Jumat, 12 Juni 2015

aku pernah menjadi kanak-kanak

Aku pernah menjadi kanak-kanak
Yang tawanya tumpah ruah dari cerek ibu di dalam rumah
Hingga akhirnya
Tawa yang tak bisa lagi ditampung cerek ibu di dalam rumah
akan meluapkan kesedihan tiada tara

Tangan mereka dibalut tanah basah
Kemerahan, lembab, persis pakaian seseorang yang lelah mencariku ke mana-mana
hingga berakhir menunggu di beranda
Sedang yang ditunggu asyik menyeka tubuh seseorang lain di berantah
Sementara tangan mereka yang dibalut tanah basah
belum jua puas walau disoraki ibu dari dalam rumah

Rambut mereka menempeli pelipis hingga pipi
Berkat rinai yang dicipta awan dari uap yang mendaki tertatih dari samudra
atau dari sungai
atau dari telaga
atau dari mataku
Entah

Aku pernah seperti mereka
Yang tawanya tumpah ruah dari cerek ibu di dalam rumah
Menjelma airmata yang datangnya entah dari mana
Mungkin dari samudra
Mungkin dari sungai
Mungkin dari telaga
Mungkin dari mataku
Mungkin dari peluh orang asing yang baru kutemui
atas nama birahi miliknya
atas nama ekonomi milikku
Mungkin dari mata ibu yang tertidur di  beranda
Entah.

Selasa, 19 Mei 2015

Jauh

Aku pernah menjadi penanti setia
Untuk dering singkat pencipta bahagia
Untuk kata demi kata pengundang tawa
Untuk satu-satunya suara yang mampu mengentak dada

Aku pernah memupuk harap
Pada seseorang yang kukagumi garis wajahnya
Pada seseorang yang namanya kuhafal di luar kepala
Pada seseorang yang senyum lebarnya sanggup membuatku kalap

Aku pernah percaya
Dengan kalimat yang ramah di mata, pun telinga
Dengan bahagia yang ditawarkan seseorang nun jauh di sana
Dengan kedatangan, meski masih berupa janji-janji semata

Aku pernah mengamini
Bahwa jarak hanya kisaran angka
Bahwa perbedaan waktu tak akan menjadi masalah
Bahwa segala sesuatu tentang jauh pasti bisa dilalui, asal kita bersama

Tanpa pernah mengerti
Yang kunanti
Yang kuharap
Yang kupercaya
Yang janji-janjinya kuamini
Tak pernah sekalipun bisa kujangkau sosoknya hingga kini


Sabtu, 16 Mei 2015

You Left Me

“Aku tak ke mana-mana
Melangkah menjauhimu
Bukan pergi namanya
Aku hanya beranjak ke arah yang berbeda,”
katamu kala itu

Katamu, aku harus percaya apapun yang kau ucap
Katamu, mimpi-mimpi ini pasti akan terbangun dari lelap
Katamu, janji-janji ini pasti akan terpenuhi
Katamu, kita masih akan menjadi orang yang sama nanti

Suatu saat dari hari ini
Aku kemudian mendapati diri masih memercayaimu
Beberapa tahun dari hari itu
Aku masih di sini, terlena oleh janji dan mimpi

Namun di suatu saat tersebut
Aku tak tahu; apa kau masih di sini
Atau hanya bualanmu yang setia menemani