Sabtu, 18 Oktober 2014

I called it love, and you?

Jika kabar hanya deretan huruf yang menyuratkan rindu, sesulit itukah memberiku?
Jika kabar hanya tulisan abstrak dalam kertas kusut, sesusah itukah agar tak membiarkanku kalut?
Jika kabar hanya berisi, “Aku baik-baik saja,” sesukar itukah untuk membuatku lega?
Jika kabar hanya sekadar tentang menunggu, apa selama ini hanya aku yang merindu?

Kebersamaan kita yang awet hanya kisaran angka tanpa kabar
Aku yang kelihatannya selalu bahagia hanya bersembunyi dari kehausanku akan kabar
Kebersamaan yang berakar saling percaya, pada akhirnya juga membutuhkan kabar
Aku masih percaya bahwa jika kau merasakan rindu yang sama, kau pasti memberi kabar

Nyatanya?
Kabar hanya tentang deretan huruf dan dan tulisan di layar ponselmu

Sementara bagiku, bagi kami—perempuan, kabar adalah segala sesuatu tentang cinta
Tentang bagaimana kau merasa rindu yang sama
Tentang bagaimana kadar cinta yang juga kaupunya
Tentang bagaimana kau pun tak mampu menumpuk rasa untuk berjumpa
Tentang bagaimana kau menghargai hubungan yang tak melulu mengenai bertukar telepati di kepala
Bukan semata tentang saling percaya.

Jika kabar adalah saling percaya tanpa kabar darimu, apakah status kauanggap sebagai rantai agar aku terus di sisimu?
Kalau iya, terima kasih, karena kini kau berhasil membuatku tak ke mana-mana.

Tapi, izinkan aku mengingatkanmu—yang entah sudah keberapa kali
Bila suatu saat aku letih, tak usah bertanya mengapa aku pergi
Jika tiba-tiba ada yang menghujani perhatian, jangan heran karena aku meladeni
Mungkin pada saat itu, suatu hari nanti, yang masih entah, aku pasti akan berhenti.

Selasa, 07 Oktober 2014

Untukmu. Iya, kamu.

Untuk diriku... sepuluh tahun mendatang,

Malam ini, aku ingin berbicara dan memastikan suatu hal yang akan terjadi nanti saat usiamu sudah tiga puluh satu tahun. Sudahkah kamu menikah? Dengannya-kah? Belum? Ah, kau pasti kepalang bahagia dengan kebebasan yang disajikan kesendirianmu. Menikahlah, Feb. Suami adalah pintu surga bagimu, menurut sebuah hadist yang pernah kubaca.

Jangan menutup surat ini kalau kau benci melihatku membahas pernikahan. Tidak, aku tidak akan membahasnya kalau kau belum menikah.

Atau kau sudah disanding olehnya? Jadi... bagaimana? Bahagia-kah? Aku tersenyum membayangkanmu membaca ini nanti, saat usiamu sudah tiga puluh satu tahun. Sepuluh tahun lalu, kau masih perempuan kecil yang hobi mengkhayal dan berbicara pada diri sendiri, ingat?

Malam ini, 7 Oktober 2014, aku ingin berbincang denganmu, kalau-kalau kau lupa tentang sesuatu yang seharusnya sudah kamu miliki saat usiamu sudah tiga puluh satu tahun; rumah idaman.

Saat kau masih dua puluh satu tahun, kau hobi mengoleksi gambar dari google, terutama yang berkaitan dengan interior. Sedang tiga hal yang harus ada di gambar-gambar tersebut; rak buku, lampu gantung, dan warna seafoam. Adakah suamimu (atau calon suami) tahu tentang itu? Tentang keinginanmu sepuluh tahun lalu?



Panggilkan aku lelaki itu, biar kuberitahu lebih detail. Bahwa kau yang masih berumur dua puluh satu tahun, memimpikan rumah yang luas namun sederhana. Bukan luas dalam arti mewah, tapi lapang.

Lapang dengan halaman depan untuk menanami bunga dan pohon rindang, sedangkan halaman belakang berumput hijau untuk anak-anakmu puas bermain, atau pesta kebun untuk keluarga.

Lapang dengan jendela besar di mana-mana agar kau dan keluarga bisa akrab dengan ramahnya cahaya matahari, demi mengurangi penggunaan listrik di hari yang terik.

Lapang dengan ruang tamu yang nyaman nan hangat. Dua set sofa berbahan kulit dengan warna karamel atau kayu manis, dinding putih, foto keluarga berukuran besar dengan senyum bahagia di dalamnya, bunga di sudut ruangan, dan bingkai demi bingkai berisi foto di atas meja mini yang memuat beberapa buku di sudut lainnya.

Ruang tengah berdinding putih yang dikelilingi mebel kayu berukir, memuat koleksi guci atau barang antik pecah belah (aku selalu percaya perempuan yang sudah menjadi istri dan ibu akan mengoleksi sesuatu seperti itu), dan peralatan elektronik lengkap—agar kau dan keluarga tak menghabiskan waktu di luar rumah.

Ruang keluarga di lantai atas, berlapis karpet berbulu warna karamel atau kayu manis dengan dinding seafoam, lampu gantung berbagai bentuk dengan cahaya remang, rak buku unik berbentuk abstrak yang memenuhi dinding, atap dari kaca dengan pemandangan langit bersih di siang hari dan terpaan kilau bintang di malamnya—agar kau dan keluarga nyaman untuk bertukar cerita dan menghabiskan waktu.

Kamar tidur? Untuk yang satu ini, kuserahkan pada keputusanmu dan suami. Kalian yang akan menempatinya, kan?

Oh, iya, satu lagi hal penting dari dirimu yang masih dua puluh satu tahun. Sudahkah kauberitahu suamimu bahwa kau memimpikan sebuah ruangan sendiri? Tak usah terlalu luas, cukup bercat putih, polos, seperti anak kecil yang hanya tahu bermain dan tertawa, dengan sebuah stopkontak dan sofa persegi agar tubuh mungilmu bisa melemaskan otot. Untukmu membaca, menulis—semoga dunia belum merebut dewasamu dari kehidupan yang kaucinta, menyesap kopi, mendengar musik laun kala kau butuh tenang, nada mengentak saat kau ingin berteriak mencurahkan penat di kepala, atau sekadar rintik hujan yang mengetuk jendela karena diabaikan dunia. Ah, surga, bukan?

Di dalam ruangan ‘me-time’ milikmu tersebut, harus ada satu dari empat bagian dinding yang kaupenuhi dengan foto-foto dari kamera polaroid—atau setidaknya berukuran seperti itu. Tempel wajah-wajah penuh tawa dan kenangan manis di sana; kau, suami, anak-anak, mama, sahabat, teman kerja, semua orang yang kau sayang. Kalau kau keasyikan menikmati dunia sendiri di dalam ruangan itu, cukup menoleh ke sisi dinding yang dibanjiri potret tersebut dan ingat: keluarlah, ada dunia di luar sana yang menunggumu kembali.



Malam ini, aku yang tengah dipenuhi gamang karena tugas akhir kuliah, hanya butuh berbicara denganmu yang akan menjadi diriku sepuluh tahun lagi. Kau yang paling mengerti, yang paling setia mendengarku, yang paling percaya membicarakan rahasia padaku, yang paling kuandalkan untuk kehidupan di masa depan.

Mimpi tentang rumah idaman yang baru saja kuingatkan padamu, jangan hanya hidup di kepala. Selamat malam, aku (pasti akan) mencintaimu, sepuluh tahun mendatang.

Senin, 29 September 2014

Surat Balasan Untukmu yang Ingin Kukenal.

Hai, Erd. Sudah lewat sebulan lebih sejak aku menemukan suratmu di kotak masuk surelku. Aku ingat kala itu aku masih anak ibu yang pemalu dan selalu berpikir panjang sebelum membalas pesanmu, hingga akhirnya berubah menjadi perempuan yang hobi mencekikmu secara virtual. Ya, hanya lewat kata, karena jarak memisah kita dalam sekian ribu kilometer di peta Indonesia—yang skalanya sudah diubah agar kita terlihat tak terlalu jauh pada kenyataannya.

Aku sudah lupa bagaimana awalnya kita saling tahu, berkenalan, sampai memutuskan berkirim surat seperti ini. Tapi... sudahlah. Mungkin memang ada beberapa hal yang tak usah terus diingat, cukup dinikmati adanya saat ini.

Oh, iya. Maaf karena suratmu kubiarkan begitu saja selama hampir dua bulan. Kamu tahu alasannya, kan?  Yang jelas bukan maksudku mengabaikan, namun banyak kegiatan yang menyita waktu dan pikiranku, yang kamu pun mungkin sudah bosan mendengar keluhanku di sela waktumu.

Erd, kamu masih ingat isi suratmu itu? Ada satu bagian di mana kamu menyebutku menyukai film horor. Aku adalah perempuan yang rajin menghidupkan halusinasi di kepala. Aku sering membayangkan tokoh-tokoh hantu atau psikopat di film-film itu hidup, lalu mendadak muncul di belakangku dan menggorok leherku, memutilasi, lalu membagikanku ke binatang peliharaan tetangga. Ya, begitulah isi kepalaku setiap selesai menonton film horor dan genre sejenis. Namun tetap saja aku menontonnya, walau harus menahan napas beberapa kali dan menerima risiko untuk susah tidur.

Berbincang mengenai film, aku paling suka science fiction. Yang terakhir kutonton adalah Lucy. Apa kamu sudah menontonnya juga? Aku bahkan rela meninggalkan kewajibanku untuk mengabdi pada masyarakat pedesaan demi ke kotaku dan menontonnya. Kalau belum, tontonlah, Erd. Konflik percintaannya memang kurang greget, tapi visualisasinya sanggup membuatmu berdecak kagum. Bagaimana seorang manusia bisa membaca pikiran, mengendalikan benda, bahkan tubuh orang lain, dan bisa melihat kejadian di masa depan. Sayang, endingnya tidak bahagia menurutku. Sepertinya, akhir yang bahagia memang hanya di dongeng Disney, ya?

Aku baru sampai di Makassar siang tadi, meninggalkan desa yang tak terlalu menyenangkan namun mampu membuatku tepekur sejak memasuki rumah karena kenangan yang tumpah-ruah di kepala. Desa itu tak pernah dikunjungi hujan sejak empat puluh dua hari lalu, Erd. Namun hatiku selalu dingin dengan sinis yang kutumpahkan pada sekitar. Tapi sekarang, aku sendu saat jauh. Pepatah, “kita baru menyadari sesuatu itu berharga saat ia sudah tiada” memang tidak pernah salah.

Sekian dulu surat dariku. Maaf karena aku juga banyak bicara, menulis lebih tepatnya.

Dari sahabat mayamu, di kota yang merindukan gerimis yang romantis.*


*balasan untuk seseorang yang mengirimiku surat ini.