun di bawah Fanya. Makanya, saat gadis itu sudah sibuk dengan KKN, Farhan masih sibuk kuliah sekaligus menjadi asisten dosen karena kepintarannya yang di atas rata-rata.
“Lagi ngurus KKN, ya? Asik banget yang udah semester enam,” ucap lelaki berjas putih khas dokter tersebut. Ia duduk di bangku kayu depan ruang administrasi.
Fanya ikut duduk di sebelahnya. “Iya, nih. Ribet banget,” balasnya. “Kamu lagi ngapain? Gak ada kuliah?”
“Enggak. Cuma mau ketemu sama Dokter Haykal. Tapi kata Dokter Ita, dia lagi ngajar.”
Gadis itu manggut-manggut seraya membentuk bibirnya menyerupai huruf o.
“Gimana kabar kamu?” Farhan membuka pembicaraan setelah hening agak lama.
“Alhamdulillah, sehat. Kamu sendiri?” Ia balik bertanya.
“Kayak yang kamu liat,” balas lelaki berkaus hijau itu. “Aku denger, kamu abis kecelakaan, ya?”
Fanya mengangguk pelan. “Beberapa tahun yang lalu. Kecelakaan mobil sama nyokap.”
“Trus? Nyokap gak pa-pa, kan?”
“Gak pa-pa, sih. Cuma aku amnesia. Kamu pasti udah tau kan pas Dokter Haykal nyeritain itu di ruangannya kemaren?”
“Iya, aku denger. Aku pikir, amnesia itu cuma ada di sinetron sama novel doang.” Farhan tertawa di ujung kalimatnya.
“Sialan!” Gadis yang duduk di sampingnya langsung mencubit lengan lelaki itu. Lalu tertawa bersama.
Tiba-tiba...
“Ehem!”
Fanya dan Farhan kontan menoleh ke arah deheman yang lumayan besar di depan mereka.
“Eh, Dokter Haykal...” Farhan sontak berdiri.
Fanya hanya menatapnya dengan dahi berkerut.
“Kamu nyari saya? Ada apa?” tanya Haykal. Nada ketus sangat nampak dalam pertanyaannya. Ditambah dengan raut yang disetel tegas.
“Ini, Dok. Saya mau bertanya tentang mata kuliah yang akan saya isi di kelas Dokter,” jawab Farhan. Ia mengacungkan beberapa buku di tangannya.
“Ya sudah. Kita bicara di ruangan saya,” ujar Haykal. Kedua rahangnya tiba-tiba mengeras. “Kamu ngapain di sini?” lanjutnya. Ke arah Fanya.
“Abis ngurus surat-surat KKN-ku. Tapi aku udah mau pulang. Soalnya hari ini aku gak ada kuliah,” jawab Fanya. Ia berdiri di sebelah Farhan. Lalu menyelempangkan tas putih andalannya. Berniat meninggalkan kampus.
“Aku anter kamu pulang,” balas Haykal. “Kamu mau isi mata kuliah saya seharian ini, kan?” Kali ini, ia bertanya ke arah lelaki yang berdiri di sebelah tunangannya.
Mau tidak mau, Farhan hanya mengangguk. Kemudian mengikuti Haykal yang sudah berjalan mendahuluinya. Memasuki ruang jurusan.
Fanya hanya memandangi kedua lelaki itu dengan dahi berkerut. Lalu kembali duduk di depan ruang administrasi.
***
            “Kamu ngapain ngobrol sama Farhan?” tanya Haykal sambil duduk di meja makan. Siap-siap menyantap makan siang  buatan tunangannya sejak Ayah dan Ibu benar-benar sibuk di rumah sakit dan hampir tidak pernah pulang.
“Emangnya kenapa? Dia kan temen lamaku. Masa gak boleh ngobrol, sih?” balas Fanya sambil meletakkan piring berisi nugget ayam di atas meja. Kemudian langsung duduk di samping lelaki yang sudah berganti pakaian dengan celana pendek coklat dan kaus besar dengan tulisan ‘The Beatles’ di tengahnya.
“Dia kan mantan kamu,” ketus Haykal sembari mengansurkan piring kosongnya ke depan Fanya.
Fanya meraihnya. Lalu menyendokkan nasi ke atas piring putih polos tersebut. “Itu masa lalu, Kal. Lagian masih cinta anak SMP. Cinta monyet gak jelas.” Ia menambah sesendok sayur tumis kangkung dan beberapa potong nugget, juga mie goreng.
“Mantan yah tetep mantan. Cinta itu bisa muncul kapan saja, sayang. Mending kamu menghindar, deh. Aku gak mau kamu ngasih harapan lagi ke Farhan.” Lelaki itu mengambil kembali piringnya. Kemudian mulai memasukkan sesendok penuh nasi dan lauk ke dalam mulutnya. Antara lapar dan meluapkan emosi.
“Siapa yang ngasih harapan, sih? Ngaco!”
“Kamu, tuh.”
“Kamu kali yang ngasih harapan ke Dokter Ita!” Emosi Fanya mulai terpancing.
“Kok malah aku? Kita ini lagi bicarain kamu sama Farhan. Gak ada sangkut-pautnya ke orang lain. Apalagi Dokter Ita.”
“Apa bedanya? Kamu juga sering banget ngobrol sama Dokter Ita. Kok aku gak boleh? Egois banget, sih!” Gadis yang mengenakan terusan selutut bergambar shincan tersebut menunjuk-nunjuk Haykal dengan sendok di tangan kanannya. Saking emosi.
“Aku sama Dokter Ita kan ngomongin masalah kampus, masalah rumah sakit juga. Kamu sama Farhan apa? Palingan cuma hal-hal gak penting aja. Iya, kan?”
“Apa bedanya, coba? Sama aja judulnya ngobrol!”
“Aku sama Dokter Ita–”
“Alah, ngeles mulu! Bilang aja kalo kamu mau leluasa ngobrol sama Dokter Ita, tapi aku gak boleh berhubungan sama Farhan. Iya, kan? Itu kan mau kamu? Dasar egois!”
“Bukan gitu! Masalahnya, kalian itu pernah pacaran. Sedangkan aku sama Dokter Ita cuma temen sesama dokter. Gak lebih, Fanya!”
Deg! Wajah Fanya langsung tegang. Selama beberapa bulan kehadiran Haykal di kehidupannya, baru kali ini ia mendengar Haykal memanggil namanya dengan nada keras.
Haykal baru menyadari kesalahannya setelah melihat tunangannya tersebut berdiri dari duduknya. Berniat meninggalkan sepiring penuh makanan miliknya di atas meja. “Maksud aku... Hm... Kamu...” Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Gue heran, kok gue bisa-bisanya mau tunangan sama laki-laki tempramental kayak lo, ya? Cemburuan gak jelas, lagi. Kalo lo gak percaya sama gue, ya udah. Mending pertunangan ini gak usah dilanjutin!” tandas Fanya. Lalu melangkah –nyaris berlari– meninggalkan Haykal yang masih bergeming di meja makan.